Breaking News

Irak Bergejolak, Demonstran Duduki Parlemen

Demonstran duduki gedung parlemen Irak 

WELFARE.id-Parlemen Irak diserbu untuk kedua kalinya dalam sepekan oleh massa pendukung ulama Muqtada al-Sadr yang kuat. Mereka kembali melanggar Zona Hijau berkeamanan tinggi di Baghdad. Hal ini karena mereka menentang pencalonan kandidat perdana menteri yang pro-Iran. 

Dilansir dari BBC, blok Sadr memenangkan kursi terbanyak pada pemilu Oktober lalu, tetapi tak berkuasa akibat kebuntuan politik. Kebuntuan selama 9 bulan ini terjadi karena perselisihan antara faksi-faksi politik yang berbeda telah menghalangi pembentukan pemerintah baru. 

Sadr, seorang ulama Syiah yang ingin mengakhiri pengaruh Amerika Serikat (AS) dan Iran dalam urusan internal Irak, mengeklaim kemenangan gerakan nasionalis Saeroun pada pemilu Oktober. Namun, mereka tak bisa membangun koalisi pemerintahan baru lantaran Sadr menolak bekerja bersama saingannya. 

Ia dan para pendukungnya telah menentang pencalonan Mohammed al-Sudani, yang didukung Kerangka Koordinasi yang dipimpin Syiah, sebagai perdana menteri. Pasalnya, mereka yakin ia terlalu dekat dengan Iran. 

Massa pendukung Sadr lantas menyerbu parlemen pada Rabu (27/7/2022) dan kembali lagi pada Sabtu (30/7/2022). Kerangka Koordinasi telah meminta warga Irak agar berdemonstrasi secara damai. "Negara badan konstitusionalnya dan perdamaian sipil adalah garis merahnya," serunya. 

Para demonstran awalnya berkumpul di ujung jembatan menuju Zona Hijau yang dijaga ketat. Zona tersebut adalah pusat sejumlah bangunan paling penting di ibu kota, termasuk kedutaan. 

Namun, puluhan demonstran merobohkan penghalang beton yang melindungi daerah itu dan berlari ke dalam parlemen. Mereka lantas mengibarkan bendera Irak dan potret Sadr di dalam parlemen. Massa pun bersumpah untuk menduduki parlemen sampai pemberitahuan lebih lanjut. 

Sementara itu, Perdana Menteri Irak saat ini, Mustafa al-Kadhimi, menginstruksikan pasukan keamanan untuk 'melindungi demonstran'. Ia juga meminta demonstran untuk mempertahankan gerakan damai mereka, menghindari eskalasi, serta mematuhi arahan pasukan keamanan yang bertujuan untuk melindungi mereka dan lembaga resmi. 

Di sisi lain, kerusuhan pada Sabtu (30/7/2022) telah melukai 100 warga sipil dan 25 personel keamanan, menurut Kementerian Kesehatan Irak. Enam di antaranya berada dalam kondisi serius. 

Gejolak mulai terjadi beberapa bulan setelah pemilihan umum yang gagal menghasilkan pembentukan pemerintahan. (tim redaksi

#irak
#gejolakpolitik
#gejolakpolitikirak
#parlemenirakdiserbudemonstran
#baghdad
#MuqtadaalSadr

Tidak ada komentar