Breaking News

Serupa Tapi Tak Sama, Ini Beda Servisitis dan Kanker Serviks yang Wanita Wajib Tahu

Dokter menunjukkan alat peraga organ. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Kanker serviks menjadi momok menakutkan bagi wanita. Di Indonesia, penyakit ini merupakan kanker nomor dua yang paling banyak menyerang wanita Indonesia setelah kanker payudara. 

Meski begitu, penyakit yang dapat menyerang area serviks bukan hanya kanker serviks semata. Salah satu penyakit yang juga dapat menyerang serviks adalah servisitis. 

Melansir hallodoc, Kamis (21/7/2022), baik kanker serviks dan servisitis, keduanya sama-sama penyakit yang perlu diwaspadai oleh wanita. Sebab, masih ada korelasi antara servisitis dengan kanker serviks. 

Menurut dr Fadhli Rizal Makarim, ada beberapa hal yang menjadi pembeda antara servisitis dengan kanker serviks:

1. Penyebab

Ia menjelaskan, kanker serviks disebabkan oleh human papillomavirus atau disingkat HPV. Perlu diketahui, bahwa ada lebih dari seratus jenis HPV, tapi sejauh ini hanya ada kira-kira 13 jenis virus yang bisa jadi penyebab kanker serviks. 

Virus ini kerap ditularkan melalui hubungan intim. Sementara itu, servisitis disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus yang terjadi saat berhubungan intim. 

Beberapa penyakit menular seksual juga dapat menyebabkan penyakit ini antara lain gonore, chlamydia, trikomoniasis, dan herpes genital. Servisitis dan kanker serviks dapat sama-sama terjadi pada semua kelompok usia. 

Namun, servisitis lebih banyak ditemui pada orang dengan usai di bawah 25 tahun. Sementara kanker serviks berisiko seiring bertambahnya usia.

2. Gejala

Jika dilihat dari gejalanya, sebenarnya hampir sulit membedakan antara kanker serviks dengan servisitis. Selain itu, sebagian besar pengidap servisitis dan kanker serviks tidak merasakan gejala berarti.

"Mereka baru menyadari terkena penyakit ini setelah menjalani pemeriksaan dokter untuk alasan lain. Sebaliknya, ada sebagian pengidap yang mengalami atau merasakan gejala dari penyakit ini," jelasnya.

Kedua penyakit ini hampir memiliki gejala yang sama seperti:

Keluar cairan dari vagina yang tidak biasa dan dalam jumlah banyak. Cairan ini bisa berwarna kuning pucat keabu-abuan yang disertai bau tidak sedap.

Buang air kecil yang sering dan menyakitkan.

Perdarahan dari vagina setelah berhubungan intim.

Vagina terasa nyeri.

Panggul terasa tertekan.

Sakit punggung.

Rasa nyeri pada bagian panggul atau perut.

Demam.

Biasanya servisitis yang tidak mendapatkan penanganan yang tepat bisa memicu munculnya kanker serviks. Gejala yang hanya terjadi pada kanker serviks tersebut antara lain:

Badan lemas dan mudah lelah.

Berat badan menurun padahal tidak sedang diet.

Kehilangan nafsu makan.

Siklus menstruasi tidak teratur.

Salah satu kaki membengkak.

3. Pengobatan

Cara mengobati servisitis biasanya melalui pengobatan sesuai penyebabnya. Servisitis yang disebabkan oleh klamidia, gonore, atau infeksi trikomoniasis membutuhkan antibiotik. 

Antibiotik dapat membunuh semua bakteri yang berbahaya maupun yang bermanfaat dalam vagina dan rahim, tapi juga bisa mengurangi kekebalan vagina. "Pasien sebaiknya tidak menggunakan antibiotik terlalu banyak," sarannya.

Obat antivirus dapat digunakan untuk membantu mengobati arthritis pada kelenjar serviks jika penyebabnya adalah virus. Namun, obat ini tidak dapat menyembuhkan infeksi virus. 

Obat ini hanya bekerja untuk mengontrol dan mengurangi gejala. Sementara pada kanker serviks, pengobatan yang dilakukan akan bersifat lebih intensif. 

Misalnya, operasi, kemoterapi, dan radioterapi. Dalam tindakan operasi, akan dilakukan pengangkatan bagian yang terinfeksi kanker. 

Apabila sudah parah, maka serviks, vagina, rahim, kemih, indung telur, tuba falopi, dan rektum dapat diangkat sehingga pengidap sudah tidak bisa lagi punya anak. Selain itu, pengobatan akan dibarengi dengan kemoterapi untuk mencegah pertumbuhan kanker. 

Sementara jika masih dalam tahap awal, radioterapi dilakukan bersamaan dengan operasi. "Secara umum, baik servisitis dan kanker serviks dapat dicegah dengan melakukan praktik seks yang aman. 

Seperti misalnya menggunakan kondom dan tidak berganti-ganti pasangan. Namun, secara spesifik, kanker serviks dapat dicegah dengan vaksinasi HPV dan melakukan tes pap smear secara rutin," tuntasnya. (tim redaksi)

#virushpv
#servisitis
#kankerserviks
#bedaservisitisdenganserviks
#vaksinasihpv
#organintimwanita

Tidak ada komentar