Breaking News

Jemaah Haji Indonesia Tahun Ini Lebih Sehat, Tingkat Kematian Menurun

Jemaah haji Indonesia. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Seluruh jemaah haji Indonesia yang tiba di Tanah Air tak lagi dikarantina. Hingga kini, para petugas di debarkasi juga sudah menyambut kedatangan jemaah haji Indonesia.

Pernyataan itu ditegaskan Juru Bicara Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Arab Saudi, Akhmad Fauzin. "Kita memastikan jemaah haji Indonesia tidak ada karantina setelah selesainya penyelenggaraan ibadah haji atau saat datang ke Indonesia," ucapnya, dikutip Selasa (19/7/2022).

Sejumlah jemaah sudah diterima di seluruh embarkasi di Indonesia. Ketika mereka datang, jemaah haji boleh langsung pulang.

Hanya saja, mereka akan dipantau selama 21 hari ke depan. "Mereka sudah diterima di seluruh embarkasi di Indonesia. Saat mereka datang, tidak ada karantina. Hanya selama 21 hari dipantau kesehatannya," tegasnya.

Ketika ditemukan orang yang mengalami demam dan penyakit menular saat pemantauan, lanjut Akhmad Fauzin, jemaah tersebut akan masuk radar dokter atau puskesmas setempat. 

Sebelumnya, Kepala Pusat Kesehatan (Kapuskes) Haji Budi Sylvana menegaskan, bagi jemaah yang dalam kondisi sehat dapat langsung kembali ke daerahnya masing-masing dan tidak ada karantina terpusat kepada jemaah.

"Tidak ada karantina terpusat selama 21 hari kepada jemaah haji. Kami ulangi, tidak ada karantina kepada jemaah haji kita,” tegasnya di Jeddah, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, ia menerangkan, bahwa jemaah akan diminta mengisi Kartu Kewaspadaan Kesehatan Jemaah Haji (K3JH). Tujuan pengisian kartu tersebut untuk melakukan pengawasan kesehatan secara mandiri selama 21 hari ke depan.

“Jadi tidak ada karantina, yang ada adalah pengawasan secara mandiri di daerah masing-masing. Jadi jemaah bisa melakukan aktivitas sebagaimana biasa,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan tentang jemaah haji yang meninggal dunia di Arab Saudi. Dari data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), tercatat sebanyak 58 jemaah haji meninggal dunia dengan penyebab kematian terbanyak adalah penyakit jantung. 

Jemaah haji wafat didominasi laki laki dari kelompok umur lebih banyak usia di bawah 60 tahun. Budi menyebut, ada tiga faktor yang mempengaruhi kondisi kesehatan jemaah haji. 

Faktor pertama, adalah adanya ancaman suhu dan kelembapan di Arab Saudi, di kala jemaah memiliki banyak aktivitas. Sementara faktor kedua adalah kondisi kesehatan jemaah haji Indonesia yang didominasi oleh mereka yang risiko tinggi karena faktor usia. 

Terakhir, adalah kapasitas tenaga kesehatan untuk merespons beragai masalah dan tantangan saat mengatasi kekambuhan penyakit jemaah. "Dengan berbagai cara, angka kematian bisa kita kendalikan, walaupun jemaah lansia, walaupun jemaah punya komorbid, tapi bisa kita kendalikan," ujarnya.

Dari sisi kapasitas tenaga kesehatan, dilakukan melalui penguatan formasi 30. Dimana setiap 30 jemaah paling risti di masing masing kloter harus selalu didampingi oleh Tenaga Kesehatan Haji (TKH) Kloter. 

Selain itu, juga adanya screening atau pemeriksaan ulang serta kontrol rutin bagi jemaah haji risti di setiap kloter. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini kesehatan jemaah haji jauh lebih prima. (tim redaksi)

#jemaahhajiindonesia
#kondisikesehatanjemaahhaji
#kondisikesehatan
#jemaahhajirisikotinggi
#tenagakesehatanhajikloter
#kementeriankesehatan

Tidak ada komentar