Breaking News

1500 Orang Mengungsi Akibat Kebakaran Hutan di Spanyol

Kebakaran hutan di Spanyol (sxenics/EPA) 

WELFARE.id- Kebakaran hutan terjadi di timur laut Spanyol. Api dengan cepat meluas di luar kendali pada hari Minggu (14/8/2022). Akibatnya delapan desa dengan lebih dari 1.500 orang di provinsi Zaragoza harus dievakuasi. 

Kepala pemerintah daerah Aragon, Javier Lamban mengatakan, situasi kota Añon de Moncayo kini kritis. Menyelamatkan nyawa dan melindungi desa merupakan prioritas utama sekitar 300 petugas pemadam kebakaran yang diterjunkan ke lokasi. 

Kebakaran hutan yang berawal pada hari Sabtu (13/8/2022), dalam waktu kurang dari 24 jam telah meluas mencapai 50 kilometer. 

Menurut kantor berita EFE, luas permukaan yang terbakar diperkirakan mencapai 8.000 hektar. 

Warga yang mengungsi kini berlindung ke tiga pusat olahraga berbeda, di kota-kota terdekat. Petugas pemadam kebakaran mengatakan prospek menjinakkan api sangat tergantung pada cuaca, dan hingga saat ini diperkirakan kecepatan angin masih berada di sekitar 60 kilometer per jam. 

Kekeringan dan suhu yang sangat panas di Spanyol mengubah tahun 2022 menjadi tahun terburuk abad ini dalam hal kebakaran. 

Sejauh ini Kementerian Transisi Ekologi Spanyol mencatat terjadinya 43 kebakaran hutan yang besar, yang lebih menghanguskan sekitar 500 hektar lahan; atau berarti empat kali lebih luas dibanding tahun sebelumnya dan menjadi rekor dalam sepuluh tahun terakhir. 

Benua Eropa sendiri saat ini sedang diterjang gelombang panas yang membuat suhu tembus 40 derajat celcius. World Meteorological Organization (WMO) memprediksi gelombang panas ini bisa terus terjadi hingga berdekade-dekade. 

Dilansir UN News, pola itu disebut terkait aktivitas manusia yang berkontribusi pada pemanasan planet. Dampak besar berisiko terjadi pada sektor agrikultur. "Kami memperkirakan melihat dampak-dampak besar pada agrikultur. Pada gelombang panas sebelumnya di Eropa, kita kehilangan sejumlah besar panen. Dan di bawah situasi terkini, kita sudah terkena krisis pangan global akibat perang di Ukraina, gelombang panas ini akan membawa dampak pada aktivitas-aktivitas agrikultur," kata Petteri Taalas, Sekretaris Jenderal WMO, dalam konferensi pers di Jenewa. 

Pihak WHO menyebut gelombang panas akan terjadi lebih sering hingga tahun 2060-an. Gelombang panas di Eropa saat ini mungkin akan terus berlanjut hingga pertengahan pekan depan. 

Dampak dari gelombang panas bukan hanya membuat situasi tidak nyaman, tetapi berbahaya karena bisa menjebak polusi dan mengurangi kualitas udara. Akibatnya, para lansia terdampak parah. Pada gelombang panas 2023, sekitar 70 ribu orang meninggal di Eropa. 

WHO turut menyorot masalah gelombang panas ini karena gelombang panas memiliki dampak langsung terhadap kesehatan. Akses kepada makanan dan minuman pun terkena risiko, serta ada ancaman kekurangan air. (tim redaksi) 

#kebakaranhutan
#spanyol
#kebakaranhutanspanyol
#zaragoza
#wargamengungsi
#cuacapanaseropa
#forestfire
#forestfireinspain

Tidak ada komentar