Breaking News

Diprediksi Harga Mi Instan Naik 3 Kali Lipat Imbas Perang Rusia-Ukraina, Anak Kos Menjerit!

Mi instan. Foto: Ilustrasi/ iStockphoto

WELFARE.id-Imbas perang Rusia vs Ukraina mulai terasa. Tersendatnya pasokan gandum dari Ukraina membuat bahan baku pembuatan mi instan dalam negeri berkurang.

Akibatnya, harga mi instan dipastikan naik. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyebut, harga mi instan bakal naik tiga kali lipat. 

Perang membuat ratusan ton gandum Ukraina tertahan di pelabuhan. "Saya bicara ekstrem saja, ada gandum tapi harganya mahal banget. Sementara kita impor terus,” ucapnya blak-blakan.

Jika saat ini harga mi instan di warung beragam tergantung merek. Rata-rata kisaran Rp1.500-4.000 per bungkus. Jika naik 3 kali lipat, berarti kisaran harganya bisa naik dari Rp3.000-12.000 per bungkus.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun menyampaikan, kenaikan harga gandum akibat invasi Rusia ke Ukraina akan berdampak pada harga pangan seperti roti dan mi di Indonesia. Sebab, Indonesia masih bergantung pada gandum dari dua negara tersebut.

"Ini hati-hati yang suka makan roti yang suka makan mi, harganya bisa naik. Karena apa? ada perang di Ukraina. Kenapa perang di Ukraina mempengaruhi harga gandum? Karena produksi gandum 34 persen berada di negara itu. Rusia, Ukraina, Belarusia semua ada di situ. Di Ukraina saja ada stok gandum,” papar Jokowi.

Ia pun menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke Ukraina. Di sana ia menanyakan langsung kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy soal stok gandum.

"Waktu saya ke sana, saya tanya langsung Presiden Ukraina, berapa stok yang ada di Ukraina? 22 juta ton. Stok gak bisa dijual. Kemudian ada panen baru ini 55 juta ton, artinya stoknya menjadi 77 juta ton,” urai Jokowi.

Kemudian, saat berkunjung ke Rusia, Jokowi juga menanyakan hal yang sama ke Presiden Vladimir Putin. Ternyata stok gandum di negara itu mencapai 130 juta ton.

"Bayangkan, berapa ratus juta orang ketergantungan kepada gandum Ukraina dan Rusia. Dan sekarang ini sudah mulai (langka). Barang itu nggak bisa keluar dari Ukraina dan nggak bisa keluar dari Rusia,” paparnya.

Kalau sudah begini, anak kos menjadi simpul masyarakat yang paling merasakan dampaknya. Maklum, mi instan menjadi makanan wajib di perantauan jika sudah tanggung bulan.

"Kalau kiriman dari orang tua sudah menipis, biasanya untuk bisa bertahan hidup ya nyetok mi instan," aku Clara, mahasiswa universitas swasta di Jakarta, asal Kupang, Nusa Tenggara Timur. Menurutnya, selain praktis membuatnya dan bikin kenyang, mi instan juga tergolong murah.

"Jadi kami sesama anak kos suka patungan beli satu dus, untuk stok tanggung bulan. Tapi kalau mahal, ya kami pikir-pikir lagi untuk atur anggaran bulanan," tuntasnya. (tim redaksi)

#miinstandiperdiksinaikharga
#hargamiinstandiprediksimelonjak
#efekkelangkaangandum
#gandumimpor
#anakkos
#makananinstan

Tidak ada komentar