Breaking News

Wabah Hepatitis Merebak di Kamp Rohingya, Para Pengungsi Cemas dan Ketakutan

Pengungsi Rohingya. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Para pengungsi Rohingya di kamp pengungsian tengah resah. Pasalnya, telah terjadi penyebaran hepatitis di tenda-tenda darurat pengungsi Rohingya di distrik Cox's Bazar, Bangladesh.

Akibat wabah hepatitis itu, kondisi di kamp pengungsian pun tak lagi kondusif. Semua cemas dan ketakutan.

Seorang pengungsi Rohingya, Mohammad Abdur Rahim mengatakan, penyebaran hepatitis dan penyakit terkait kulit lainnya disebabkan oleh kondisi kamp yang kumuh serta penuh sesak. 

"Kami sangat prihatin karena banyak dari kami menderita hepatitis dan penyakit terkait kulit lainnya, dan kami khawatir menyebarkan semua penyakit menular di kamp dengan cepat karena kondisi kehidupan di kamp yang penuh sesak,” ujar Abdur Rahim, melansir Anadolu Agency, Selasa (2/8/2022).

Seperlima dari pengungsi Rohingya usia dewasa yang tinggal di 34 kamp di Cox's Bazar, terinfeksi virus hepatitis C. Data ini ditemukan dalam sebuah penelitian oleh National Liver Foundation of Bangladesh (NLFB). 

Penelitian tersebut berjudul "Prevalensi Tinggi Infeksi Virus Hepatitis B dan C di antara Pengungsi Rohingya di Bangladesh: Kepedulian yang Tumbuh untuk Pengungsi dan Komunitas Tuan Rumah," yang diterbitkan pada Januari 2022 oleh sebuah jurnal dari Asosiasi Amerika untuk Studi Penyakit Hati. 

Asisten profesor di Pediatric Gastroenterology and Nutrition di Bangabandhu Sheikh Mujib Medical University,  Dr. Md. Atiar Rahman, mengatakan, hepatitis C terutama ditularkan melalui koitus yang tidak aman dan tes darah dari banyak orang dengan jarum suntik yang sama.

"Tidak mungkin mempertahankan aturan higienis dengan baik di kamp-kamp pengungsi Rohingya sepanjang waktu. Orang-orang bahkan tidak mengetahui penyakit ini, dan mereka tidak sepenuhnya menyadari penggunaan jarum suntik selama tes darah dan perawatan medis lainnya," kata Rahman.

Ia menambahkan, wanita mudah terinfeksi oleh suami. Sementara bayi yang baru lahir dapat bersentuhan dengan kuman melalui ibu yang terinfeksi. 

Maka itu, dirinya menyarankan, agar tes medis segera dilakukan dalam skala besar untuk memilah semua pasien yang terinfeksi. Menurut Rahmah, tes ini sangat penting untuk melindungi mereka.

"Karena pernikahan dini tanpa pemeriksaan kesehatan, pertumbuhan populasi yang cepat di lingkungan yang tidak higienis dengan fasilitas kesehatan yang terbatas, dan berbagi jarum suntik yang sama selama inokulasi, semuanya berkontribusi pada penyebaran penyakit di antara komunitas tanpa kewarganegaraan itu,” tegasnya.

Seorang guru di fasilitas belajar Rohingya di kamp pengungsian, Mohammad Ziaur Rahman, ​​juga menyebut, setelah mendengar laporan penyebaran hepatitis ini, para pengungsi melewati hari dengan ketegangan. 

"Sementara kami biasanya frustrasi dengan ketidakpastian repatriasi damai dengan hak kewarganegaraan dan jaminan keamanan, laporan yang mengkhawatirkan seperti itu telah meningkatkan penderitaan kami,” akunya.

Sementara itu, Kepala Koordinator Kesehatan di Komisaris Bantuan dan Pemulangan Pengungsi (RRRC), Dr. Abu Toha M.R.H.  Bhuiyan, mengatakan, pihaknya melakukan konseling di kamp-kamp pengungsian sehingga mereka yang telah terinfeksi hepatitis tidak bertemu orang lain secara acak. 

Ia menambahkan, pemerintah Bangladesh telah meminta semua lembaga bantuan dan penyedia layanan, termasuk Rumah Sakit Lapangan Turki untuk lebih aktif memerangi hepatitis di kalangan Rohingya. 

Bhuiyan mengatakan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan meluncurkan kampanye khusus untuk memberantas hepatitis di kamp-kamp. "Pemerintah Bangladesh telah menginstruksikan kami untuk menyaring berapa banyak pasien hepatitis yang tinggal di kamp Rohingya. Kami akan memulai survei berbasis kamp untuk mengidentifikasi semua pasien untuk memberi mereka perawatan," janjinya.

Dirinya mengakui, tidak mudah mengatasi penyakit hepatitis di lingkungan kamp yang padat. Otoritas kesehatan akan mulai melakukan pengujian setelah mendapatkan dana, karena biaya pengobatan penyakit ini cukup tinggi.  

"Kami berharap dapat bekerja sama dengan lembaga bantuan dan donor internasional, sehingga kami dapat segera memulai pengobatan untuk warga Rohingya yang terinfeksi dan mengambil tindakan pencegahan untuk mencegah penyebaran kuman,” tuntasnya. (tim redaksi)

#kamppengungsirohingya
#wargaetnisrohingya
#wargarohingyadibangladesh
#penularanhepatitisc
#kamppengungsi
#penyebaranpenyakit

Tidak ada komentar