Breaking News

Harga Batu Bara Meroket, Saham pun Ditaksir Melejit

Batu bara. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Harga batu bara yang sedang menter membawa pengaruh positif pada pergerakan harga saham. Bahkan, saham PT Adaro Energi Indonesia Tbk. (ADRO) berpotensi tembus level Rp4.400 per saham, pekan ini.

Merujuk data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham batu bara terpantau menguat pada perdagangan pekan lalu. Adapun saham yang menguat yaitu PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sebesar 2,23 persen dan PT Indika Energy Tbk (INDY) sebesar 1,52 persen.

Sementara dua emiten lainnya juga berada di zona hijau, yakni PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO). Menguatnya harga saham emiten-emiten ini tak lepas dari tren kenaikan harga batu bara acuan global pada pekan tersebut sempat melesat hingga 6 persen. 

RHB Sekuritas memberikan rekomendasi trading buy dengan target harga di Rp4.400 untuk saham ADRO, melihat bullish harga batu bara yang terus berlanjut. "Kami melihat tren bertahan hingga akhir 2022, karena teka-teki panjang yang menjerat pasokan. 

Seperti, larangan impor batu bara Rusia dan bahan bakar fosil lainnya. Serta efek musiman pada produksi batu bara selama musim hujan di wilayah pengekspor utama  yang terus ada,” ungkap Analis RHB Sekuritas Fauzan Luthfi Djamal dan Andrey Wijaya, dikutip Senin (4/7/2022).

Di sisi lain, salah satu tantangan jangka panjang adalah gangguan dari segmen energi terbarukan yang awalnya kurang layak secara ekonomi, yang dapat menggantikan permintaan batu bara dalam waktu dekat. "Risiko penurunan lainnya ada pada kemungkinan perubahan kebijakan domestik, misalnya kenaikan pajak royalti dan kemungkinan kuota DMO yang lebih tinggi, yang perlu dipenuhi,” paparnya. 

Selain itu, Analis Astronacci Gema Goeyardi juga memberikan rekomendasi beli untuk saham ADRO dengan target harga di Rp3.900. Prediksi tersebut muncul seiring permintaan batu bara metalurgi meningkat.

Ditambah dukungan oleh pertumbuhan infrastruktur di wilayah Indonesia. "Produksi dan konsumsi baja diperkirakan tumbuh pesat tahun ini. Pemenuhan kebutuhan batu bara diperkirakan akan mencapai hampir 400 juta ton pada 2030. 

Negara-negara berkembang seperti India dan Tiongkok diharapkan menjadi pendorong pertumbuhan bisnis batu bara Indonesia, karena diperkirakan permintaan akan tetap stabil di masa mendatang,” kata Gema.

Selanjutnya, permintaan batu bara termal juga diperkirakan masih akan tetap menjadi bagian penting dari bauran energi di negara berkembang di Asia. “Meskipun dunia saat ini beralih ke energi terbarukan, banyak negara berkembang di Asia masih membutuhkan batu bara untuk pembangkit listrik karena ketersediaannya dan biaya yang terjangkau,” yakinnya. 

Pada kuartal I/2022, kinerja ADRO menghasilkan pertumbuhan pendapatan yang kuat sebesar 76,98 persen YoY menjadi USD1,22 miliar. Masih sedikit di bawah proyeksi Shinhan karena penurunan penjualan batubara sebesar 3 persen YoY menjadi 12,20 juta ton. 

Sementara itu, produksi batu bara turun 6 persen YoY menjadi 12,15 juta ton karena imbas musim penghujan yang mempengaruhi aktivitas pertambangan pada triwulan tersebut. Kebijakan pemerintah yang melarang ekspor batu bara untuk menghindari krisis listrik dalam negeri juga cukup mempengaruhi produksi batu bara. (tim redaksi)

#batubara
#adaroenergiindonesia
#prediksihargasahambatubara
#produksibatubara
#hargabatubaranaikterus
#permintaanbatubarameningkat
#dmo

Tidak ada komentar