Breaking News

Kasus Kekerasan Seksual Melonjak, Pemkab Lebak Dorong Korban Lapor Polisi

Ilustrasi kekerasan seksual. Foto: net

WELFARE.id-Kasus kejahatan seksual di Kabupaten Lebak terus meningkat setiap tahunnya. Peningkatan kasus itu membuat masyarakat setempat khawatir.

Karena itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak meminta masyarakat yang menjadi korban kekerasan seksual melapor ke aparat untuk diproses secara hukum pelakunya. 

Untuk diketahui korban kekerasan seksual di Kabupaten Lebak tahun 2021 tercatat 70 kasus tapi tahun 2022 kasusnya melonjak.

"Jangan sampai warga korban seksual tidak melapor ke aparatur kepolisian bila jadi korban kekerasan seksual," terang Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Lebak, Dedi Lukman, Senin (22/8/2022).

Menurut Dedi juga, jumlah kekerasan seksual terus meningkat. Sampai Agustus 2022 ini kasus kekerasan seksual itu sudah mencapai 83 kasus. Dedi juga menjelaskan meningkatnya jumlah kasus kekerasan seksual itu masih belum mencerminkan angka sebenarnya. 

Pasalnya, ada masyarakat yang enggan melaporkan kejadian yang menimpanya kepada aparat kepolisian. Karena itu, Pemkab Lebak membentuk Lembaga Peduli Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (LPATBM) di seluruh desa dan kelurahan di wilayah tersebut.

Pembentukan LPATBM itu bertujuan agar kasus kekerasan seksual yang terjadi di masyarakat bisa dilaporkan kepada aparat setempat untuk diproses secara hukum.
Selama ini, kata Dedi, pelaku kekerasan seksual itu dilakukan oleh orang dekat, seperti ayah tiri, paman, sepupu, kakak ipar, tetangga, ustadz, dan teman permainan. 

"Kita berharap korban kekerasan seksual tetap melaporkan ke aparat, meski pelakunya anggota keluarga untuk memberikan efek jera," paparnya juga.

Menurut Dedi, Pemkab Lebak memberikan pendampingan terhadap korban kekerasan seksual untuk mendapatkan rehabilitasi dengan melibatkan psikolog agar kejiwaan mereka kembali normal. 

Bahkan, kata Dedi lagi, banyak juga organisasi wanita melaksanakan kegiatan trauma healing untuk korban kekerasan seksual. Apalagi, kata dia, kebanyakan korban kekerasan seksual itu anak-anak yang duduk dibangku SD,SMP dan SMA. "Semua korban kekerasan seksual itu mendapatkan pendampingan juga tetap melanjutkan pendidikannya sehingga tidak putus sekolah," kata Dedi lagi.

Dia juga mengatakan, Pemkab Lebak juga mengawal dan mengawasi para pelaku kekerasan seksual itu diproses hukum hingga pengadilan. Mereka pelaku kekerasan harus dihukum sesuai undang-undang yang berlaku agar memberikan efek jera. 

"Kami bersama stakeholder juga melakukan pengawalan mulai dari kepolisian hingga ke pengadilan agar pelaku menjalani hukuman," tandas Dedi lagi.

Sementara itu, Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Lebak Ratu Mintarsih mengatakan kekerasan seksual yang dialami anak, biasanya pelakunya orang terdekat korban. Bahkan kadang pelakunya ayah, paman, atau kerabat korban sendiri.

Seharusnya, kata Mintarsih, mereka melindungi anak-anak, tapi malah melakukan kejahatan seksual. "Kami minta pelaku kejahatan seksual anak dihukum berat agar memberi efek jera bagi pelaku dan juga kepada masyarakat," paparnya. (tim redaksi)


#kekerasanseksual
#pemkablebak
#pelakukekerasanseksual
#DP2KBP3Alebak
#penegakanhukum
#P2TP2Alebak

Tidak ada komentar