Breaking News

Tahun Ajaran Baru PTM, Waspadai Anak Alami Kondisi "After-School Restraint Collapse"

Anak ngambek. Foto: Ilustrasi/ Freepik

WELFARE.id-Setelah hampir 2 tahun sekolah dari rumah, tahun ajaran baru ini pelajar kembali melakukan Pengajaran Tatap Muka (PTM). Itu artinya, anak harus bangun pagi dan pulang sekolah lebih siang dengan jadwal normal.

Kondisi mendadak seperti ini bisa membuat mental anak sulit beradaptasi. Mereka yang terbiasa belajar santai via zoom, kini harus serius diajar oleh guru di sekolah.

Nah, orang tua harus siap menghadapi situasi anak pulang dalam kondisi bad mood. Kondisi ini dikenal dengan istilah after-school restraint collapse.

Anak pulang bisa dengan kondisi marah, menangis, bahkan mengamuk karena kelelahan fisik dan mental. Melansir dari Rice Psychology, Rabu (13/7/2022), after-school restraint collapse adalah istilah yang merujuk pada kondisi anak yang mengalami kelelahan batin di sekolah dan meluapkannya ketika di rumah.

Saat di sekolah, anak menahan perasaan-perasaan tak nyaman yang dirasakannya, kemudian sesampainya di rumah, kemarahan, kesedihan, kelelahan, dan kekecewaan, dilampiaskannya menjadi satu lewat perilaku yang agresif. Anak yang mengalami kondisi psikologis ini sesungguhnya tidak berniat bersikap buruk. 

Hanya saja, mereka perlu melepaskan emosi tertahan selama di sekolah. Biasanya anak yang mengalami after-school restraint collapse menunjukkan perilaku sebagai berikut:

- Berteriak
- Tantrum
- Terlalu emosional
- Mudah sedih
- Memancing pertengkaran dengan saudara atau orangtua
- Menolak mengerjakan PR atau tugas rumah tangga
- Merengek atau merajuk
- Menangis sambil menjerit-jerit karena penyebab sepele

Lantas, apa penyebab kondisi tersebut. Di antaranya karena, kurang istirahat, menahan lapar, overstimulasi, jadwal belajar di sekolah dan di tempat les yang terlalu padat, rindu orang tua dan rumah, menghadapi topik pelajaran yang menantang, mengalami masalah di sekolah, kelelahan, serta menghadapi ketakutan dan kecemasan di sekolah.

Nah, kalau sudah begitu, Bunda harus bisa mengimbangi mood anak. Bunda bisa melakukan hal ini:

1. Beri anak jeda waktu sesampai di rumah

Terkadang, ketika anak sampai di rumah, orang tua segera ingin tahu apa yang dilalui anak selama seharian di rumah. Tak jarang, orang tua membombardir anak dengan banyak pertanyaan dan hal ini membuat anak merasa terpojok dan lelah.

Cobalah untuk memberi jeda waktu pada anak sesampainya anak di rumah. Sambut ia dengan pelukan dan senyuman sepulangnya dari sekolah. 

Ciptakan suasana yang tenang dan tidak terburu-buru agar anak dapat menenangkan diri. Sediakan makanan atau camilan, tapi tak perlu memaksanya segera makan. 

Anak membutuhkan waktu istirahat, baik itu fisik maupun mental di rumah. Apabila anak mengeluh ia terlalu capek, orangtua perlu me-review aktivitas selepas sekolah yang sebelumnya sudah dijadwalkan. 

Pertimbangkan apakah anak mampu menjalaninya dengan waktu yang terbatas, dan hasil yang didapatkan. Apabila padatnya kegiatan justru membuat anak stres, sebaiknya orangtua memilah-milah mana kegiatan yang perlu dihentikan.

2. Bekerjasama dengan guru dan sekolah

Mungkin tampak mengesalkan ketika anak berperilaku buruk di rumah. Tetapi yang harus disadari, di usianya yang masih dini, anak masih perlu belajar caranya mengelola emosi dan melampiaskannya dengan cara yang tepat. 

Jika pelampiasan emosi anak di rumah membuat orang tua kesulitan menghadapinya, Bunda bisa coba bekerjasama dengan guru dan sekolah untuk mengurangi ketegangan yang dirasakan anak. 

Konsultasikan dengan guru apa yang terjadi di rumah untuk mengetahui kesulitan yang sedang dihadapi anak saat di sekolah. Orang tua, guru, dan sekolah dapat berdiskusi untuk menemukan jalan terbaik agar anak dapat terhindar dari stres yang dapat memengaruhi perkembangan jiwanya. (tim redaksi)

#afterschoolrestraintcollapse
#anakngambeksepulangsekolah
#adaptasiptm
#pengajarantatapmuka
#anakkelelahansepulangsekolah
#badmood
#stresanak
#rasatidaknyamansepulangsekolah
#kesehatanmentalanak

Tidak ada komentar