Breaking News

Pertama Didunia, Seorang Pria Italia Terkena Cacar Monyet, HIV dan COVID-19 Bersamaan

Ilustrasi (net) 

WELFARE.id-Seorang pria di Italia menjadi pasien pertama di dunia yang terkena cacar monyet, COVID-19, dan juga HIV dalam waktu yang bersamaan. Pria ini tertular ketiga infeksi tersebut setelah melakukan perjalanan ke Spanyol selama lima hari. 

Menurut laporan tim peneliti dari University of Catania, pria berusia 36 tahun tersebut menghabiskan waktu di Spanyol pada 16-20 Juni 2022. Selama kurun waktu tersebut, pria itu mengakui bahwa dia melakukan hubungan seksual tanpa pengaman dengan sesama pria. 

Tak lama setelah kembali dari Spanyol, pria ini mulai mengalami beberapa gejala. Gejala tersebut antara lain demam, sakit tenggorokan, lelah, sakit kepala, dan peradangan di selangkangan. 

Berdasarkan laporan dalam Journal of Infection, pria tersebut terdiagnosis positif COVID-19 pada 2 Juli 2021 atau tiga hari setelah gejala muncul. Di hari yang sama, pria tersebut mulai mengalami gejala ruam pada lengan kirinya. 

Kemunculan gejala ruam tersebut lalu diikuti dengan kemunculan lenting-lenting kecil yang terasa sakit di kulit. Kemudian mulai melebar ke bagian badan, tungkai bawah, wajah, serta bokong. Beberapa hari setelahnya, lepuhan mulai muncul di badan pria tersebut. 

Pada 5 Juli 2022, pria tersebut dibawa ke instalasi gawat darurat di San Marco University Hospital, di Catania, Italia. Selanjutnya, pria tersebut ditempatkan di Unit Penyakit Menular. Di unit itulah, sang pria baru diketahui positif terkena cacar monyet. 

Dokter lalu melakukan skrining pemeriksaan beberapa infeksi menular seksual pada pria tersebut. Hasil skrining menunjukkan bahwa sang pria positif HIV-1. "Melihat angka CD4 (tes darah untuk melihat kondisi sistem imun) pria ini, kita bisa berasumsi bahwa infeksi (HIV) tersebut relatif baru," ungkap tim peneliti, seperti dilansir The Sun, dikutip Minggu (28/8/2022). 

Sepekan setelahnya, yaitu pada 11 Juli 2022, pria itu dinyatakan pulih dari cacar monyet dan COVID-19. Pria tersebut diperbolehkan pulang ke rumah. Saat itu, kondisi ruam dan lepuh di kulit pria itu sudah sembuh dan hanya meninggalkan bekas luka. 

"Kasus ini menyoroti bagaimana gejala cacar monyet bisa tumpang tindih, dan (kasus ini) memperkuat bagaimana dalam kasus koinfeksi, pengumpulan data anamnesis dan kebiasaan seksual pasien sangat penting untuk menegakkan diagnosis yang benar," ungkap tim peneliti. 

Tim peneliti mengatakan, tes swab orofaringeal sang pria masih menunjukkan hasil positif setelah 20 hari. Hal ini menunjukkan bahwa sang pasien masih bisa menularkan penyakit beberapa hari setelah mencapai remisi secara klinis. 

"Mengingat ini merupakan satu-satunya kasus koinfeksi virus monkeypox, SARS-CoV-2, dan HIV yang terlaporkan, masih belum ada cukup bukti yang menunjang bahwa kombinasi infeksi ini dapat memperburuk kondisi pasien," ujar tim peneliti. 

Menurut tim peneliti, sang pria juga sempat menjalani tes HIV pada September 2021. Akan tetapi, tes kala itu menunjukkan hasil negatif. 

Kasus koinfeksi lain 

Data terbaru menunjukkan bahwa ada lebih dari 40 ribu kasus cacar monyet yang telah terkonfirmasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa kasus tersebut ditemukan di 94 negara. 

Meluasnya kasus cacar monyet di tengah pandemi COVID-19 membuat kasus koinfeksi kedua penyakit ini mungkin terjadi. Bulan lalu misalnya, seorang pria asal California, Mitcho Thompson, terkena cacar monyet dan COVID-19 sekaligus. 

Thompson mengatakan gejala cacar monyet mulai muncul tak lama setelah dia terdiagnosis positif COVID-19. Gejala yang muncul adalah kemunculan lesi merah di tubuh, kaki, lengan, punggung, dan leher. 

Seiring waktu, Thompson merasa sangat sakit. Dia bahkan tak mampu bangun dari tempat tidurnya atau sekedar minum segelas air. Thompson mengatakan dia melalui pekan yang sangat menyiksa akibat kedua penyakit tersebut. 

"Bukan hal yang mustahil untuk (koinfeksi cacar monyet dan Covid-19) terjadi. Itu benar-benar nasib yang buruk. Keduanya adalah virus yang sangat berbeda," jelas profesor di bidang ilmu kedokteran dari Stanford University, Dr Dean Winslow. (tim redaksi) 

#priaitalia
#covid19
#monkeypox
#cacarmonyet
#hiv
#lgbt

Tidak ada komentar