Breaking News

Bangladesh Pangkas Jam Sekolah dan Kerja Demi Hemat Listrik

Pemadaman listrik di Bangladesh (aljazeera)

WELFARE.id-Bangladesh akan memangkas jam sekolah dan mengurangi jam operasional kantor guna mengurangi kekurangan listrik negara. Saat ini, Bangladesh tengah berada pada penurunan ekonomi yang semakin dalam. 

Sekretaris Kabinet Bangladesh Khandker Anwarul Islam mengatakan, sekolah yang sebelumnya hanya ditutup pada Jumat, kini juga akan ditutup pada hari Sabtu. Dalam keadaan normal, sekolah di Bangladesh buka selama enam hari seminggu, yakni Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Sabtu, dan Ahad. 

"Sementara itu, kantor pemerintah dan bank akan memangkas jam operasional menjadi tujuh jam sehari, dari sebelumnya delapan jam. Namun, kantor swasta akan diizinkan untuk mengatur jam operasional mereka sendiri," katanya seperti dilansir laman BBC, Jumat (26/8/2022). 

Keputusan yang mulai berlaku Rabu 24 Agustus 2022 menurutnya untuk mengurangi penggunaan listrik di tengah kekhawatiran atas kenaikan harga bahan bakar dan dampak perang Ukraina. 

Ia menambahkan bahwa kantor pemerintah dan bank akan memotong hari kerja mereka menjadi tujuh jam dari delapan jam sebelumnya. "Mulai Rabu, kantor-kantor pemerintah akan bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 3 sore dan bank dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore. Kendati demikian, kantor swasta akan diizinkan untuk mengatur jadwal mereka sendiri," terangnya. 

Dia menambahkan, pemerintah akan terus memberikan listrik ke desa-desa, termasuk di pagi hari ketika tanaman diairi. Banyak bagian Bangladesh diketahui mati listrik selama lebih dari dua jam sehari. 

Negara ini menghasilkan sebagian besar listriknya dari gas alam, beberapa di antaranya diimpor. Para pejabat telah menutup semua pembangkit listrik tenaga diesel negara yang menyumbang sekitar 6 persen dari pembangkit listrik Bangladesh, karena meningkatnya biaya impor bahan bakar. 

Gangguan pasokan yang disebabkan oleh perang Ukraina telah menyebabkan melonjaknya harga energi dan makanan global. Bangladesh telah mengambil langkah-langkah dalam beberapa pekan terakhir untuk mengurangi tekanan pada cadangan mata uang asingnya yang menurun. 

Bulan lalu, harga bahan bakar dinaikkan lebih dari 50 persen. Pemerintah mengatakan sedang menjajaki opsi untuk mendapatkan bahan bakar yang lebih murah dari Rusia di bawah pengaturan khusus. Keputusan itu menuai kritik, tetapi pemerintah mengatakan perlu memangkas kerugian di tengah kenaikan harga bahan bakar internasional. 

Protes jalanan terhadap harga BBM yang lebih tinggi telah terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Pemerintah berjanji harga BBM domestik akan disesuaikan setelah harga internasional turun. 

Negara ini lebih sering mengalami pemadaman listrik setelah pemerintah menghentikan operasi semua pembangkit listrik tenaga diesel, mengurangi produksi listrik harian sebesar 1.000 megawatt. 

Namun, pihak berwenang telah berjanji untuk terus memasok listrik ke zona industri untuk membantu mendukung ekonomi negara itu senilai USD416 miliar, yang telah berkembang pesat selama dekade terakhir. 

Oposisi negara itu menuduh pemerintah gagal mengendalikan korupsi dan menghilangkan kerugian di sektor energi. Pada Juli, Bangladesh mencari pinjaman yang tidak ditentukan dari Dana Moneter Internasional, menjadi negara ketiga di Asia Selatan yang melakukannya baru-baru ini setelah Sri Lanka dan Pakistan. 

Cadangan mata uang asing Bangladesh telah menyusut menjadi sekitar USD40 miliar. Pada  Juli, Bangladesh menjadi negara Asia Selatan ketiga yang mencari pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF), setelah Sri Lanka dan Pakistan. 

Sementara ukuran pinjaman potensial belum diputuskan, pembicaraan diharapkan akan dimulai setelah pertemuan Musim Semi Bank Dunia dan IMF pada Oktober. (tim redaksi) 

#bangladesh
#bangladeshpangkasjamsekolahdankerja
#hematlistrik
#krisisbangladesh
#bangladeshmenghematlistrik

Tidak ada komentar