Breaking News

Angka Kelahiran Kian Rendah, Populasi Korea Terancam

Ilustrasi (net)

WELFARE.id-Data terbaru dari Statistics Korea menunjukkan Korea Selatan (Korsel) mencatat jumlah kelahiran bayi terendah pada kuartal kedua tahun ini. Dalam laporan ini mengarisbawahi situasi demografis Negeri Ginseng yang suram. 

Berbanding terbalik, angka kematian naik ke level tertinggi sepanjang masa di tengah penuaan yang cepat dan pandemi COVID-19. "Sebanyak 59.961 bayi lahir pada periode April-Juni, turun 9,3 persen dari tahun sebelumnya," kata Statistics Korea seperti dilansir laman Yonhap, dikutip Jumat (26/8/2022). 

"Ini merupakan jumlah persalinan terendah selama kuartal kedua sejak badan statistik mulai mengumpulkan data terkait pada 1981," tambahnya. 

Penurunan angka kelahiran kronis di negeri Asia Timur tersebut disebabkan banyak anak muda menunda, menyerah untuk menikah atau memutuskan untuk tidak memiliki bayi. Pemicunya adalah perlambatan ekonomi dan harga rumah yang tinggi, dikombinasikan dengan perubahan norma sosial tentang pernikahan. 

Tingkat kesuburan total negara mencapai 0,75 anak pada kuartal kedua, turun dari 0,82 dari tahun lalu. Ini menandai yang terendah untuk setiap kuartal kedua. Tingkat kesuburan diperoleh dari jumlah rata-rata anak yang dikandung seorang wanita seumur hidupnya. Pada Juni, jumlah bayi baru lahir mencapai 18.830, turun 12,4 persen dari tahun lalu. 

Sementara itu, tingkat kematian negara meningkat selama periode ini. Dampak penuaan yang cepat dan pandemi mendorong jumlah kematian ke rekor tertinggi pada kuartal kedua sepanjang masa. 

Sebanyak 90.406 orang meninggal dalam periode sama, naik 20,5 persen dari tahun sebelumnya. Pada Juni, jumlah kematian juga naik 1,9 persen per tahun ke rekor tertinggi sebanyak 24.850. Penghitungan tersebut menandai kenaikan bulan ke-16 berturut-turut. 

Populasi negara tersebut juga menurun selama 32 tahun terakhir. Korsel melaporkan penurunan alami pertama dalam populasinya pada 2020 menyusul tren demografi yang suram terus berlanjut. 

Sementara itu, jumlah pernikahan turun 1,1 persen secara tahunan menjadi 47.734 pada kuartal kedua. Semakin banyak orang yang menunda pernikahan karena pandemi Covid-19. Pada Juni, pernikahan turun 8,2 persen dalam setahun menjadi 14.898. 

Perceraian turun 11,7 persen dalam setahun menjadi 23.156 pada periode April-Juni. Pada  Juni, perceraian menurun 13,2 persen menjadi 7.586. 

Para ahli menyuarakan keprihatinan bahwa negara itu mungkin menghadapi "gempa usia" mulai tahun 2030-40, guncangan demografis seperti gempa bumi dari penurunan populasi dan penuaan yang cepat, jika tidak menangani masalah ini pada waktu yang tepat. 

Populasi usia kerja Korea Selatan diperkirakan akan turun 35 persen selama 30 tahun ke depan karena rekor angka kelahiran yang rendah dan penuaan yang cepat, menurut perkiraan pemerintah. (tim redaksi) 

#korea
#koreaselatan
#southkorea
#koreakrisiskelahiran
#kelahiranbayirendah

Tidak ada komentar