Breaking News

Imbas Sanksi UE ke Rusia, Arus Perdagangan Batu Bara Berubah Haluan

Batu bara. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Arus perdagangan di pasar batu bara telah berubah, sejak invasi Rusia ke Ukraina dan larangan Barat pada impor energi Rusia. 

Ekspor batu bara Rusia diperkirakan telah meningkat sejak invasi Putin ke Ukraina dan pengumuman Uni Eropa (UE) bahwa mereka bersiap melarang impor batu bara Rusia mulai Agustus. 

Penurunan ekspor Rusia ke Eropa, yang merupakan pasar ekspor utama bagi Moskow sebelum perang telah diimbangi oleh peningkatan pengiriman batu bara Rusia ke Tiongkok dan India. Kedua pasar itu merupakan importir batu bara terbesar di dunia, yang juga sedang bergulat dengan kekurangan energi dan batu bara. 

Apalagi, batu bara Rusia tengah diskon besar-besaran, karena berharap bisa mengurangi beban tagihan impor mereka, saat harga batu bara, gas alam, dan minyak mentah melonjak. Peningkatan ekspor batu bara lintas laut Rusia baru-baru ini menjadi tantangan selanjutnya bagi UE dan Amerika Serikat, dalam upaya melumpuhkan pendapatan energi Putin. 

Ekspor batu bara Rusia melalui laut tercatat mencapai 16,45 juta ton pada Juni, dibandingkan dengan 16,56 juta ton pada Mei, menurut data Kpler. Angka ekspor ini masing-masing naik 3,5% dan 3,8% dibandingkan Juni dan Mei tahun lalu.

Sama halnya dengan minyak, Rusia kini beralih ke Timur, sementara Eropa mengimpor lebih banyak batu bara dari eksportir top selain Rusia, termasuk Afrika Selatan, Australia, dan Kolombia. 

Melansir Reuters, Eropa sendiri telah secara signifikan meningkatkan impor batu bara Afrika Selatan, dengan pembelian dari pusat ekspor batubara utama di Afrika Selatan melonjak sebesar 40% pada Januari-Mei 2022 dibandingkan dengan keseluruhan tahun 2021.

"Dengan banyak importir saat ini tidak dapat atau tidak mau mengimpor batu bara dari Rusia karena sanksi atau karena perubahan sukarela pada campuran pasokan batubara mereka. Kumpulan importir yang semakin besar sekarang mencari untuk mengamankan batu bara dari produsen lain," ujar Toby Hassall, Analis Utama, Riset Pasar Batubara, di Refinitiv Commodities Research, bulan lalu.

Selain itu, penurunan pasokan gas Rusia secara signifikan ke Eropa telah mendorong beberapa negara anggota UE untuk sementara kembali ke batu bara demi menghemat gas dan menjaga lampu serta pemanas tetap menyala ketika musim dingin tiba. 

Menurut Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck, pihaknya akan lebih mengandalkan pembangkit listrik dari batu bara untuk menghemat gas dan mengisi penyimpanan untuk musim dingin. 

Sedangkan Austria berencana untuk mengubah pembangkit listrik tenaga gas cadangan untuk beroperasi dengan batu bara. Pun demikian dengan Belanda, akan melonggarkan pembatasannya saat ini pada pembangkit listrik tenaga batu bara. 

Hal ini mendorong permintaan batu bara di Eropa meningkat, yang sedang bersiap untuk berhenti mengimpor batu bara Rusia secepatnya bulan depan. Pada April, UE bakal memberlakukan larangan impor batu bara dan bahan bakar fosil padat lainnya dari Rusia pada Agustus 2022 sebagai bagian dari putaran kelima sanksi UE terhadap Rusia atas invasinya ke Ukraina. 

Paket tersebut mencakup "larangan untuk membeli, mengimpor, atau mentransfer batu bara dan bahan bakar fosil padat lainnya ke UE jika berasal dari Rusia atau diekspor dari Rusia, mulai Agustus 2022." Mengutip Russell, Sabtu (9/7/2022), pangsa Rusia atas impor batu bara India masih relatif rendah, yaitu 4,4% bulan lalu. 

Sementara Tiongkok dan India, serta Turki, meningkatkan impor batu bara dari Rusia. UE, Jepang, dan Korea Selatan telah menurunkan impor batu bara Rusia di laut mereka dalam beberapa bulan terakhir. (tim redaksi)

#batubara
#invasirusiakeukraina
#eksporbatubararusia
#importirbatubaraeropa
#eropakembalikebatubara
#batubararusia

Tidak ada komentar