Breaking News

Susahnya Beralih ke Gaya Hidup Minimalis, Intip Tips Berikut Ini untuk Starting

Ruangan minim perabot terasa lebih lapang. Foto: Ilustrasi/ Hipwee

WELFARE.id-Sadar atau tidak, kebanyakan orang terjebak pada pola hidup konsumtif. Pola hidup konsumtif cenderung mengutamakan keinginan daripada kebutuhan yang jika dilakukan terus-menerus akan menyebabkan pemborosan.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan memulai hidup minimalis ala orang Jepang. "Less is more", filosofi yang berasal dari ajaran Buddha, Zen ini mencontohkan seni hidup minimalis atau sederhana. 

Filosofi tersebut mengajari banyak hal baik, seperti yang tertuang dalam buku "Goodnye, Things - Hidup Minimalis ala Orang Jepang" karya Fumio Sasaki. Dalam buku tersebut, Fumio Sasaki berbagi pengalaman hidup minimalisnya dengan menampilkan foto huniannya lengkap dengan tips cara mengurangi barang yang ada. 

Terdapat foto kamar tidur, meja kerja, lemari, hingga kamar mandi dengan barang seperlunya. Untuk menjalani gaya hidup minimalis ala orang Jepang seperti yang tertuang dalam buku tersebut memang bukan perkara mudah. 

Namun, beberapa tips berikut bisa menjadi awal dari perubahan pola hidup konsumtif menjadi hidup minimalis:

1. Memilah barang

Hal ini bisa dimulai dari memilih prioritas antara barang yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan. Pisahkan barang-barang tersebut, kemudian barang yang tidak dibutuhkan bisa disumbangkan atau dijual. 

2. Yakinkan diri akan konsisten menerapkan lifestyle minimalis

Lalu, pastikan bahwa kita memang benar-benar ingin mengubah pola hidup, bukan hanya sekadar mengikuti tren. Hal ini penting karena kita harus membiasakan diri memakai barang yang bisa didaur ulang untuk meminimalisir pembelian barang baru atau merelakan pengeluaran untuk mereparasi benda.

3. Memilah pengeluaran berdasarkan prioritas

Jika sudah terbiasa dengan hal itu, maka proses mengubah gaya hidup ini akan terasa lebih mudah. Secara otomatis, kita akan mulai bisa memilah pengeluaran apa yang menjadi prioritas dan bukan prioritas.

4. Biasakan memasak

Begitu pula soal makanan, hidup minimalis bukan sekadar perihal barang, melainkan juga makanan. Biasakan untuk berbelanja dan mengolah makanan sendiri menjadi salah satu hal yang dapat mengurangi pengeluaran.

5. Membeli pakaian bukan karena mau, tapi karena butuh

Perlu diketahui, menjadi minimalis tentu akan melibatkan semua aspek di kehidupan, termasuk jumlah baju. Seperti halnya Fumio Sasaki yang hanya memiliki tiga potong kemeja.

Maka, kita harus siap melakukan proses "keep" atau "declutter" terhadap pakaian yang sudah ada saat ini. Sebab, mengikuti tren fashion tak akan pernah ada habisnya.

Tapi menjadi minimalis memang bukan perkara mudah. Apalagi, di zaman serba digital, yang tanpa keluar rumah orang bisa tetap belanja apapun.

Tantangan ini harus dipatahkan dulu, sebelum benar-benar masuk ke gaya hidup minimalis. Berikut adalah tantangan gaya hidup minimalis di era modern, dirangkum dari berbagai sumber:

1. Akses belanja yang mudah

Di era digitalisasi, masyarakat dimanjakan untuk melakukan sesuatu secara mudah, salah satunya adalah berbelanja. Belanja di zaman sekarang bisa dilakukan dimana saja, bahkan ketika istirahat di kamar sekalipun.

Hal inilah yang menjadikan masyarakat kita semakin “khilaf” untuk membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan.

2. Kemudahan akses pembayaran

Selain berbelanja masyarakat juga dimudahkan dalam melakukan pembayaran dari barang-barang yang dibeli. Semakin mudah saja untuk memiliki sesuatu, seakan supermarket ada di rumah sendiri.

3. Gengsi

Masyarakat Indonesia terkenal sebagai masyarakat konsumtif, suka membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan. Alasan tersebut salah satunya karena termakan oleh gengsi.

Sehingga merasa malu ketika tidak mempunyai barang yang sedang nge-tren. Jadi terasa seakan ketinggalan jaman.

4. Mempunyai gaji yang besar

Semakin besar pendapatan, semakin banyak pengeluaran. Parahnya, kebanyakan uang yang dikeluarkan bukan untuk barang-barang yang penting.

5. Terpengaruh oleh orang lain

Fenomena seorang “Public Figure” yang menjadi “Brand Ambassador” dari sebuah barang tentunya juga membuat masyarakat Indonesia semakin tertarik untuk memiliki sebuah barang walaupun tidak terlalu memerlukannya. Apalagi ketika “Public Figure” tersebut merupakan idola kita, tentunya kita akan langsung membeli barang untuk membuktikan bahwa kita adalah fans sejatinya.

6. Kepuasan batin

Bagi sebagian orang membeli sesuatu yang menarik mata dan hatinya bukan saja karena mereka memerlukan barang tersebut atau mungkin banyak uang. Tetapi lebih karena ada kepuasan dalam diri setelah mendapatkannya. 

Kadang uang memang bukan menjadi alasan utama untuk membeli sesuatu. (tim redaksi)

#gayahidupminimalis
#gayahiduporangjepang
#adaptasigayahiduporangjepang
#lifestyleminimalis
#tipsgayahidupminimalis
#tantangangayahidupminimalis

Tidak ada komentar