Breaking News

Pola Asuh Anak Jangan Terpengaruh Lingkungan, Salah-Salah Bisa Parental Bornout

Pola pengasuhan anak. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Mendidik anak adalah pekerjaan paling sulit untuk orang tua. Pola asuh berkembang mengikuti perkembangan zaman.

Hal itu wajar dan baik saja. Namun, psikolog dari Universitas Indonesia Putu Andani mengingatkan orang tua, agar tidak terpengaruh oleh tuntutan orang-orang di lingkungan sekitar mengenai tumbuh kembang si buah hati.

Orang tua adalah yang paling mengetahui kondisi psikis dan kebutuhan anak. Jadi, pola asuh anak tidak bisa sama antaranak yang satu dengan yang lain.

Bahkan, kepada dua anak kandung sekalipun. Setiap anak memiliki kondisi dan tantangan yang berbeda.

"Biasanya, tuntutan itu bisa jadi kita internalisasi karena kita pikir itu standar yang harus dipenuhi. Padahal, jadi ibu itu tidak Key Performance Index (KPI)-nya tidak segampang itu. Banyak faktor yang tidak bisa kita kontrol," ujar Putu dalam sebuah seminar parenting di Jakarta, dikutip Senin (29/8/2022).

Misalnya, anak harus seperti ini-itu, dia harus bisa ini-itu. "Tapi kenyataannya anaknya delay speech, misalnya, atau disleksia. Oke, standarnya harus berprestasi, tapi kalau anaknya disleksia gimana?" ucapnya sembari balik bertanya.

Maka itu, mengasuh buat hati tak bisa digeneralisasikan. Jika terlalu banyak mengikuti "standart" masyarakat mengenai tumbuh kembang anak, orang tua akan stres. Jika stresnya berlangsung terus-menerus, maka kondisi tersebut akan berubah menjadi parental burnout.

"Kemudian jika burnout-nya tidak ditangani, maka akan berkembang jadi depresi. Enggak ada bunda yang paling juara, semuanya sama. Semua orang punya kondisi berbeda dan banyak faktor yang enggak bisa dikontrol. Tinggal kita yang harus manage ekspektasi kita," imbuh psikolog yang merupakan Co-Founder TigaGenerasi itu.

Saat mengasuh anak, lanjutnya, yang paling penting dilakukan adalah memberikan cinta dengan sepenuh hati. Cinta orang tua pada anak dapat disampaikan dengan berbagai bahasa cinta seperti pujian, pelukan, hingga waktu.

"Yang si kecil butuhkan pada umumnya adalah mereka butuh dipahami, butuh dilihat, butuh didengar. Itu kan basic needs kita sebagai manusia. Yang dewasa aja butuh, apalagi anak-anak," tekannya.

Jika cinta dari orang tua tidak terpenuhi, dia mengatakan, anak akan cenderung mencari cara agar dirinya merasa diakui oleh lingkungan sekitarnya. Tak jarang, dia juga menjadi anak yang kerap melakukan masalah.

"Misalnya anaknya caper, ada masalah di sekolah, dan sebagainya. Ya dia pikir aku lagi ngerasa enggak didengar nih. Ya sudah deh banting sesuatu supaya dilihat. Itu cara mereka, karena regulasi emosi anak kan belum matang," bebernya.

Selain itu, lanjut Putu, penting juga bagi orang tua untuk memastikan bahwa kebutuhan terpenuhi, baik kebutuhan anak maupun orang tuanya. Sayangnya, menurut dia, orang tua kadang melupakan hal ini karena banyaknya tuntutan dari lingkungan sekitarnya.

"Dari kita mau start jadi bunda aja, saat hamil, dari lingkungan itu pesannya jangan ini, jangan itu, harus ini harus itu. Jadi kita harus mengorbankan diri kita," paparnya lagi.

Baginya, stress release itu penting banget. Bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk keluarga. "Saat kita release, ke anak juga akan lebih santai, lebih rileks, dan lebih happy," yakinnya. (tim redaksi)

#parenting
#polaasuhanak
#mengikutizaman
#berikancinta
#stressrelease
#parentalburnout

Tidak ada komentar