Breaking News

Penelitian: 27 Juta Orang Eks Pasien COVID-19 Idap Anosmia

Anosmia pascacovid. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Penelitian menunjukkan, sebanyak lima persen orang masih mengalami kehilangan fungsi indra penciuman atau perasa (anosmia) setelah mengidap COVID-19. Menurut seorang ahli, kondisi tersebut dapat dianggap sebagai krisis kesehatan masyarakat baru. 

Sekitar lima persen pasien yang pernah terkena COVID-19, atau sekitar 27 juta orang di seluruh dunia mengidap anosmia. Jumlah tersebut berdasarkan analisis yang diterbitkan di The BMJ (jurnal medis peer-review dari British Medical Association), di mana para peneliti mengevaluasi 18 studi.

Tim meninjau kasus kehilangan bau dan rasa di beberapa benua dan dalam berbagai kelompok demografis. Sekitar tiga perempat dari pasien yang terimbas mendapatkan kembali indranya dalam waktu 30 hari. 

Tingkat pemulihan meningkat dari waktu ke waktu, tetapi sekitar lima persen orang melaporkan "disfungsi persisten" enam bulan setelah infeksi COVID-19. Analisis juga menunjukkan, hilangnya penciuman dan rasa bisa menjadi masalah berkepanjangan. 

Kasus tersebut membutuhkan lebih banyak penelitian dan sumber daya kesehatan untuk pasien yang berjuang dengan gejala jangka panjang. Data dari hampir 3.700 pasien di Amerika Utara, Eropa, dan Asia dimasukkan dalam analisis. 

Riset mencatat, bahwa perempuan cenderung tidak mendapatkan kembali fungsi indra penciuman dan indra pengecap mereka daripada pria. Pasien dengan hidung tersumbat yang lebih besar juga lebih kecil kemungkinannya untuk sembuh.

Analisis juga menunjukkan, peningkatan yang stabil dalam proporsi pasien yang memulihkan indra penciumannya dari waktu ke waktu. Setelah 30 hari, sekitar 74 persen pasien sembuh. 

Usai 90 hari, jumlah itu naik menjadi 90 persen. Setelah enam bulan, sekitar 96 persen pasien mengatakan mereka bisa membaui lagi.

Kehilangan penciuman telah dikaitkan dengan tingkat kematian yang lebih tinggi pada orang dewasa yang lebih tua dan telah terbukti memiliki dampak besar pada kesejahteraan emosional dan psikologis. Hal itu disampaikan ahli rinologi di Universitas Stanford, Zara Patel, yang tidak terlibat dalam penelitian The BMJ.

"Aroma mendasari cara berinteraksi satu sama lain, mendikte kesan pertama Anda tentang orang lain, orang yang kita pilih untuk pertemuan seksual atau untuk pasangan seumur hidup," kata Patel, dikutip dari laman NBC News, Sabtu (30/7/2022).

Ahli rinologi di UW Medicine Sinus Center di Seattle, Aria Jafari, mengatakan, sekitar setengah dari pasiennya yang kehilangan indra penciumannya kemungkinan memiliki COVID-19 di beberapa titik. Banyak yang mengalami dampak dramatis pada kesejahteraan mereka karena kehilangan fungsi tersebut.

Jafari juga mengatakan, mereka cenderung bingung tentang hilangnya indra penciuman. Ini adalah bagian penting dari kehidupan setiap hari dan apa yang membuat kita menjadi manusia. 

Profesi sebagai koki profesional, pembuat cokelat, dan lainnya bergantung pada kemampuan mreka untuk menentukan bau dan rasa. "Hal paling umum yang saya dengar adalah bahwa itu mengarah pada isolasi sosial dan perasaan terputus dari dunia dan masyarakat seperti yang mereka ketahui. Dan itu bisa sangat mengganggu," ungkap Jafari.

Banyak pasien menggambarkan masa transisi yang menyusahkan ketika indra mereka kembali. Ada pasien yang mencium hal-hal yang tidak ada, seperti karet terbakar, aroma asap, atau bau busuk yang tidak normal. 

Orang yang tidak dapat mencium atau mengecap rasa dapat memiliki tingkat penyakit kejiwaan, depresi, dan kecemasan yang lebih tinggi. Dalam kasus ekstrem, pasien bisa mengalami kekurangan gizi.

Anosmia dan bedanya dengan Ageusia

Tak hanya anosmia, pasien COVID-19 juga merasakan ageusia, mengacu pada hilangnya indera perasa secara total. Gejala ini mirip dengan anosmia yang terjadi pada pasien covid.

Disebabkan oleh kondisi kesehatan seperti infeksi, kekurangan nutrisi, efek samping dari obat-obatan, ataupun karena COVID-19. Seringkali, indera perasa kembali setelah penyebab yang mendasarinya diobati.

Dikutip dari Very Well Health, Sabtu (30/7/2022), gejala utama ageusia adalah hilangnya rasa pada semua makanan. Ageusia dapat menyebabkan masalah lain seperti:

Kondisi atau cedera yang mempengaruhi kesehatan indera perasa dapat menyebabkan perubahan rasa. Ini bisa berasal dari kerusakan langsung pada taste buds atau gangguan pada sinyal saraf dari taste buds ke otak.

Perubahan indera penciuman adalah gejala umum dari flu atau pilek. Tetapi hilangnya rasa secara total lebih jarang terjadi dan seringkali merupakan efek samping dari hilangnya penciuman.

Para peneliti memperkirakan, sekitar 39% orang yang positif COVID-19 mengalami kehilangan indra perasa. Artinya, kira-kira setiap 4 dari 10 orang dengan COVID-19 akan mengalami perubahan indera perasa.

Studi ini menemukan perempuan lebih mungkin dibandingkan laki-laki untuk melaporkan kehilangan rasa. Selain itu, kehilangan rasa dirasakan lebih tinggi pada orang paruh baya. (tim redaksi)

#anosmia
#ageusia
#pasiencovid19
#pascasembuhcovid
#inderaperasa
#inderapengecap
#kehilanganrasa
#kehilanganbau

Tidak ada komentar