Breaking News

Inflasi Gerus Daya Beli Masyarakat, Satu-satunya Solusi Jokowi Genjot Swasembada Pangan

Presiden Joko Widodo. Foto: Istimewa/ Dok.Setpres

WELFARE.id-Meroketnya harga pangan akhir-akhir ini membuat daya beli masyarakat terancam. Inflasi tinggi membuat harga melonjak.

Presiden Joko Widodo memaparkan, jika daya tahan ekonomi masyarakat Indonesia masih dalam kategori yang kuat. Hal ini dibuktikan dengan konsumsi rumah tangga yang tumbuh di angka 5%, kemudian ada pula konsumsi listrik yang juga tumbuh di angka 2,5%.

Tidak hanya itu, Jokowi juga mengungkapkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia memang banyak dipengaruhi oleh konsumsi rumah tangga bahkan menyebabkan surplus APBN sebesar Rp106 triliun pada Juli lalu. "Ini penting sekali kalau kita lihat konsumsi rumah tangga kemarin masih tumbuh di angka 5%, kemudian konsumsi listrik juga tumbuh di angka 2,5% ini sangat baik. Artinya apa? Ada kenaikan produksi di industri, di pabrik-pabrik, karena mereka meminta listrik yang lebih," papar Jokowi dalam Program Special "CNBC Indonesia Economic Update", dikutip Jumat (19/8/2022).

Sementara itu, soal swasembada pangan, Jokowi menegaskan satu bahan pokok yang sangat penting untuk dijaga produksinya, yakni beras. Diketahui dalam kurun waktu tujuh tahun, pihaknya telah selesai membangun 29 bendungan, 4.500 lembung, dan 1,1 juta hektar irigasi baru.

"Inilah yang menyebabkan produksi beras kita terus naik. Karena apa? Karena ada airnya, ada bibit unggulnya, dan juga ekstensifikasi intensifikasi betul-betul itu di lapangan," paparnya panjang lebar.

Ia juga mengungkapkan berkat segala upaya yang telah dilakukan, Indonesia berhasil memiliki ketahanan pangan yang baik sejak 2019. Tidak hanya itu, sejak 2019, swasembada beras Indonesia mendapat penghargaan International Rice Research Institute dan disaksikan juga oleh FAO.

Melihat hasil yang positif, Jokowi berencana untuk melanjutkan ke komoditas lain, salah satunya jagung. Adapun pada 2021, Indonesia hanya mengimpor 800 ribu jagung. 

Angka ini mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, Indonesia mengimpor hingga 3,5 juta ton jagung. "Artinya memang ada peningkatan produksi sehingga impornya turun menjadi 800 ribu, itu pun juga jagung-jagung kualitas khusus untuk makanan dan minuman," imbuhnya.

Orang nomor satu di negeri ini juga menyebut, swasembada pangan di Indonesia bisa terwujud seiring berjalannya waktu. Sebab, Indonesia memiliki 'jalan' yang jelas, roadmap yang jelas, rencana yang jelas, dan lapangan yang terus dipantau prosesnya. "Satu-satulah, beras sudah, nanti jagung kita kejar, nanti gula kita kejar. Saya kira nanti ketemu kok karena kita punya jalan yang jelas, roadmap yang jelas, rencana yang jelas, lapangannya juga terus kita ikuti prosesnya," yakinnya.

Asosiasi pedagang khawatir inflasi gerus daya beli

Sementara itu, di lapangan, pedagang pasar dan ritel mengkhawatirkan tingginya laju inflasi Indonesia. Pasalnya hal tersebut mempengaruhi kenaikan harga yang dapat menurunkan daya beli masyarakat dan mengurangi omzet pedagang secara signifikan.

Saat ini tingkat inflasi tahunan hingga Juli 2022 sudah mencapai 4,94%, melampaui asumsi APBN 2022 yang diperkirakan sebesar 2%-4%. Inflasi diperkirakan akan terus naik pada bulan-bulan mendatang sehingga berpotensi menggerus daya beli konsumen.

Wakil Ketua DPP Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Don Mudzakir mencatat, kenaikan harga berbagai bahan pokok dan barang lainnya, di pasar, dapat memicu penurunan daya beli masyarakat. Harga kebutuhan bahan pokok seperti cabai, daging, bawang merah, dan bawang putih sedang mengalami kenaikan secara drastis yang berimbas pada turunnya omzet pedagang.

“Konsumen itu bukannya tidak membeli bahan pokok, tetapi menurunkan konsumsinya. Contohnya konsumen yang biasanya membeli cabai sebanyak satu ons sekarang menjadi setengah ons. Fenomena ini yang membuat omzet pedagang pasar menurun,” ungkapnya, Kamis (18/8/2022).

Data Badan Pusat Statistik mencatat, pada Juli 2022 terjadi inflasi sebesar 0,64%. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan tingkat kenaikan indeks harga konsumen sampai 1,16%. Selama ini, pemerintah masih menempatkan inflasi sebagai salah satu ancaman terbesar karena melemahkan daya beli masyarakat. (tim redaksi)

#ancamaninflasi
#presidenjokowidodo
#jokowi
#asosiasipedagang
#hargamelonjak
#swasembadapangan
#inflasi

Tidak ada komentar