Breaking News

Dialami 25% Penyintas Covid dan Terkenal dengan Istilah "Brain Fog", Sulit Fokus hingga Pelupa

Pusing jadi salah satu gejala umum Covid varian Omicron. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Demam, batuk, dan flu, disertai sakit kepala merupakan gejala umum infeksi COVID-19. Namun, selain itu, ada gejala neurologis yang memengaruhi otak dan sistem saraf juga dialami sekitar 25 persen pasien Covid.

Disebut brain fog alias kabut otak, ini adalah salah satu gejala neurologis yang biasanya dilaporkan oleh pasien COVID-19. Dalam beberapa kasus, kabut otak dapat berlangsung berbulan-bulan setelah penyakit berlalu.

Mengutip Healthline, Rabu (24/8/2022), kabut otak sebenarnya bukanlah diagnosis medis. Sebaliknya, kabut otak adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan kondisi di mana seseorang merasa menjadi lambat secara mental.

Gejala kabut otak dapat meliputi:

- masalah memori
- sulit konsentrasi
- sakit kepala
- kebingungan
- lesu secara mental

Sebuah studi pada Januari 2021 menemukan ada peningkatan kadar sitokin inflamasi dalam cairan di sekitar otak penyintas Covid, berminggu-minggu setelah penyakit berlalu. Sitokin adalah molekul yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh yang mendorong peradangan.

Peradangan di otak menghambat kemampuan neuron untuk berkomunikasi satu sama lain. Para ahli menduga ini salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kabut otak.

Berapa lama kabut otak berlangsung?

Masih belum jelas berapa lama kabut otak biasanya berlangsung setelah COVID-19. Beberapa orang melaporkan kabut otak yang bertahan selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan setelah gejala pernapasan mereka hilang.

Sebuah studi yang diterbitkan pada Desember 2020 menemukan bahwa sekitar 28 persen orang memiliki masalah konsentrasi yang berlangsung lebih dari 100 hari setelah masuk rumah sakit karena COVID-19.

Dalam studi lain, para peneliti menemukan bahwa dari sekelompok 60 pasien yang telah pulih dari COVID-19, 55 persen di antaranya masih memiliki gejala neurologis 3 bulan setelah penyakit mereka. 

Sampai saat ini, pengobatan terbaik untuk kabut otak yang disebabkan oleh COVID-19 adalah dengan menerapkan kebiasaan sehat, termasuk tidur yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga teratur, dan menghindari alkohol serta rokok. (tim redaksi)

#braindfog
#kabutotak
#penyintascovid19
#covidsurvivor
#sulitkonsentrasi
#pelupa
#gejalaneurologis

Tidak ada komentar