Breaking News

BPS: Neraca Perdagangan Juni 2022 Surplus USD5,09 Miliar, Ditopang Komoditas Minyak Kelapa Sawit

Peti kemas di pelabuhan. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2022 masih mengalami surplus sebesar USD5,09 miliar. Surplus neraca perdagangan ini sudah terjadi sejak Mei 2020 atau 25 bulan berturut-turut.

Kepala BPS Margo Yuwono memaparkan, nilai ekspor Indonesia pada Juni 2022 mencapai USD26,09 miliar, naik 21,30% dibandingkan ekspor Mei 2022, sebesar USD21,51 miliar. Bahkan bila dibandingkan dengan ekspor Juni 2021 yang sebesar USD18,55 miliar, terjadi peningkatan 40,68%.

Untuk impor, nilainya mencapai USD21,00 miliar atau naik 12,87% dibandingkan Mei 2022 yang sebesar USD18,61 miliar. Sedangkan jika dibandingkan dengan Juni 2021 yang sebesar USD17,22 miliar mengalami kenaikan 21,98%.

"Pada Juni 2022, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus USD5,09 miliar. Untuk nonmigas surplus USD7,23 miliar, sementara untuk migas masih defisit USD2,14 miliar," kata Margo Yuwono dalam pemaparan Neraca Perdagangan Juni 2022, dikutip Sabtu (16/7/2022).

Yuwono menambahkan, minyak kelapa sawit menjadi penopang surplus neraca perdagangan Indonesia. Pada Juni 2022, minyak kelapa sawit menyumbang hingga 54% terhadap surplus neraca perdagangan Indonesia.

Bila dilihat menurut mitra dagang, negara penyumbang surplus terbesar adalah India, Amerika Serikat, dan Filipina. Neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus USD1,8 miliar dengan India pada Juni 2022. 

Nilai ekspor mencapai USD2,5 miliar sedangkan impor sebesar USD628,7 juta. "Komoditas utamanya adalah bahan bakar mineral, lemak, dan minyak hewan nabati,” ucap Margo.

Berikutnya dengan Amerika Serikat, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus USD1,68 miliar. Nilai ekspor Indonesia ke Amerika Serikat mencapai USD2,46 miliar sedangkan impor sebesar USD776,2 juta.

"Penyumbang surplus terbesar dengan Amerika berasal dari pakaian dan aksesoris atau rajutan serta alas kaki,” tutur Margo. Ketiga dengan Filipina dengan nilai surplus sebesar USD1,15 miliar. 

Nilai ekspor Indonesia ke Filipina sebesar USD1,27 miliar dan impor USD120,4 juta. "Komoditas penyumbang surplus dari Filipina berasal bahan bakar mineral, serta kendaraan dan bagiannya,” imbuhnya.

Neraca perdagangan Indonesia juga mengalami defisit terbesar dengan tiga negara yaitu Tiongkok, Australia, dan Argentina. Indonesia mengalami defisit dengan Tiongkok sebesar USD1,01 miliar dengan ekspor USD5,09 miliar tetapi impor mencapai USD6,1 miliar pada Juni 2022.

"Kalau dilihat komoditas utamanya adalah mesin, peralatan mekanis, serta bagiannya diikuti mesin, perlengkapan elektrik dan bagiannya,” bebernya lagi. Indonesia mengalami defisit USD480,8 juta dengan Australia pada Juni 2022. 

Nilai ekspor Indonesia ke Australia sebesar USD321,7 juta tetapi impor hingga USD802,5 juta. Komoditas yang menyebabkan defisit adalah bahan bakar mineral dan serealia. 

Sementara itu dengan Argentina, Indonesia mengalami defisit sebesar USD271 juta. Nilai ekspor dengan Argentina mencapai USD23 juta sedangkan nilai impor sebesar USD294 juta. "Kalau dilihat komoditasnya adalah ampas sisa industri makanan dan serealia,” tutupnya. (tim redaksi)

#badanpusatstatistik
#bps
#neracaperdagangan
#komoditasekspor
#nilaiekspor
#nilaiimpor
#surplus
#defisit

Tidak ada komentar