Breaking News

Neraca Dagang Indonesia Surplus, BPS Minta Pemerintah Waspada Ketegangan Geopolitik

Ilustrasi (dok pelindo) 

WELFARE.id-Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus USD4,23 miliar secara bulanan (month to month/mtm) pada Juli 2022. Realisasi itu lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya USD5,15 miliar.

"Jadi kalau tren belakang neraca dagang Indonesia surplus selama 27 bulan berturut-turut sejak Mei 2020," papar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Setianto dalam konferensi pers, Senin (15/8/2022). 

Secara total, akumulasi surplus neraca dagang Indonesia mencapai USD29,17 miliar pada Januari-Juli 2022. Setianto mengatakan surplus neraca perdagangan terjadi karena nilai ekspor mencapai USD25,57 miliar atau turun 2,2 persen dari bulan sebelumnya yang sebesar USD26,15 miliar. Sementara nilai impor cuma USD21,35 miliar atau naik 1,64 persen dari posisi sebelumnya yang sebesar USD21 miliar. 

Berdasarkan negaranya, surplus dagang terjadi dari Amerika Serikat mencapai USD1.644 miliar. Lalu diikuti dari India dan Filipina, masing-masing USD1.622 miliar dan USD1.087 miliar. Sementara Indonesia defisit dagang dari Tiongkok sebesar USD914,5 juta, Australia USD523,8 juta, dan Thailand USD318,6 juta. 

Ekspor 

Secara rinci, kinerja ekspor ditopang oleh ekspor minyak dan gas (migas) mencapai USD1,38 miliar atau turun 11,24 persen dari bulan sebelumnya yang sebesar USD1,55 miliar. Begitu juga dengan ekspor nonmigas terlihat turun 1,64 persen dari USD24,6 miliar menjadi USD24,2 miliar. 

Berdasarkan sektor, ekspor migas turun 11,24 persen menjadi USD1,38 miliar, pertanian, kehutanan, dan perikanan naik 4,27 persen menjadi USD380 juta, industri pengolahan turun 4,45 persen menjadi USD17,44 miliar, serta pertambangan naik 6,61 persen menjadi USD6,37 miliar. "Sektor migas dan pengolahan turun, tapi pertanian dan pertambangan lain masih mengalami kenaikan kalau dilihat secara bulanan," tukasnya. 

Berdasarkan kode HS, peningkatan ekspor terjadi di komoditas bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan, pulp dari kayu, bijih logam, terak, dan abu, serta bahan kimia anorganik. Di sisi lain, ekspor beberapa komoditas turun, seperti alas kaki, kapal, perahu, nikel, timah, besi, dan baja. 

Berdasarkan negara tujuan, ekspor nonmigas meningkat ke Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Polandia, dan Spanyol. Namun, ekspor terlihat turun ke lima negara, yakni India, Mesir, Vietnam, Turki, dan Singapura. 

Sejauh ini, Tiongkok masih mendominasi pasar ekspor RI senilai USD5,03 miliar. Lalu, ekspor ke Amerika Serikat (AS) sebesar USD2,51 miliar, India USD2,26 miliar, Jepang USD2,14 miliar, dan Malaysia USD1,24 miliar. "Ekspor di ASEAN sebesar USD4,68 miliar atau pangsa pasarnya 19,36 persen. Ekspor ke Uni Eropa nilainya USD1,88 miliar atau pangsa pasarnya 7,78 persen," tuturnya. 

Impor 

Dari sisi impor, impor migas mencapai USD4,46 miliar atau naik 21,3 persen dari bulan sebelumnya yang sebesar USD3,67 miliar. Sebaliknya, impor non migas turun 2,53 persen dari USD17,33 miliar menjadi USD16,89 miliar. 

Berdasarkan jenis barang, impor konsumsi turun 2,88 persen menjadi USD1,65 miliar, bahan baku atau penolong naik 2,9 persen menjadi USD16,7 miliar, dan barang modal turun 2,56 persen menjadi USD3 miliar. 

Berdasarkan kode HS, kenaikan impor berasal dari komoditas logam mulia dan perhiasan, mesin dan perlengkapan elektrik, pupuk, gula dan kembang gula, dan serelia. Sementara, impor beberapa komoditas turun, seperti biji dan buah mengandung minyak, garam, belerang, batu, dan semen, kapal, perahu, bahan bakar mineral, mesin, serta peralatan mekanis. 

Berdasarkan negara asal, impor meningkat dari AS, Singapura, Afrika Selatan, Thailand, dan Jepang. Namun, impor dari lima negara lainnya tampak turun signifikan, yakni Argentina, Malaysia, Kazakhstan, Rusia, dan Tiongkok. 

Pangsa impor Indonesia utamanya didominasi oleh China mencapai USD5,94 miliar atau setara 35,17 persen dari total impor Indonesia. Kemudian, diikuti oleh Jepang USD1,5 miliar dan Thailand USD950 juta. 

Secara total, nilai impor mencapai USD137,53 miliar pada Januari-Juli 2022. Nilainya tumbuh 29,38 persen dari periode yang sama tahun lalu, yakni USD106,3 miliar.  

Pada kesempatan tersebut, ia menyampaikan, Indonesia perlu mewaspadai ketegangan geopolitik Tiongkok dan Taiwan yang tengah terjadi karena dapat mempengaruhi sektor perdagangan. "Perkembangan ini perlu kita waspadai karena Tiongkok dan Taiwan juga penting dalam perdagangan internasional Indonesia," tukasnya. 

Setianto menyampaikan Tiongkok merupakan mitra dagang strategis Indonesia, dengan kontribusi terhadap ekspor maupun impor, di atas 20 persen dari total ekspor dan impor RI. 

Di sisi lain, ekspor Indonesia ke Taiwan juga cenderung mengalami peningkatan seperti tercatat dalam pendataan BPS. "Terkait dengan Tiongkok dan Taiwan, kita ketahui bahwa Tiongkok dan Taiwan adalah eksportir utama untuk komponen elektronik dunia," katanya. 

Adapun Tiongkok merupakan eksportir untuk komoditas sirkuit elektronik terpadu atau integrated circuits terbesar kedua di dunia dan eksportir komputer terbesar utama di dunia, termasuk office machine parts. 

Sementara Taiwan, merupakan eksportir integrated circuits terbesar pertama di dunia dan eksportir office machine parts terbesar keempat di dunia. "Jadi, terkait dengan catatan geopolitik ini, Tiongkok dan Taiwan menjadi sangat strategis bagi perdagangan internasional indonesia," pungkasnya. (tim redaksi) 

#bps
#neracaperdagangan
#ekspor
#impor
#neracadagangindonesiasurplus
#geopolitik
#ketegangantiongkoktaiwan

Tidak ada komentar