Breaking News

Jika Perang Tiongkok-Taiwan Meletus, Perdagangan Indonesia Bakal Tertekan

Dua tentara Taiwan siaga di deretan helikopter serbu Apache AH-64E buatan Amerika Serikat untuk melawan Tiongkok. Foto: AFP

WELFARE.id-Ketegangan antara Tiongkok (China) dengan Taiwan yang diambang perang membuat sejumlah pihak di Tanah Air. Pasalnya jika perang meletus pasti Indonesia akan terdampak langsung.

Sejumlah ekonom memprediksi perekonomian Indonesia akan terdampak jika perang antara Tiongkok dan Taiwan benar-benar terjadi.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan Taiwan merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia, terutama untuk produk manufaktur. Menurutnya, jika perang terjadi perdagangan ini akan terganggu.

"Dampak dari perang tentu saja akan menekan perdagangan Indonesia-Taiwan," ujarnya, Sabtu (6/8/2022).  Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor Indonesia ke Taiwan sepanjang tahun lalu mencapai sekitar USD6,9 miliar. Ini didominasi oleh ekspor besi dan baja sekitar USD2,7 miliar, dan Bahan Bakar Mineral/Mineral Minyak (HS 27) mencapai USD1,8 miliar.

Sementara itu, impor Indonesia dari Taiwan pada tahun lalu mencapai USD4,35 miliar. Ini didominasi oleh impor mesin dan perlengkapan elektrik yang mencapai USD1,5 miliar.

Faisal juga mengatakan dampak perang juga bisa melebar ke Tiongkok. Apalagi, kata dia, perlambatan ekonomi Negeri Panda itu saat ini sudah cukup nyata mengganggu perdagangan.

Ia juga menyebut perang akan mengganggu logistik dan berimbas pada perdagangan Indonesia dengan mitra-mitra di Asia Timur lainnya. ”Artinya ke depan perdagangan kita berpotensi surplusnya menipis, semakin menipis lagi ketika ada perang," papar Faisal.

Sementara itu, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda mengatakan dampak nyata dari perang Tiongkok-Taiwan bagi ekonomi global dan Indonesia adalah krisis pasokan chip untuk berbagai produk elektronik. Pasalnya Taiwan merupakan negara pengekspor chip terbesar di dunia.

Berdasarkan laporan Counterpoint Research, Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) masih memimpin industri chip di dunia pada awal 2022.

Perusahaan itu menguasai 70 persen pasar global. Menurut Nailyul juga, perang akan membuat ekspor chipset ini terganggu dan berimbas pada kenaikan harga barang-barang elektronik seperti gawai. Bahkan harga mobil pun bisa naik.

Produk semakin langka dan harga produk bisa tambah mahal. ”Semakin rebutan perusahaan-perusahaan mobil, elektronik untuk mendapatkan chip dari Taiwan," paparnya.

Ia pun mengingatkan jika perang benar-benar terjadi, Indonesia harus bersiap menghadapi risiko-risiko tersebut. "Makanya kalo sampai perang dan pasokan chip global terganggu, pasti bisa melambatkan perkembangan teknologi global termasuk Indonesia," kata Nailul

Untuk diketahui, sebelumnya militer Tiongkok mulai menembakkan proyektil ke Selat Taiwan pada Kamis (4/8/2022). Tindakan itu merupakan reaksi marah militer Tiongkok atas kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taipei.

Penembakan proyektil ini dilaporkan kala Tiongkok memulai latihan militer besar-besaran di sejumlah titik mengepung Taiwan. Dalam latihan militer tersebut, Beijing mengerahkan rudal, kapal perang, hingga jet tempur dan membuat Taiwan ketar-ketir.

Reaksi Tiongkok atas kunjungan Pelosi ke Taipei tak serta merta hanya dengan menempatkan pasukan militer. Dari sisi ekonomi, Negeri Tirai Bambu itu mengisolasi Taiwan dengan menerapkan sejumlah sanksi dan blokade perdagangan, seperti larangan ekspor-impor. (tim redaksi)


#taiwan
#tiongkok
#diambangperang
#kunjunganketuadpramerikaserikat
#nancypelosi
#latihanperang
#selattaiwan

Tidak ada komentar