Breaking News

Ekonomi Dunia Sedang Tak Baik-Baik Saja, Presiden Jokowi: Bukan Tak Mungkin Negara Ambruk dalam Krisis Keuangan!

Perekonomian Indonesia. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui, persoalan ekonomi dunia saat ini sedang pelik. Saking beratnya, Jokowi menyebut beberapa negara akan ambruk, jatuh ke dalam krisis keuangan.

"Akan muncul krisis yang ketiga, krisis keuangan. Beberapa negara yang tidak kuat ambruk," ungkap Jokowi, dikutip Jumat (5/8/2022).

Hal itu terjadi, lanjutnya, karena ruang fiskal masing-masing negara yang semakin sempit. Saat pandemi COVID-19, banyak negara menarik utang demi memenuhi tingginya kebutuhan belanja.

Belum selesai pandemi, saat keuangan negara baru menuju normalisasi, sudah dihantam krisis pangan dan energi akibat perang Rusia dan Ukraina. Belum lagi, kata dia, ada pengetatan kebijakan moneter oleh negara maju seperti Amerika Serikat (AS).

"Sehingga untuk menambah utang lagi akan memakan biaya besar," imbuh kepala negara. Ruang fiskal yang sempit membuat pemerintah negara tersebut tidak banyak pilihan. 

Pembayaran utang adalah hal utama saat ini. "Karena sudah tidak memiliki uang cash untuk membeli energi, bensin, dan gas atau membeli pangan," paparnya.

Pemaparan tersebut selaras dengan apa yang dikatakan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati. SMI menyebut, ekonomi AS secara teknis sudah memasuki resesi. Sebab, perekonomian mereka telah mengalami kontraksi dalam dua kuartal berturut-turut.

Tercatat, pada kuartal I 2022 perekonomian AS minus 1,6 persen dan kuartal II 2022 juga terkontraksi 0,9 persen. Artinya, kata dia, AS sudah masuk masa resesi.

"Pagi ini membaca berita, Amerika negatif growth kuartal II, secara teknik masuk resesi. RRT seminggu yang lalu keluar dengan growth kuartal II yang nyaris nol. Apa hubungannya dengan kita? Amerika, RRT, dan Eropa adalah negara-negara tujuan ekspor Indonesia,” bebernya.

Jika mereka resesi, lanjutnya, maka daya beli impor akan turun.   Penurunan aktivitas ekonomi yang signifikan hingga ke level negatif yang berlangsung selama dua dua kuartal berturut-turut itu, mengakibatkan penurunan secara simultan pada seluruh aktivitas ekonomi seperti lapangan kerja, investasi, dan keuntungan perusahaan.

Lebih lanjut, kata Menkeu, jika negara tujuan ekspor Indonesia melemah, maka permintaan terhadap ekspor pasti menurun, harga komoditas juga turun. Meskipun kemarin di Kementerian Keuangan menyampaikan APBN hingga Juni surplus.

Tapi, bukan berarti Indonesia lantas aman. Situasi ini masih diselimuti dengan ketidakpastian dan dinamis.

"Berbagai kemungkinan bisa terjadi. Misalnya, dengan kenaikan suku bunga capital outflow di seluruh negara berkembang dan emerging termasuk Indonesia, dan itu bisa mempengaruhi suku bunga, nilai tukar, dan inflasi di Indonesia,” rincinya.

Maka dari itu, sambungnya,  naiknya inflasi secara global mendorong otoritas moneter di berbagai negara melakukan respons kebijakan, mengetatkan likuiditas, dan meningkatkan suku bunga. Namun, hal ini menyebabkan arus modal keluar. "Dunia sedang tidak baik-baik saja," akunya. (tim redaksi)

#presidenjokowidodo
#menkeu
#jokowi
#jokowidodo
#srimulyaniindrawati
#smi
#resesi
#inflasi
#resesiglobal

Tidak ada komentar