Breaking News

Dampak Perang Rusia, Permintaan Batu Bara secara Global Diprediksi Melonjak hingga 2023

Batu bara atau emas hitam jadi komoditas yang dicari di pasar global untuk pembangkit listrik. Foto: Shutterstock/Vladyslav Trenikhin)

WELFARE.id-Batu bara masih menjadi komoditas energi yang permintaannya diprediksi akan terus meningkat. Permintaan batu bara secara global diprediksi akan mencapai 8 miliar ton hingga akhir tahun 2022 ini.

Prediksi permintaan batu bara secara global mencapai 8 miliar ton itu disampaikan Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan pembaruan pasar batu bara yang diterbitkan belum lama ini.

"Berdasarkan tren ekonomi dan pasar saat ini, konsumsi batubara global diperkirakan akan meningkat sebesar 0,7 persen pada 2022 menjadi 8 miliar ton," kata IEA dikutif Senin (1/8/2022).

Hal ini menyamai rekor tertinggi bersejarah pada 2013 silam, dan kabarnya akan terus meningkat hingga tahun 2023 mendatang.

"Dengan asumsi ekonomi Tiongkok (China, Red)  pulih seperti yang diharapkan pada paruh kedua tahun ini. Total global permintaan batu bara tahun ini akan menyamai tahunan rekor yang ditetapkan pada 2013 silam," ujar IEA juga.

"Dan permintaan batubara kemungkinan akan meningkat lebih lanjut tahun depan ke level tertinggi baru sepanjang masa," tulis IEA lagi. Lebih lanjut badan energi tersebut menyebut, permintaan didorong karena kenaikan harga gas alam.

Hal ini memaksa banyak negara untuk semakin beralih dari gas ke batu bara dan membuka kembali pembangkit listrik tenaga batu bara yang sebelumnya ditutup karena berdampak global warming. 

Laporan tersebut menyatakan bahwa Tiongkok yang harus bertanggung jawab atas lebih dari setengah konsumsi batu bara global. Ini akan jadi pendorong utama pertumbuhan permintaan pada paruh kedua 2022. 

Meskipun melihat, IEA melihat permintaan turun sebesar hanya 3 persen pada paruh pertama tahun 2022.
Permintaan batu bara di India juga diperkirakan akan meningkat karena pertumbuhan ekonomi negara itu dan penggunaan listrik yang lebih luas.

Uni Eropa juga diperkirakan berkontribusi terhadap permintaan batu bara, karena semakin beralih emas hitam ini dalam produksi listrik untuk menggantikan gas atau menyimpannya untuk musim dingin karena penurunan impor gas Rusia.
IEA dalam prediksinya juga menambahkan, pasar batu bara akan tetap bergejolak pada 2023, terutama setelah embargo batu bara Uni Eropa (UE) berlaku, dan harga dapat terus tumbuh dengan baik hingga tahun depan.

"Karena melonjaknya harga gas alam telah membuat batu bara lebih kompetitif di banyak pasar, harga batu bara internasional pada gilirannya juga akan meningkat," kata IEA juga.
 
Sanksi dan larangan batu bara asal Rusia telah mengganggu pasar yang akan kekurangan stok. Rusia yang merupakan eksportir utama batu bara telah berkontribusi terhadap kekurangan pasokan. 

Dengan produsen batubara lainnya menghadapi kendala dalam mengganti produksi Rusia. ”Akibatnya harga di pasar berjangka batu bara menunjukkan bahwa kondisi pasar yang ketat diperkirakan akan berlanjut hingga tahun depan dan seterusnya,” tandas IEA dalam pemaparannya lagi. (tim redaksi)


#batubara
#hargamelonjak
#permintaanglobal
#perangrusia
#hargagasnaik
#emashitam
#badanenergiinternasional
#iea

Tidak ada komentar