Breaking News

Kuasa Hukum Kembali Ungkap Kemungkinan Dugaan Penyiksaan Brigadir J, Sebelum Akhirnya Dibunuh FS

Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J dan ibunda. Foto: Istimewa/ Facebook Rohani Simanjuntak

WELFARE.id-Fakta baru tentang peristiwa yang terjadi pada hari kematian Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J diungkap ke publik. 

Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto mengungkapkan, sebelum peristiwa penembakan, Brigadir J berada di pekarangan rumah dinas Irjen Ferdy Sambo di Kompleks Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan. 

Berdasarkan keterangan saksi kejadian, Yoshua sempat dipanggil ke dalam rumah oleh Ferdy Sambo. "Semua saksi kejadian menyatakan Brigadir Yoshua, almarhum, tidak berada di dalam rumah, tapi di taman pekarangan depan rumah," kata Agus kepada wartawan, dikutip Sabtu (13/8/2022).

"Almarhum J masuk saat dipanggil ke dalam oleh FS," tambahnya. Dalam kasus ini, Bareskrim Polri telah menetapkan empat orang sebagai tersangka. 

Mereka adalah Bahrada Richard Eliezer atau Bharada E, Irjen Ferdy Sambo, Bripka Ricky Rizal, dan Kuat Maruf. Keempat tersangka itu dijerat dengan Pasal 340 subsider Pasal 338 Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Jo Pasal 56 KUHP terkait dugaan pembunuhan berencana.

Terbaru, Polri baru saja menghentikan penyidikan terkait dugaan pelecehan seksual oleh Yoshua terhadap istri Sambo, Putri Candrawathi. Hal itu lantaran tidak ditemukan peristiwa pidana tersebut. 

Sementara itu, kuasa hukum keluarga Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak mengungkap dugaan penyiksaan yang terjadi sebelum akhirnya ia ditembak di rumah dinas atasannya, Irjen Ferdy Sambo. 

"Ada informasi masuk ke saya, sebelum masuk ke Duren Tiga ini dibawa dulu ke Paminal Mabes Polri. (Siapa?) Almarhum ini (Brigadir J)," ujar Kamaruddin dikutip dari tayangan Hotroom MetroTV, dikutip Sabtu (13/8/2022).

Kamaruddin meminta kamera pengawas (CCTV) di Mabes Polri untuk segera diperiksa. Pasalnya, di sanalah lokasi yang diduga sebagai tempat penyiksaan.

"Periksa (CCTV) segera jangan sampai dicopotin semua kan gitu. Karena dugaan penyiksaan-penyiksaan itu dilakukan di sana," imbuh dia.

Ia menduga, tujuan Brigadir J dibawa ke kantor Pengamanan Internal (Paminal) Mabes Polri adalah untuk disiksa agar mendapatkan pengakuan. "Jadi dia disiksa untuk mendapatkan pengakuan. Sampai semua membuka handphone-nya. Itu makanya handphone-nya itu sejak 16.25 itu masih read, sejak itu sudah dimatikan semua," jelasnya.

Bahkan, Kamaruddin juga mengungkap pengaduan soal adanya alat-alat yang diduga untuk penyiksaan-penyiksaan, seperti untuk mematahkan jari-jari di sana. Hal itu, klaim dia, juga dialami oleh polisi-polisi lain yang mengadu kepadanya.

Merespons dugaan penyiksaan terhadap Brigadir J, Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo menyebut tidak ada keterangan saksi yang mengarah ke sana. Hal tersebut diungkap berdasarkan hasil keterangan para saksi yang sudah dimintai keterangan, termasuk 31 personel Polri yang diperiksa Inspektorat Khusus (Itsus).

"Dari hasil keterangan para saksi yang sudah dimintai keterangan termasuk yang 31 orang yang sudah dimintai keterangan oleh itsus, tidak ada yang mengarah ke sana," ungkapnya.

Sedangkan CCTV yang ada di Mabes Polri, kata Dedi, saat ini sudah disita oleh penyidik dan masih dalam proses analisis oleh laboratorium forensik. 

Sementara itu, Inspektorat Khusus (Irsus) telah memeriksa 31 personel Polri terkait dugaan ketidakprofesionalan dalam menangani kasus kematian Brigadir J yang terjadi di rumah dinas Ferdy Sambo. (tim redaksi)

#brigadirj
#kasuspolisitembakpolisi
#irjenferdysambotersangkapembunuhan
#pembunuhanbrigadirj
#kamaruddinsimanjuntak
#adanyadugaanpenyiksaan
#laporandugaanpelecehanseksualdihentikan

Tidak ada komentar