Breaking News

Kemenkes Umumkan Kasus Monkeypox Pertama di Indonesia

Ilustrasi (net) 

WELFARE.id-Monkeypox atau cacar monyet akhirnya sudah masuk ke Indonesia. Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) mengonfirmasi temuan pertama kasus penyakit yang berasal dari Afrika tersebut. 

Pasien yang terkonfirmasi tersebut diketahui saat ini sedang menjalani isolasi mandiri. Juru Bicara Kemenkes RI, dr. Mohammad Syahril mengungkapkan, pasien pertama monkeypox tersebut berusia 27 tahun dan memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri. 

Setibanya di Indonesia, pasien mengalami demam dan menunjukkan pembengkakan pada kelenjar getah bening (limfadenopati). 

Tak hanya itu, pasien juga mengalami ruam cacar di telapak kaki dan tangan, serta sebagian di area genital. "Tapi, keadaan pasien baik-baik saja. Kalau dalam istilah COVID-19, yang bersangkutan gejala ringan, tidak sakit berat," ujarnya, dikutip Minggu (21/9/2022). 

Ia mengatakan, meski sudah ada kasus pertama cacar monyet di Indonesia, kita harus tetap tenang tapi meningkatkan kewaspadaan. “Baiknya untuk kita tetap tenang, karena ini penyakit yang gejalanya ringan tidak seperti COVID-19,” katanya. 

Syahril menjelaskan, pada dasarnya infeksi cacar monyet memang bersifat ringan dan bisa sembuh sendiri, jika gejala berupa lesi-lesi atau ruam-ruam yang ada telah berhasil pecah sendiri. 

"Treatment yang dilakukan yaitu dengan karena ini virus, biasanya sembuh sendiri, kalau tidak ada komorbid dan infeksi sekunder, biasanya akan sembuh sendiri saat lesi itu pecah,” jelasnya. 

“Namun, yang kita fokuskan saat ini adalah jangan sampai ada penularan dengan adanya kasus ini,” tambahnya. 

Ia menambahkan, saat ini kematian akibat infeksi cacar monyet di dunia hanya sekitar 1 persen dari seluruh jumlah kasus. 

Meski begitu, Syahril mengatakan, dengan adanya kasus ini, perlu dilakukan surveilas atau menelusuri kontak erat, terhadap orang-orang yang pernah kontak erat dengan pasien. 

Seluruh maskapai penerbangan juga diminta untuk meningkatkan himbauan dan kewaspadaan jika penumpangnya itu mempunyai gejala menyerupai penyakit cacar monyet. “Kami juga ingin mengingatkan kepada seluruh masyarakat untuk selalu menjaga Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), dan meningkatkan protokol kesehatan,” imbihnya. 

Saat ini, lanjutnya, Kemenkes juga sedang melakukan penelusuran kontak erat pada pasien pertama monkeypox atau cacar monyet di Indonesia langsung dilakukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta. 

"Dinkes melakukan survailens kepada kontak erat pasien, untuk dilakukan pemeriksaan, apakah kasus cacar monyet yang menular, memerlukan kontak tracing bagi yanf pernah kontak erat dengan pasien tersebut," katanya. 

Sementara itu, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Prof. Zubairi Djoerban meminta masyarakat tidak abai dengan penularan infeksi cacar monyet atau monkeypox. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut saat ini sudah ada lebih dari 35 ribu kasus cacar monyet yang terlapor. 

"Jangan abai! Infeksi cacar monyet (monkeypox) terus meningkat. Lebih dari 35 ribu kasus telah dilaporkan dari 92 negara, dan terdapat 12 kematian. Minggu lalu saja tercatat ada 7500 kasus yang dilaporkan, meningkat 20 persen dari minggu sebelumnya," ujar Zubairi dalam keterangannya 

Sementara itu, Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menyatakan ancaman infeksi vacar monyet atau monkeypox di Indonesia hanya menunggu waktu saja. Oleh sebab itu, literasi masyarakat terkait penyakit menular ini harus dibangun sejak dini, termasuk penularan terhadap hewan peliharaan. 

"Ancaman monkeypox hadir di Indonesia masalah waktu saja. Dan risikonya besar di Indonesia. Sehingga, literasi sangat penting. Kesempatan saat ini karena di Indonesia belum terdeteksi dan penting membangun literasi dan mitigasi risiko dengan baik," tukasnya. 

Untuk mencegah penularan cacar monyet di Indonesia, menurut Dicky pemerintah Indonesia sebaiknya membuat program literasi bagi masyarakat. 

Salah satu literasi yang dibuat adalah imbauan kepada masyarakat agar segera menghubungi tenaga kesehatan saat tertular cacar monyet. Penderita juga harus memahami untuk tidak berpergian dan segera melakukan isolasi mandiri saat terpapar cacar monyet serta segera melakukan pelacakan kontak selama 2-3 peka terakhir. 

“Nah ini yang harus segera dibangun baik itu pemahamannya, kepahamannya, maupun sistemnya. Karena kalau tidak, ini akan menjadi masalah besar," tegas Dicky. 

Ia juga menyarankan ahli kesehatan masyarakat untuk memberikan literasi terkait pencegahan cacar monyet kepada masyarakat Indonesia. “Ini yang harus dibangun dari sekarang dan saya melihat kita masih banyak yang enggak mengambil pelajaran dari COVID-19 atau dari pandemi selama hampir mau tiga tahun ini," pungkasnya. (tim redaksi

#monkeypox
#cacarmonyet
#kasuscacarmonyetpertamadiindonesia
#kemenkes
#monkeypoxdiindonesia
#cacarmonyetdiindonesia

Tidak ada komentar