Breaking News

Stop Stigma Negatif, WHO Resmi Ganti Nama Monkeypox Jadi Clade

Penyakit cacar monyet yang kini berganti jadi Clade. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Badan Kesehatan Dunia (WHO) akhirnya resmi mengganti nama penyakit Monkeypox atau cacar monyet dengan istilah Clade disertai angka Romawi untuk membedakan varian virus. Pergantian nama tersebut dilakukan sejalan dengan diskriminasi yang banyak dialami monyet di beberapa negara.

Virus monkeypox pada awalnya dinamai seperti itu karena ditemukan pertama kali pada 1958 pada monyet yang sedang diteliti di salah satu laboratorium di Denmark. Sejak saat ini, nama monkeypox digunakan, hingga akhirnya kini nama tersebut dianggap sudah tidak relevan karena penularan virus tidak lagi akibat monyet.

"Penamaan virus yang baru diidentifikasi, penyakit terkait, maupun varian virus harus diberi nama dengan tujuan untuk menghindari pelanggaran terhadap kelompok budaya, sosial, nasional, regional, profesional, atau etnis dan meminimalkan dampak negatif pada perdagangan, perjalanan, pariwisata, dan kesejahteraan hewan," terang WHO dalam laman resmi mereka, dikutip Selasa (16/8/2022).

Penggantian nama semacam itu bukan hal baru. Dahulu, sebelum kita mengenal COVID-19, virus ini dinamai virus Wuhan. Merujuk lokasi awal ditemukannya virus corona jenis ini di Wuhan, Tiongkok.

Namun kemudian, untuk menghindari stigma negatif, WHO mengganti namanya menjadi COVID-19. Karena terjadi pada 2019 lalu.

Untuk mencapai kesepakatan ini, para ahli virologi cacar, biologi evolusioner, dan perwakilan lembaga penelitian dari seluruh dunia dilibatkan untuk meninjau filogeni dan nomenklatur varian yang sudah ditemukan ataupun baru diselidiki. 

Mereka membahas karakteristik dan evolusi varian virus monkeypox, perbedaan filogenetik dan klinis yang jelas, serta konsekuensi potensial bagi kesehatan masyarakat dan penelitian virologi, pun evolusi di masa depan.

Para ahli mencapai konsensus tentang nomenklatur baru untuk Clades virus yang sejalan dengan praktik terbaik. Mereka sepakat tentang bagaimana Clades virus harus dicatat dan diklasifikasikan di situs repositori urutan genom.  

"Konsensus dicapai untuk sekarang merujuk ke bekas Clades Congo Basin (Afrika Tengah) sebagai Clade I dan yang di Afrika Barat Clade II. Maka, disepakati juga bahwa Clade II terdiri dari dua subclade," terang WHO.

Struktur penamaan yang tepat akan diwakili oleh angka Romawi untuk Clade, dan karakter alfanumerik huruf kecil untuk subclade. Dengan demikian, konvensi penamaan baru terdiri dari Clade I, Clade IIa, dan Clade IIb yang mana nama terakhir mengacu pada varian yang kini tengah mewabah secara global.

Sebelumnya, dilaporkan di Brasil bahwa ada sekelompok masyarakat yang mendiskriminasi monyet hingga melakukan penyiksaan terhadap hewan tersebut setelah ditemukan kasus virus Clade di sana. Hal ini memicu WHO bertindak cepat dengan mengubah nama penyakit Monkeypox atau cacar monyet dengan istilah Clade virus. (tim redaksi)

#monkeypoxgantinama
#who
#cacarmonyet
#cladevirus
#virusclade
#menghindaristigma
#penyakitmenular

Tidak ada komentar