Breaking News

Masuki Semester 2, Saham Emiten Batu Bara Masih Seksi

Pertambangan batu bara. Foto: instagram adaro

WELFARE.id-Krisis energi di Eropa akibat perang Ukraina dan Rusia diperkirakan masih akan membawa harga batu bara melangit sepanjang 2022. Perubahan sejumlah aturan di dalam negeri juga diperkirakan akan menambah keuntungan bagi perusahaan pemain emas hitam ini. 

Menyambut semester kedua 2022, pasar komoditas masih akan berpihak pada komoditas energi batu bara meskipun diadang isu transisi energi baru terbarukan (EBT). Analis Mirae Asset Sekuritas Juan Harahap mengatakan, prospek komoditas batu bara pada semester kedua tahun ini masih bisa bergerak lebih kuat dibandingkan dengan pergerakan harga komoditas lainnya. 

“Batu bara masih cukup menarik kalau melihat perkembangan terkait perang Rusia dan Ukraina. Di mana masih akan ada dirupsi di semester kedua. Ini melihat pemerintah Eropa akan melakukan pelarangan ekspor batu bara dari Rusia pada Agustus 2022 sebagai bagian dari sanksi kepada Rusia,” jelasnya dalam paparan secara virtual, dikutip Rabu (13/7/2022). 

Ditambah dengan keputusan Jepang yang juga turut memberikan sanksi kepada Rusia, juga mulai melakukan pergerakan untuk membekukan embargo batu bara Rusia. "Di sini kalau kita melihat nanti akan cukup menarik di mana dari sisi Jepang dan Eropa akan mencari destinasi baru untuk mengamankan pasokan energi mereka. Kita juga ketahui pada semester kedua ada winter season, mereka harus cepat mengantisipasi event tersebut,” katanya. 

Lantaran pasokan batu bara dari Rusia yang cukup signifikan, sampai 15 persen, dan Jepang juga besar ekspornya dari negara tersebut, ke depan kondisi ini akan menguntungkan bagi negara-negara produsen lainnya, seperti Indonesia, Australia, dan Afrika. Terlebih Australia dan Indonesia yang merupakan dua produsen batu bara terbesar. 

“Dari Jerman sudah melakukan kontak dengan para emiten, jadi semester kedua akan cukup menarik dari sisi suplai dan permintaan,” imbuhnya. 

Sektor batu bara juga menghadapi disrupsi dari rencana transisi energi terbarukan, di mana pembiayaan serta perizinannya terus mengalami penyusutan. 

“Tapi sebenarnya dari global bank financing, terutama di China mengalami peningkatan. Jadi sebenarnya untuk dari operasi pembangkit listrik tenaga batu bara masih cukup untuk jangka pendek belum terlihat akan digantikan dengan EBT,” terangnya. 

Ia mengatakan saat ini terdapat banyak perubahan segi peraturan dari industri batu bara di Indonesia. Pertama dari sisi obligasi pasar domestik (DMO) yang sekarang menggunakan harga pasar USD70. Juan mengatakan hal itu akan berdampak positif dengan pemain batu bara yang memiliki porsi pasar domestik yang besar. 

“Pada saat pembayaran tarif, dari saham yang kami pantau, ADRO dan PTBA akan lebih diuntungkan dibandingkan dengan perusahaan lainnya, karena dari sisi sales volumenya lebih besar di domestik. Volume produksi ADRO dan PTBA juga naik masing-masing 12 persen ke 58 juta ton dan 21 persen ke 36 juta ton yoy. Sementara ITMG hanya memproyeksikan pertumbuhan tipis 1,6 persen ke 19 juta ton secara yoy pada 2022," paparnya. 

Perubahan kebijakan tersebut, lanjutnya, akan menjadi katalis positif untuk emiten batu bara yang pendapatannya akan mengalami kenaikan signifikan pada tahun ini. Selanjutnya ada sejumlah peraturan baru mulai dari perpanjangan dari Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKB2B) akan menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), ada pula beberapa tambahan royalti yang berubah menjadi progresif, dan penurunan effective tax rate, serta adanya skema profit sharing dengan pemerintah di mana 10 persen dari net profit akan diturunkan untuk pendapatan pemerintah. 

“Perubahan ini akan berpengaruh paling cepat pada Adaro karena kontrak PKB2B-nya akan berakhir Oktober 2022 jadi peraturan ini akan mulai efektif pada 2023 untuk pengenaannya,” tandasnya. 

Dampaknya sendiri, melihat beberapa skenario saat harga batu bara di harga USD60 – USD300 per ton. Ketika harga batu bara di atas level USD300, net profit masih akan mengalami peningkatan dibandingkan antara peraturan baru dan lama. 

“Peraturan ini akan menurunkan net profit Adaro bila harga batu bara di level USD80 – USD120. Jadi paling menarik pada saat harga batu bara rendah di level USD60-USD70, peraturan baru akan menghasilkan net profit lebih besar karena dari segi penurunan dari tax rate ini bisa menguntungkan karena royalty rate tidak naik terlalu besar,” ungkapnya. 

Batu bara masih akan menarik sampai semester II/2022, sejumlah negara Eropa akan mencari cara amendapatkan pasokan batu bara dan sebenarnya pemain mengantisipasi cukup baik. Oleh karena itu, pada semester kedua akan ada potensi peningkatan RKAB, akan menjadi sentimen positif untuk pemain upstream batu bara. 

“Kami merekomendasikan ADRO melihat produksinya meningkat, selain itu, market juga menyukai rencana Adaro untuk diversifikasi ke bisnis bauksit dan tambang lain,” terangnya. (tim redaksi) 

#batubara
#prospekbatubara
#emitenbatubara
#batubaradisemester2
#komoditasbatubara

Tidak ada komentar