Breaking News

Dampak Perubahan Iklim Dunia, NASA Sebut 2022 Tahun Panas dan Kekeringan

Perempuan asal Turkana membawa kayu bakar di wilayah yang mengalami kekeringan jangka panjang di Kenya pada Juli 2022 lalu. Foto: AFP 

WELFARE.id-Perubahan iklim atau global warming membuat kondisi dunia tidak sedang baik-baik saja. Para ilmuwan baru-baru ini mengatakan dunia sedang mengalami salah satu kekeringan paling meluas dalam beberapa dekade terakhir. 

Sejumlah wilayah bahkan memecahkan rekor kekeringan ekstrem. ”Tahun 2022 ini cukup luar biasa untuk kekeringan di belahan bumi utara, dengan kekeringan yang hampir memecahkan rekor secara bersamaan dialami Amerika Utara, Eropa dan Mediterania, dan Tiongkok," terang ilmuwan dan peneliti kekeringan di Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Benjamin Cook.

Para ilmuwan baru-baru ini juga mengatakan dunia sedang mengalami salah satu kekeringan paling meluas dalam beberapa dekade terakhir. Sejumlah wilayah bahkan memecahkan rekor. 

Namun, seperti dikutip dari BBC, para pakar mengatakan wilayah lain juga terkena dampak parah, termasuk Afrika Timur, Amerika Selatan, beberapa wilayah Asia dan beberapa bagian Australia.

Salah satu kawasan yang mengalami dampak terparah adalah wilayah Afrika, tempat hujan tidak turun selama bertahun-tahun. Situasi di kawasan itu menyebabkan keadaan yang disebut oleh juru bicara blok perdagangan regional (IGAD), Nuur Mohamud Sheekh, sebagai kekeringan terburuk dalam 40 tahun terakhir. "Keadaan itu berdampak pada ketahanan pangan bagi sekitar 50 juta orang," ujarnya.

Menurut laporan Konvensi PBB untuk Memerangi Desertifikasi (UNCCD), Afrika menderita kekeringan lebih sering daripada benua lain. Dari 134 kejadian kekeringan di benua itu antara tahun 2000 hingga 2019, 70 kali kasus kekeringan terjadi di Afrika Timur.

Sedangkan Tiongkok telah mengumumkan darurat kekeringan tahun ini, karena suhu yang terik telah mengeringkan beberapa sungai termasuk bagian dari Yangtze, sungai terpanjang ketiga di dunia. Daya listrik yang dihasilkan di PLTA Provinsi Sichuan telah turun secara signifikan sehingga menyebabkan pemadaman listrik.

"Pengiriman dengan kapal kargo telah dihentikan di beberapa jalur air dan lebih dari dua juta hektare lahan pertanian di enam provinsi telah terdampak," kata para pejabat pemerintahan Tiongkok seperti dikutip berbagai media.

Sedangkan Layanan Pemantauan Atmosfer Copernicus, rekor curah hujan rendah telah dipecahkan di Eropa bagian barat. Sementara itu, negara-negara Asia Tengah seperti Afghanistan dan Iran sudah mengalami kondisi kekeringan parah selama lebih dari satu tahun.

Sementara itu, di belahan bumi selatan, Amerika Selatan sangat terpengaruh dampak kekeringan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi kekeringan menyebabkan penurunan panen sereal 2020-2021 hampir 3 persen.

Sementara di Cile bagian tengah, menurut laporan PBB, telah mengalami kekeringan besar selama 13 tahun yang merupakan terpanjang di kawasan itu selama satu milenium ini.

"Selain itu, kekeringan multi tahun di Cekungan Parana-La Plata, yang terburuk sejak 1944, berdampak pada Brasil tengah-selatan dan sebagian Paraguay dan Bolivia," kata laporan itu juga.

”Di masa lalu, kekeringan biasanya berkembang dalam beberapa musim atau tahun, namun ini mulai berubah di banyak tempat," tulis para ilmuwan lagi. Kombinasi curah hujan rendah dan panas ekstrem menyebabkan kekeringan yang terjadi dengan cepat, seperti yang terlihat di beberapa daerah musim panas ini di belahan bumi utara.

"Yang kita lihat sekarang adalah hal yang kita sebut kekeringan 'kilat'," cetus Roger Pulwarty, ilmuwan senior di US National Oceanic and Atmospheric Administration.

"Ini bisa berlangsung hanya satu hingga tiga bulan tetapi jika terjadi pada puncak musim panen atau risiko kebakaran hutan, bisa sangat menghancurkan," ungkapnya juga.

Adapun titik panas yang rentan terhadap kekeringan ’kilat’ terjadi  di Brasil, Sahel, Great Rift Valley, India, AS tengah, Rusia barat daya, dan timur laut Tiongkok.

Dengan empat bulan tersisa sebelum akhir tahun, para ilmuwan mengatakan, terlalu dini untuk mengatakan apakah kekeringan yang terjadi pada 2022 akan lebih buruk daripada 2012 lalu.

Para ilmuwan iklim sudah lama mengatakan pemanasan global atau global warming akan meningkatkan risiko kekeringan di wilayah-wilayah yang rentan, akibat dari berkurangnya curah hujan, serta penurunan kelembaban udara dan tanah, dan mereka memperkirakan kekeringan akan menjadi lebih parah, dan lebih sering.

Menurut Drought in Numbers, sebuah laporan yang dibuat pada awal tahun ini oleh UNCCD menyebutkan  jika pemanasan global mencapai 3 derajat celcius pada tahun 2100 seperti yang diperkirakan, maka akan membawa bencana. 

Pasalnya, jika tingkat emisi saat ini tidak berkurang secara signifikan, maka kerugian akibat kegagalan panen dan konsekuensi ekonomi lainnya dari kekeringan bisa lima kali lebih tinggi daripada sekarang.

"Ini adalah peristiwa yang harus kita persiapkan seiring kita terus bergerak ke masa depan yang lebih hangat," tandas Benjamin Cook dari NASA lagi. (tim redaksi)


#cuacaekstrem
#kekeringan
#musimpanas
#nasa
#globalwarming
#pemanasanglobal

Tidak ada komentar