Breaking News

Dampak Bangkrut, Harga Obat dan Alkes di Sri Lanka Meroket, Warga Tak Mampu Beli

Ilustrasi Sri Lanka. Foto : @asiapeaceresearch

WELFARE.id-Kondisi di Sri Lanka kian parah. Di tengah krisis ekonomi dan kekurangan bahan bakar minyak (BBM), harga obat-obatan dan peralatan medis di Sri Lanka kian meroket. 

Asosiasi Petugas Medis Pemerintah (GMOA) menyatakan, harga obat-obatan dan peralatan medis telah meningkat tiga hingga empat kali lipat di pasar lokal yang menyulitkan warga untuk mendapatkannya, lapor surat kabar Daily Mirror. 

Prasad Kolabage, salah satu anggota Media Committee GMOA, menyatakan bahwa obat-obatan tertentu tidak tersedia di pasaran sehingga masyarakat berusaha ke rumah sakit untuk mendapatkan obat karena tidak mampu membayar. “Sebagian besar masyarakat yang biasa membeli obat dari apotek swasta kembali ke rumah sakit pemerintah," ujarnya dikutip Jumat (7/8/2022). 

Mereka, lanjutnya, juga menghadapi kesulitan transportasi untuk datang ke rumah sakit, sayangnya rumah sakit yang memberikan obat-obatan terbatas. "Sebelumnya, rumah sakit biasa mengeluarkan obat-obatan yang pasien cukup untuk sebulan, tapi sekarang dibatasi dua minggu. Dulu obat dikeluarkan dua minggu, sekarang dibatasi seminggu. Kebanyakan dokter terpaksa meresepkan obat untuk dibeli di apotek," tambahnya. 

Beberapa importir obat-obatan dan medis telah berhenti mengimpor karena krisis keuangan yang disebabkan oleh krisis dolar. Di samping itu, obat-obatan sulit ditemukan karena masalah transportasi dan pemesanan. Beberapa importir telah berhenti mengimpor obat-obatan yang sepenuhnya berkontribusi pada kelangkaan medis di negara ini. 

Transportasi menjadi isu utama dalam pendistribusian obat dan perbekalan kesehatan. Para dokter telah membatasi dalam mengeluarkan obat-obatan karena persediaan medis yang terbatas di provinsi lain. 

Khususnya, Sri Lanka telah menghadapi krisis ekonomi terburuk sejak kemerdekaan pada tahun 1948, yang menyebabkan kekurangan akut barang-barang penting seperti makanan, obat-obatan, gas untuk memasak, dan bahan bakar di seluruh negara pulau itu. 

Pada April, negara yang hampir bangkrut itu mengumumkan penangguhan hampir USD7 miliar (Rp104 triliun) pembayaran utang luar negeri. Utang itu sudah jatuh tempo untuk tahun ini dari sekitar USD25 miliar (Rp374 triliun) total utang luar negeri yang akan jatuh tempo hingga 2026. 

Krisis mata uang asing akut mengakibatkan gagal bayar utang luar negeri. Krisis ekonomi khususnya berdampak pada ketahanan pangan, pertanian, mata pencaharian, dan akses ke layanan kesehatan. 

Produksi pangan pada musim panen terakhir adalah 40-50 persen lebih rendah dari tahun lalu, dan musim pertanian saat ini berisiko, dengan kekurangan benih, pupuk, bahan bakar, dan kredit. 

Sri Lanka adalah salah satu dari sedikit negara yang disebutkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) yang diperkirakan akan hidup tanpa makanan karena kekurangan pangan global yang diperkirakan terjadi tahun ini. (tim Redaksi) 

#srilanka
#srilankabangkrut
#krisisekonomisrilanka
#obatobatan
#wargasrilankakesulitaaksesobatobatan

Tidak ada komentar