Breaking News

Minyak Mentah Dunia Terus Alami Kenaikan

Ilustrasi (net) 

WELFARE.id-Harga minyak mentah dunia terus mengalami kenaikan. Pada perdagangan Rabu (27/7/2022), kenaikan harga minyak mentah terjadi karena permintaan minyak mentah AS meningkat secara global di tengah krisis pasokan. 

Rebecca Babin, pedagang energi senior di CIBC Private Wealth Management mengatakan, investor cenderung mengabaikan kenaikan suku bunga AS yang diumumkan oleh Federal Reserve sebesar 75 basis poin. 

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 0,8 persen menjadi USD98,13 per barel, sementara minyak mentah Brent melonjak 2,13 persen menjadi USD106,6 per barrel. Sentimen bullish ini datang dari ekspor minyak mentah melonjak, karena jarak antara perdagangan berjangka AS dan London melebar, dan Eropa berebut untuk menggantikan minyak asal Rusia. 

Kenaikan suku bunga The Fed sebesar 75 basis poin juga meningkatkan kekhawatiran atas perlambatan ekonomi yang akan melumpuhkan pasar komoditas karena para pedagang menimbang pasar minyak mentah fisik, terhadap prospek jangka panjang yang lebih lemah. 

"Keputusan The Fed bukanlah katalis untuk pasar minyak mentah tetapi menghilangkan beberapa kekhawatiran pasar. Perdagangan minyak mentah baru-baru ini sangat berkorelasi dengan berita utama makro, tetapi perlu dicatat bahwa fundamental fisik meningkat secara signifikan,” katanya, dikutip Kamis (28/7/2022). 

Sejak awal tahun 2022, harga minyak mentah sudah mengalami lonjakan lebih dari 25 persen. Sebagain terjadi karena invasi Rusia ke Ukraina. Di sisi lain, pasar juga masih menunggu laporan kinerja perusahan minyak seperi Shell Plc dan Exxon Mobil Corp. Keduanya diperkirakan akan mengumumkan keuntungan besar setelah lonjakan harga energi. 

Salah satu pergerakan pasar minyak paling signifikan minggu ini adalah kesenjangan yang melebar antara kontrak West Texas Intermediate dan Brent. Pada hari Rabu, WTI diperdagangkan jauh lebih rendah USD9 di bawah Brent, setelah ditutup sehari sebelumnya dengan penurunan terbesar sejak 2019. 

“Harga yang tertekan di Amerika Serikat dibantu oleh cadangan strategis negara itu. Pelebaran spread ini juga tidak sepenuhnya didasarkan pada berakhirnya kontrak Brent September karena spread kalender 2-3 bulan Brent juga merupakan premi terbesar untuk setara WTI sejak Mei 2020,” kata Harry Altham, analis EMEA & Asia Energy untuk StoneX Group. (tim redaksi) 

#minyakmentah
#hargaminyakmentah
#minyakdunia
#thefed
#economics

Tidak ada komentar