Breaking News

Gampang Dipengaruhi, Tiap Bulan Ada 2.000 Nasabah Bank Swasta Jadi Korban "Soceng"

Hacker. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Sebanyak 2.000 nasabah bank swasta menjadi korban kejahatan siber setiap bulan. Modus social engineering (soceng) menjadi siasat penjahat siber untuk keruk tabungan nasabah.

Ketua Komite Kerja Cyber Security Perbanas & Executive Vice President Center of Digital BCA Wani Sabu mengatakan, modus operandi itu terbilang populer lantaran penjahat siber terbilang repot jika membobol sistem keamanan perbankan. 

"Dalam satu bulan, ada dua ribu kasus tipu-tipu nasabah. Nasabah menjadi korban, entah transfer ke bank lain atau ke fintech," kata Wani, dalam keterangannya, dikutip Sabtu (27/8/2022).

Siasat siber yang digunakan adalah dengan memengaruhi pikiran nasabah, dengan membuat kondisi emosional sumringah maupun sedih. Biasanya, lanjut dia, penjahat siber akan menelpon sasarannya seolah sebagai pemberi hadiah ataupun melaporkan hal yang sekiranya membuat calon korban khawatir.

"Nasabah dalam kondisi (emosional) happy maupun sedih bisa jadi mau melakukan apa yang diperintah (oleh pelaku pembobolan)," tuturnya. Dia menambahkan, para pembobol rekening nasabah juga memiliki kemampuan mengamati perilaku atau respons calon korban.

Dengan demikian, dalam hitungan menit calon korban pun percaya dan memberikan data-data penting. Padahal data itu digunakan untuk akses rekening korban.

"Mereka sangat paham behavior kondisi nasabah kita," ulasnya. Pada kesempatan yang sama, SVP Head of Marketing & Channel Management Indosat Ooredoo Hutchison, Linggajaya Budiman mengungkapkan, sederet ancaman siber yang kerap seliweran di masyarakat.

Dia mengungkapkan dengan kemudahan akses perbankan di dunia digital, memungkinkan data pengguna dapat diperoleh di mana saja. "Itu kan memberikan kemudahan dan bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyerang sistem (nasabah)," imbuhnya.

Menurutnya, para nasabah dihadapkan dengan situasi kepercayaan dan integritas. Penjahat siber menjelma sebagai pihak yang dianggap dipercaya agar mendapatkan kepercayaan.

Selain itu, ada pula ancaman integritas, di mana data nasabah bisa dimanipulasi oleh pihak yang tidak bertanggungjawab demi mengeruk keuntungan.

Dari pihak perbankan, kata dia, penting juga untuk melakukan otomatisasi transaksi yang mencurigakan, untuk mencegah terjadinya pembobolan dana nasabah. "Ketika ada insiden yang terjadi akan terbaca dari sistem dan bisa dilakukan mitigasinya," ulasnya. (tim redaksi)

#kejahatansiber
#perbankan
#pembobolandananasabah
#socialengineering
#datanasabah
#penjahatsiber
#sistemkeamananperbankan
#soceng

Tidak ada komentar