Breaking News

IDAI: Sindrom Peradangan Intai Anak Usai Terpapar COVID-19

Anak wajib memakai masker. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Corona masih ada. Pandemi COVID-19 belum usai. Maka itu, masyarakat wajib waspada dan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) selama di ruang publik. Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Yogi Prawira menyerukan, agar para orang tua mewaspadai multisystem inflammatory syndrome in children (MIS-C) pada anak usai terpapar COVID-19. 

Sindrom peradangan multisistem pada anak bisa terjadi setelah anak sembuh dari COVID-19. Pada saat fase akut memang 70 persen anak-anak itu mungkin gejalanya ringan, bahkan sebagian tanpa gejala.

"Tapi kita tetap harus waspada sesudah itu, kalau misalnya timbul gejala-gejala peradangan maka harus segera diperiksakan ke dokter," saran dr Yogi dalam webinar "Liburan Sehat, Anak Aman COVID-19" di Jakarta, dikutip Jumat (1/7/2022). Ia menambahkan, banyak yang berasumsi bahwa anak yang terinfeksi COVID-19 hanya tampak pada fase akut atau fase terinfeksi saja. 

Padahal, para dokter banyak menemukan adanya kondisi MIS-C pada anak usai terpapar COVID-19. Dr Yogi mengatakan kondisi MIS-C umumnya terjadi pada fase lanjut meski hasil PCR sudah negatif. Kondisi itu muncul dua hingga enam pekan setelah terpapar COVID-19.

MIS-C merupakan kondisi medis ketika bagian organ-organ tubuh pada anak mengalami peradangan atau inflamasi, termasuk jantung, paru-paru, ginjal, otak, kulit, mata, atau organ pencernaan. "Itu adalah sesuatu sindrom, peradangan hebat yang terjadi pada berbagai sistem organ, justru itu terjadi pasca COVID-19," ulasnya.

Jika anak terpapar COVID-19 dari fase akut menjadi kritis biasanya anak itu memiliki komorbid, seperti penyakit jantung bawaan, ginjal kronik, atau defisiensi sistem imun. Ia mengatakan, MIS-C sering kali terjadi pada anak-anak yang imunitasnya baik, tapi beberapa pekan atau bulan setelah COVID-19 teratasi baru timbul peradangan hebat.

"Jadi, pada anak kita tidak hanya bicara pada fase akutnya saja. Justru pada saat PCR yang sudah negatif, beberapa anak mengalami peradangan hebat sehingga yang paling utama adalah pencegahan (terkena COVID-19)," imbuhnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, para orang tua diminta untuk memperhitungkan faktor risiko bila ingin bepergian bersama anak keluar rumah. Seandainya memang harus melaksanakan perjalanan, ia merekomendasikan mencari lokasi yang terbuka atau ventilasinya terbuka, ada aliran udara.

"Walaupun outdoor, saya tetap menyarankan untuk menggunakan masker untuk anak di atas dua tahun," paparnya. (tim redaksi)

#covid19
#misc
#wajibmasker
#sindromperadangan
#peradangan
#anakterpaparcovid19

Tidak ada komentar