Breaking News

Penuhi Pasokan Jepang dan Kosel, Harga Batu Bara Sepanjang Pekan Ini Melonjak

Ilustrasi eksplorasi batu bara. Foto: net

WELFARE.id-Setelah turun, harga batu bara kembali melonjak. Sepanjang perdagangan pekan ini, harga ’emas hitam’ itu terus naik. Pada perdagangan Kamis (30/6/2022), harga batu bara kontrak Agustus di pasar ICE Newcastle ditutup di USD368,95 per ton atau naik 2,5 persen.

Menguatnya harga batu bara pekan ini, memperbaiki kinerja si batu hitam yang bergerak dalam tren negatif sejak Jumat pekan lalu. Sepanjang Jumat pekan lalu hingga Rabu pekan ini, harga batu bara terus melemah, kecuali pada Selasa (28/6/2022) di mana harga batu bara menguat tipis 0,15 persen.

Dalam sepekan lalu, harga batu bara sudah merosot 7,1 persen secara point to point. Dalam sebulan harga batu bara juga sudah melemah 1,9 persen.

Dilansir dari Montel News, kembali menguatnya harga batu bara didorong oleh permintaan yang masih tinggi dari kawasan Eropa dan Asia. Pasokan di tingkat global sudah meningkat tetapi adanya kekhawatiran gangguan persediaan membuat pelaku pasar khawatir sehingga harga kembali merangkak naik.

Kenaikan harga terutama terjadi pada batu bata berkalori tinggi yang diimpor dari Australia. "Pasar batu bara berkalori tinggi kembali ketat karena adanya kekhawatiran keseimbangan pasokan dan permintaan untuk 2022 setelah krisis (gas) di Eropa," tutur analis yang berbasis Singapura, kepada Montel News.

Menurutnya juga, importir Eropa kini mengincar batu bara dari Australia dan Indonesia untuk menggantikan pasokan dari Rusia. Australia merupakan eksportir terbesar di dunia untuk batu bara metalurgi atau kokas sementara Indonesia adalah eksportir terbesar untuk batu bara thermal.

Kedua negara ini tengah dihadapkan pada persoalan cuaca untuk meningkatkan produksi batu bara. Biro meteorologi Australia memperkirakan akan ada hujan deras dalam beberapa minggu ke depan di wilayah pesisir timur yang merupakan hub utama ekspor batu bara. 

Kondisi cuaca tersebut bisa mengganggu lalu lintas ekspor sehingga pasokan menipis. Sementara itu, permintaan batu bara dari Jepang dan Korea Selatan (Korsel) diperkirakan akan terus meningkat karena musim panas. 

"Permintaan dari Jepang dan Korsel juga cukup kuat karena tengah menghadapi musim panas. Jadi permintaan meningkat sementara pasokan kurang bisa mengimbangi," tutur trader asal Singapura itu.

Untuk diketahui, saat ini Jepang dan Korsel tengah menghadapi musim panas yang membuat penggunaan listrik meningkat. Jepang bahkan sampai meminta masyarakatnya mengurangi penggunaan listrik seperti AC agar pasokan listrik tidak genting. 

Suhu di Tokyo mencapai 35,1 derajat celcius pada awal pekan pekan ini. Sementara itu, Korea Selatan berencana menunda pembatasan kapasitas pembangkit listrik batu bara mereka sepanjang Juli-Agustus tahun ini. 

Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi tingginya permintaan listrik pada musim panas sekaligus mengurangi penggunaan LNG. Pembangkit listrik batu bara berkontribusi sekitar 40 persen terhadap produksi listrik Negeri Ginseng itu, sementara pembangkit listrik LNG sekitar 25 persen.

Permintaan batu bara dari Tiongkok (China, Red) juga diperkirakan akan meningkat menyusul pelonggaran karantina COVID-19. Pelonggaran tersebut diharapkan bisa mempercepat pemulihan ekonomi Negeri Tirai Bambu itu sekaligus meningkatkan permintaan batu bara.

Produksi batu bara Tiongkok pada Januari- Mei mencapai 1,81 miliar, atau naik 10,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Impor mereka juga turun 13,6 persen menjadi 96 juta ton pada lima bulan pertama tahun ini.

Namun, Tiongkok menggenjot impor dalam jumlah besar sepanjang Juni ini, terutama batu bara asal Rusia. Mereka memanfaatkan harga batu bara Rusia yang murah untuk meningkatkan pasokan. 

Dilansir dari CNBC International, impor batu bara dari Rusia selama 28 hari pada Juni 2022 sudah mencapai 6,2 juta ton, melonjak 55 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Impor mereka juga meningkat dibandingkan bulan Mei 2022 yang tercatat 5,5 juta ton.

”Meskipun permintaan dalam negeri masih rendah dan produksi meningkat, Tiongkok tetap mengimpor batu bara dari Rusia dalam jumlah besar karena ada diskon harga," tutur Pranay Shukla, dari S&P Global Market Intelligence. (tim redaksi)


#batubara
#hargamelonjak
#kebutuhanenergi
#importasi
#jepang-korsel
#musimpanas
#tiongkok
#australia

Tidak ada komentar