Breaking News

Kenaikan Setoran Royalti Batu Bara Berlaku 15 September, Intip Besaran Persentasenya

Batu bara. Foto: Ilustrasi/ Antara

WELFARE.id-Pemerintah mulai menerapkan pungutan royalti batu bara secara progresif pada 15 September mendatang. Hal ini seiring dengan terbitnya Peraturan Pemerintah No.26 Tahun 2022 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Beleid yang ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 15 Agustus 2022 itu menyatakan peraturan mulai berlaku setelah 30 hari terhitung sejak diundangkan. Adapun PP 26 ini telah diundangkan pada 15 Agustus 2022.

Pada September mendatang pungutan royalti mengalami kenaikan. Royalti batu bara kalori rendah kini ditetapkan sebesar 5 persen dari sebelumnya hanya 3 persen. 

Kemudian, batu bara kalori sedang ditetapkan 7 persen dari sebelumnya 5 persen. Untuk royalti batu bara kalori tinggi ditetapkan sebesar 9,5 persen dari sebelumnya 7 persen.

Selain itu, PP 26/2022 ini pun mengatur royalti progresif mengacu pada pergerakan harga batu bara acuan (HBA). Pada level HBA kurang dari USD70 per ton maka batu bara kalori rendah dikenakan tarif 5 persen. 

Untuk kalori sedang dikenakan tarif 7 persen dan kalori tinggi sebesar 9,5 persen. Untuk HBA di posisi lebih dari USD70 per ton dan kurang dari USD90 per ton maka besaran royalti batu bara kalori rendah dikenakan sebesar 6 persen. 

Royalti batu bara kalori sedang dipungut sebesar 8,5 persen dan untuk royalti kalori tinggi sebesar 11,5 persen. Bila HBA lebih dari USD90 per ton maka royalti batu bara kalori rendah dikenakan sebesar 8 persen. 

Royalti batu bara kalori sedang dipungut sebesar 10,5 persen dan kalori tinggi sebesar 13,5 persen. 
Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu bara (APBI) Hendra Sinadia mengatakan, pelaku usaha memahami keinginan Pemerintah dalam memaksimalkan penerimaan negara dari sektor industri pertambangan. 

Namun Hendra belum bisa membeberkan dampak dari penerapan royalti progresif tersebut. "Adapun mengenai dampak dari PP 96/2022 kami dari asosiasi sedang mempelajari tarif royalti bagi pemegang IUP yang diatur di peraturan tersebut dan akan mengadakan rapat anggota di hari Senin," kata Hendra, dikutip Selasa (23/8/2022).

Adapun realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor pertambangan mineral dan batu bara hingga 19 Agustus kemarin mencapai Rp94,67 triliun. Realisasi ini 223,45 persen dari target PNBP tahun ini yang ditetapkan sebesar Rp42,37 triliun.

Melambungnya PNBP tahun ini seiring dengan lonjakan harga batu bara. Kementerian ESDM menetapkan HBA Agustus sebesar USD321,59 per ton atau naik USD2,59 per ton dibandingkan HBA pada Juli kemarin yang berada di level USD319 per ton. 

Harga batu bara mempengaruhi PNBP lantaran sektor ini penyumbang mayoritas penerimaan negara. Namun, dalam aturan baru juga disebutkan, termasuk di dalamnya tarif royalti progresif dan juga royalti 0% untuk perusahaan pertambangan batu bara yang melakukan kegiatan peningkatan nilai tambah.

Dalam aturan itu disebutkan, pemegang Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi, lzin Usaha Pertambangan Khusus Operasi Produksi, dan lzin Usaha Pertambangan Khusus sebagai Kelanjutan Operasi Kontrak/Perjanjian yang melakukan Peningkatan Nilai Tambah batubara dapat diberikan perlakuan tertentu berupa pengenaan royalti sebesar 0% (nol persen). 

"Terhadap volume batu bara dengan mempertimbangkan kemandirian energi dan pemenuhan kebutuhan bahan baku industri," sebut Pasal 3 Ayat 1 PP 26/2022 ini.

Adapun ketentuan mengenai kegiatan Peningkatan Nilai Tambah Batu bara, besaran, persyaratan, dan tata cara pengenaan royalti sebagaimana dimaksud pada ayat 1 itu, diatur dalam peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang energi dan sumber daya mineral. 

"Besaran, persyaratan, dan tata cara pengenaan royalti sebesar 0% (nol persen) sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus terlebih dahulu mendapat persetujuan Menteri Keuangan," ungkap Pasal 3 ayat 3.

Nah, selain adanya royalti 0% bagi perusahaan yang melakukan kegiatan nilai tambah, tarif royalti progresif itu berlaku disesuaikan dengan harga batu bara acuan (HBA) terkini. Rinciannya lengkapnya sebagai berikut:

Tingkat Kalori 4.200 Kkal/kg ke bawah
- HBA di bawah USD70: 5%
- HBA USD70 - 90: 6%
- HBA USD90 ke atas: 8%

Tingkat Kalori 4.200-5.200 Kkal/kg
- HBA di bawah USD70: 7%
- HBA USD70 - 90: 8,5%
- HBA USD90 ke atas: 10,5%

Tingkat Kalori 5.200 Kkal/kg ke atas

- HBA di bawah USD70: 9,5%
- HBA USD70 - 90: 11,5%
- HBA USD90 ke atas: 13,5%

Sementara dalam aturan sebelumnya, yakni PP 81/2019 disebutkan:

- Kalori 4.700 Kkal/kg ke bawah: 3% dari harga jual;
- Kalori 4.700-5.700 Kkal/kg: 5% dari harga jual;
- Kalori 5.700 ke atas: 7% dari harga jual.
(tim redaksi)

#batubara
#royaltibatubara
#kenaikansetoranbatubara
#daftarkenaikansetoranbatubara
#pengusahabatubara
#royaltiprogresif
#ppno262022

Tidak ada komentar