Breaking News

Perlambatan Ekonomi, Jerman Diambang Resesi

Ilustrasi (Foto: dw) 

WELFARE id-Sebuah riset terbaru menunjukan iklim bisnis di Jerman memburuk secara signifikan pada Juli. Dalam sebuah rilis yang dikeluarkan Institut Ifo dari riset yang dilakukan terhadap 9 ribu perusahaan, barometer kepercayaan turun menjadi 88,6 poin pada Juli. Ini lebih rendah dari bulan lalu yang berada di angka 92,2 poin. 

Menurut Ifo, ini merupakan angka terendah sejak Juni 2020 dimana bulan itu menandai dimulainya pandemi virus corona yang cukup besar di negara itu. "Angka-angka pesimistis menunjukkan bahwa Jerman berada di puncak resesi. Suasana di antara bisnis telah mendingin secara signifikan sementara harga energi yang lebih tinggi dan ancaman kekurangan gas membebani ekonomi," kata presiden Ifo, Clemens Fuest, dikutip dari AFP, Kamis (4/8/2022). 

"Penurunan sangat tajam di sektor manufaktur, di mana pesimisme mengenai bulan-bulan mendatang mencapai level tertinggi sejak April 2020," tambahnya. 

Sebagai negara dengan kapasitas ekonomi terbesar di Eropa, melambatnya denyut ekonomi Jerman dikhawatirkan menimbulkan masalah di seluruh Benua Biru. Dilansir dari CNN, Rabu (3/8/2022), perlambatan ekonomi Jerman terlihat dari penjualan ritel Jerman merosot 8,8 persen pada bulan Juni secara tahunan. Hal itu berdasarkan data awal dari Kantor Statistik Federal Jerman yang dirilis Senin kemarin. 

Hal ini menjadi penurunan terbesar sejak tahun 1994 yang menandakan ekonomi Jerman berada di masa yang sangat suram. 

Melonjaknya inflasi telah membatasi daya beli masyarakat. Pekan lalu data resmi menunjukkan negara itu mengalami stagnasi pada kuartal kedua. Ekonomi Jerman tak bertumbuh selama 3 bulan kedua tahun 2022. Sementara itu, ekonomi Uni Eropa tumbuh secara tak terduga 4 persen pada kuartal kedua. 

Perlambatan di Jerman, yang dianggap punya kekuatan sebagai jantung manufaktur Eropa dapat menyeret satu benua ke arah perlambatan. Pasalnya, selama ini Jerman menyumbang sekitar seperempat dari produk domestik bruto untuk benua Eropa. 

Sementara itu krisis energi mengancam denyut ekonomi Jerman makin melambat. Negeri Rhein itu menghadapi krisis energi pasca perang Rusia Ukraina. Bukan tidak mungkin akan membawa negara itu ke dalam resesi. 

Kebuntuan masalah energi yang sedang berlangsung antara Eropa dan Rusia menandakan ancaman resesi masih sangat mungkin terjadi. Jerman sangat rentan saat ini. Negara itu telah lama mengandalkan impor gas alam dari Rusia untuk 'memompa' jantung industrinya. Seperti diketahui, ekonomi Jerman tumbuh dari industri dan manufakturnya. 

Pemutusan tiba-tiba pasokan gas dari Rusia diyakini sangat berpengaruh bagi Jerman. Bahkan, bisa menghilangkan USD226 miliar dari ekonominya selama dua tahun ke depan. Ancaman pasokan gas menghilang bukan cuma gertakan semata, kemungkinan itu sangat nyata. Buktinya, Rusia telah mematikan keran ke beberapa negara Eropa dan perusahaan energi dalam beberapa bulan terakhir. 

Sementara itu, pemerintah Jerman saat ini tengah berjibaku untuk memangkas impor gasnya dari Rusia menjadi 35 persen dari 55 persen. 

Sementara itu, analis dari institusi perbankan ING, Carsten Brzeski mengatakan, selain krisis energi, terdapat juga gangguan dari segi rantai pasok dan melemahnya permintaan global. "Angin sakral yang kuat dan data yang lemah berarti ekonomi Jerman bisa melihat kontraksi sudah di kuartal kedua," kata Brzeski. 

Brzeki menambahkan ancaman pelemahan ekonomi ini akan memburuk menjelang musim dingin. Pasalnya, Jerman sangat menggantungkan kebutuhan energinya pada Rusia sementara saat ini Berlin masih menyatakan sikap menentang aksi Moskow dalam serangannya ke Ukraina. 

Menurutnya, akan ada potensi pemotongan aliran bahan energi sebagai balasan Negeri Beruang Putih terhadap sikap politik Jerman yang menentang Moskow dan mendukung Kiev. "Ke depan, ada lebih banyak risiko penurunan daripada risiko kenaikan. Eskalasi lebih lanjut dalam krisis energi akan tetap menjadi risiko utama bagi ekonomi memasuki musim dingin," tambahnya. (tim redaksi) 

#jerman
#jermanterancamresesi
#perlambatanekonomijerman
#krisisenergijerma
#krisiseropa

Tidak ada komentar