Breaking News

Kemenag Cabut Izin Pesantren Tersangka Pelaku Pencabulan Jombang

Ponpes Shiddiqiyyah Jombang. Foto : net

WELFARE.id-Kementerian Agama (Kemenag) cabut izin Pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah, Jombang, Jawa Timur usai anak kyai bernama Moch Subchi Al Tsani (MSAT) atau kerap dipanggil Mas Bechi (42) yang jadi tersangka kasus pencabulan. 

Sebenarnya, MSAT atau Mas Bechi itu sudah menjadi tersangka dugaan pencabulan sejak tahun 2019 lalu. Namun, sulitnya polisi menembus pesantren tersebut membuat penyelesaian hukum kasus pencabulan yang melibatkan MSAT atau Mas Bechi berlarut-larut hingga tahun 2022. 

Terakhir, upaya Polda Jawa Timur menembus pesantren tersebut ialah pada Kamis (8/7/2022). Melihat peristiwa dugaan pencabulan di pondok pesantren dan upaya penghalang-halangan proses hukum, Kementerian Agama pun menyatakan mencabut izin operasional Pesantren Shiddiqiyyah Jombang. 

Dikutip dari Kemenag.go.id Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Waryono, mengungkapkan, jika nomor statistik dan tanda daftar pesantren Shiddiqiyyah telah dibekukan. "Sebagai regulator, Kemenag memiliki kuasa administratif untuk membatasi ruang gerak lembaga yang di dalamnya diduga melakukan pelanggaran hukum berat,”  tegas Waryono, dikutip Jumat (8/7/2022). 

Tindakan tegas ini diambil karena salah satu pemimpinnya Mas Bechi merupakan DPO kepolisian dalam kasus pencabulan dan perundungan terhadap santri. Pihak pesantren juga dinilai menghalang-halangi proses hukum terhadap yang bersangkutan. 

Waryono mengatakan, pencabulan bukan hanya tindakan kriminal yang melanggar hukum, tetapi juga perilaku yang dilarang ajaran agama. "Kemenag mendukung penuh langkah hukum yang telah diambil pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus tersebut," terang Waryono. 

Pihak Kemenag akan berkoordinasi dengan Kanwil Kemenag Jawa Timur, Kankemenag Jombang, serta pihak-pihak terkait nasib santri di pondok pesantren tersebut. Meski sudah dicabut izinnya, Kemenag memastikan bahwa para santri tetap dapat melanjutkan proses belajar dan memperoleh akses pendidikan yang semestinya. 

Diharapkan, para orang tua santri ataupun keluarga dapat memahami keputusan yang diambil dan membantu pihak Kemenag. “Jangan khawatir, Kemenag akan bersinergi dengan pesantren dan madrasah di lingkup Kemenag untuk kelanjutan pendidikan para santri," pungkasnya. 

Terpisah, MSA, anak kiai Jombang yang menjadi tersangka pencabulan terhadap santriwati telah dibawa ke Mapolda Jatim, Jumat (8/7/2022) dini hari. 

Kini MSA menjalani serangkaian tahapan mulai dari pemeriksaan sidik jari hingga pemeriksaan kesehatan. Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Dirmanto mengemukakan, tahap pemeriksaan sidik jari dilakukan untuk memastikan identitas tersangka. "Kami lakukan upaya sidik jari agar memastikan yang kita bawa betul-betul tersangka," katanya. 

Dirmanto menjelaskan, polisi akan segera merilis kasus tersebut. Tersangka juga akan dilimpahkan ke kejaksaan. "Mengingat berkas kasus MSA atas dugaan kekerasan seksual tersebut, sudah dinyatakan lengkap atau P-21 oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim, sejak Selasa (4/1/2022). Kami akan rilis, dan berkoordinasi dengan pihak Kejaksaan," kata dia. 

Sebelumnya, polisi melakukan upaya penjemputan paksa terhadap MSA di Pondok Pesantren Shiddiqiyah Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis (7/7/2022). 

Polisi membutuhkan waktu kurang lebih 15 jam sebelum akhirnya MSA yang bersembunyi di pondok pesantren menyerahkan diri. Sekitar pukul 23.35 WIB, iring-iringan kendaraan yang membawa MSA tampak meninggalkan pesantren menuju ke Mapolda Jatim. (tim redaksi) 

#ponpes
#ponpesShiddiqiyyahJombang
#pencabulansantri
#pencabutanizinponpesshiddiqiyyah
#kemenag

Tidak ada komentar