Breaking News

Kasus Long-COVID Makin Banyak Ditemukan pada Remaja Berusia di Atas 14 Tahun

Penggunaan masker dan prokes untuk menghindari anak dari terpapar virus COVID-19. Foto: net

WELFARE.id-Melonjaknya kembali kasus penularan Corona terutama varian Omicron subvariant BA.5 dan BA.5 ternyata banyak menyerang anak-anak muda yang berusia di atas 14 tahun. 

Penelitian baru yang diterbitkan di JAMA Network Open memberikan informasi tentang risiko yang dihadapi anak-anak dampak terserang COVID-19 yakni long-COVID. Temuan mengungkapkan long-COVID kian umum terjadi pada remaja yang dirawat di rumah sakit di atas usia 14 tahun.

Studi baru ini adalah salah satu yang terbesar untuk menyelidiki efek berkelanjutan dari penularan COVID-19 pada anak-anak. Hampir 2.000 anak diamati setidaknya selama 90 hari setelah penyakit akut yang mereka derita.

Secara keseluruhan, 9,8 persen anak-anak yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19 menunjukkan beberapa gejala tersisa selama tiga bulan. Untuk anak-anak yang tidak dirawat di rumah sakit, angka itu turun menjadi 4,6 persen. 

Batuk, sesak napas, dan kelelahan adalah gejala long-COVID paling sering dilaporkan pada anak-anak. Wanita di atas usia 14 tahun yang mendapat perawatan rumah sakit dengan empat atau lebih gejala, kemungkinan besar menunjukkan tanda-tanda long-COVID dalam 90 hari.

Salah satu peneliti utama dalam studi baru tersebut, Nathan Kuppermann mengatakan tampaknya long-COVID muncul lebih jarang pada anak-anak dibandingkan dengan orang dewasa. 

Dia juga mencatat temuan itu dapat membantu orang tua dan dokter mengidentifikasi anak-anak yang paling berisiko terkena COVID-19.

”Temuan kami dapat menginformasikan keputusan kebijakan kesehatan masyarakat mengenai strategi mitigasi COVID-19 untuk anak-anak dan pendekatan skrining untuk long-COVID di antara mereka yang memiliki infeksi parah,” terang Kuppermann dilansir New Atlas, Sabtu (30/7/2022).

Tidak jelas alasan kenapa anak-anak yang lebih dewasa tampaknya lebih mungkin mengembangkan long-COVID daripada yang lebih muda. Satu hipotesis, anak-anak yang lebih tua lebih mungkin untuk dapat secara efektif mengungkapkan gejala spesifik dibandingkan dengan yang lebih muda, yang dapat menjelaskan tingkat long covid pada remaja.

”Seorang anak berusia dua tahun tidak akan memberi tahu tentang kabut COVID-19, dan saya tidak yakin orang tua mereka dapat mendeteksi kabut COVID-19 dengan cara yang mungkin dapat dilakukan oleh anak berusia 15 tahun,” ujar Kuppermann juga.

Sementara penelitian ini merupakan kabar baik bagi orang tua, itu juga menunjukkan kondisi yang terus-menerus masih menjadi masalah bagi sebagian kecil orang muda. 

Peneliti lain dalam proyek tersebut, Todd Florin mengatakan long-COVID masih muncul pada anak-anak. Ada kebutuhan penting bagi para peneliti untuk menyelidiki perawatan baru.

"Sayangnya, tidak ada terapi yang diketahui untuk long-COVID pada anak-anak dan penelitian lebih lanjut diperlukan di bidang ini," kata Florin.

Namun, jika gejalanya signifikan, dia mengatakan pengobatan gejala long-COVID adalah yang paling penting. Perawatan multidisiplin diperlukan jika gejalanya memengaruhi kualitas hidup. (tim redaksi)


#covid19
#penularanviruscorona
#long-covid
#penelitian
#jagakesehatan
#prokes

Tidak ada komentar