Breaking News

Setelah Lima Bulan, Ukraina Akhirnya Bisa Ekspor Lagi

Kapal membawa muatan jagung dari Ukraina bertolak ke Lebanon. Foto: anadolu agency

WELFARE.id-Kapal pertama yang membawa muatan jagung meninggalkan Ukraina dari pelabuhan Odesa pada pukul 05.30 waktu setempat pada Senin (1/8/2022). Ini menjadi ekspor perdana sejak Rusia memblokade jalur pengiriman dari pelabuhan Ukraina lima bulan lalu. 

Kementerian Pertahanan Turki mengatakan, Kapal Razoni berbendera Sierra Leone, yang membawa muatan jagung akan berlayar menuju ke Lebanon. Keberangkatan kapal pertama ini berlangsung setelah Rusia, Ukraina, Turki, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menandatangani perjanjian ekspor biji-bijian dan pupuk pada Juli. Kesepakatan itu bertujuan untuk memungkinkan perjalanan yang aman bagi pengiriman biji-bijian dari Chornomorsk, Odesa dan Pelabuhan Pivdennyi.   

"Disepakati untuk kapal kargo berbendera Sierra Leone bernama Razoni, yang membawa jagung untuk berangkat dari pelabuhan Odesa pada 08.30 pagi (05.30 GMT) pada 1 Agustus untuk pergi ke Lebanon,” kata pernyataan Kementerian Pertahanan Turki, dikutip Rabu (3/8/2022) 

"Pengerahan kapal lain direncanakan dalam lingkup koridor dan metode yang ditentukan sebagai bagian dari perjanjian 22 Juli," tambahnya. 

Pejabat kepresidenan Ukraina mengatakan ada 17 kapal yang berlabuh di pelabuhan Laut Hitam Ukraina dengan muatan hampir 600 ribu ton kargo. Dari total jumlah tersebut, 16 kapal membawa gandum Ukraina dengan total tonase sekitar 580 ribu ton.   

Pengiriman gandum dan biji-bijian Ukraina melalui laut telah terhenti sejak invasi Rusia pada Februari lalu. Hal ini memicu kenaikan harga global untuk biji-bijian, minyak goreng, bahan bakar dan pupuk. 

Moskow telah membantah bertanggung jawab atas krisis pangan. Mereka justru menyalahkan sanksi Barat karena memperlambat ekspor. Rusia juga menyalahkan Ukraina karena memasang ranjau di area pelabuhannya. 

Sebuah pusat koordinasi didirikan di Istanbul untuk mengawasi kapal-kapal yang berangkat dari Ukraina. Pusat koordinasi itu juga memeriksa kapal-kapal yang masuk sebagai bagian dari perjanjian.  Delegasi PBB, Rusia, Ukraina dan Turki bekerja di pusat koordinasi tersebut. 

Rusia dan Ukraina adalah pemasok gandum global utama. Perjanjian bertujuan untuk meredakan krisis pangan dan mengurangi kenaikan harga biji-bijian global.   

Kapal tersebut dijadwalkan tiba di pelabuhan Istanbul, Turki, Selasa (2/8/2022) malam waktu setempat. Setibanya di Istanbul, pejabat Rusia, Ukraina, Turki, dan PBB akan memeriksa kapal tersebut. Pemeriksaan itu diatur dalam kesepakatan pembentukan koridor gandum yang diteken Rusia dan Ukraina pada 22 Juli lalu di bawah pengawasan PBB serta Turki. Jika tak ditemukan masalah dalam proses pengecekan, kapal akan melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir, yakni pelabuhan Tripoli di Lebanon. 

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengungkapkan, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dijadwalkan menggelar pembicaraan via telepon pada Jumat (5/8/2022) mendatang. Salah satu isu yang akan mereka bahas adalah tentang koridor gandum yang baru dibentuk. 

Menurut Peskov, Putin dan Erdogan bakal membahas seberapa efektif kesepakatan tersebut. Kesepakatan koridor gandum harus diperbarui setelah 120 hari berjalan. Seorang pejabat senior Turki mengungkapkan, Ankara mengharapkan kira-kira satu kapal gandum meninggalkan pelabuhan Ukraina setiap harinya selama perjanjian lintas aman berlaku. (tim redaksi) 

#ukraina
#ukrainakembaliekspor
#eksporukraina
#gandumukraina
#konflikukrainadanrusia
#eksporlebanon

Tidak ada komentar