Breaking News

Beli Vitamin C Sama Saja Buang Uang, Peneliti: Lebih Baik Makan Sayur dan Buah

Ilustrasi vitamin C. Foto: net

WELFARE.id-Selama pandemi Corona penggunaan vitamin C melonjak drastis. Warga mengkonsumsi vitamin C guna menaikkan imun tubuh agar tidak terpapar virus COVID-19.

Data menunjukan penjualan suplemen meroket pada 2020 seiring pandemi terjadi di seluruh dunia, dan analis memperkirakan tren ini akan berlanjut selama satu dekade. 

Suplemen vitamin C, khususnya, paling melonjak, di mana Nutritional Outlook melaporkan penjualan meningkat hingga 61,8 persen pada 2020.

Merujuk data dan wawancara ahli, sangat sedikit orang yang perlu mengonsumsi suplemen vitamin, terutama yang memiliki milligram jauh lebih banyak daripada rekomendasi harian. 

Bahkan, dalam kasus diet tertentu yang bisa menyebabkan rendahnya asupan vitamin C, para ahli menganjurkan untuk makan lebih banyak sayur dan buah, alih-alih konsumsi suplemen.

”Jika orang benar-benar mengonsumsi semua vitamin C yang mereka beli, maka kemungkinan ada banyak orang yang mengonsumsi vitamin C secara berlebihan," terang ahli diet terdaftar dan profesor di University of Houston, Kirstin Vollrath, seperti dilansir Insider, Rabu (13/7/2022).

Selain itu juga, sebuah tim independen ahli pengobatan pencegahan baru-baru ini mengungkap bahwa tidak ada cukup bukti yang menunjukkan konsumsi suplemen makanan bisa mencegah penyakit kardiovaskular. 

Karena itu, tim tidak merekomendasikan orang dewasa sehat untuk mengonsumsi suplemen. Saran tersebut tentunya tidak berlaku untuk orang hamil, pasien penyakit kronis, anak-anak, dan mereka yang didiagnosis kekurangan vitamin.

Vollrath juga mengatakan, individu yang mengonsumsi makanan seimbang kemungkinan akan mendapatkan cukup vitamin C melalui makanan seperti kentang, apel, tomat, paprika, dan jeruk. 

National Institutes of Health (NIH) juga merekomendasikan konsumsi paprika merah atau jus jeruk yang menyediakan vitamin C lebih dari cukup.

Sedangkan Profesor Epidemiologi University of Washington, Philippe Hujoel, mengatakan, beberapa fad diet (diet yang tak memiliki bukti ilmiah) dapat mengakibatkan kadar vitamin C yang lebih rendah. 

Individu yang menjalani diet karnivora, keto, atau rendah karbohidrat dan makan lebih banyak daging daripada buah-buahan dan sayuran berisiko tidak memenuhi kebutuhan vitamin C harian.

Hujoel juga sepakat bahwa konsumsi suplemen bukan solusi terbaik dalam kasus ini. Karena, menurut dia, suplemen cenderung memiliki kadar vitamin C yang lebih tinggi daripada yang diperlukan.

Merek suplemen populer seperti Emergen-C dengan 1.000 miligram vitamin C, jauh di atas rekomendasi ahli yang hanya 75 mg untuk pria dan 90 mg untuk wanita. 

Gugatan class action 2013 oleh warga menuduh produsen Emergen-C sebagai penipu, di mana mereka memasarkan produknya dengan embel-embel penambah sistem kekebalan tanpa bukti ilmiah.

Vollrath juga mengatakan konsumsi vitamin C tidak akan membuat seseorang lebih sehat karena tubuh hanya menggunakan jumlah vitamin C yang dibutuhkan. Ketika seseorang mengonsumsi vitamin C, nutrisi diserap di usus dan dibawa ke sel untuk membantu membuat protein dan hormon.

Tubuh juga akan menyimpan beberapa vitamin C dalam sel. Akan tetapi, ginjal akan menyaring darah dan mengeluarkan kelebihan vitamin C dalam urine. ”Jadi, menghabiskan banyak uang untuk vitamin C dosis tinggi akhirnya terbuang begitu saja lewat urine," tandas Vollrath juga. (tim redaksi)

#vitaminc
#kesehatan
#sayur-sayuran
#mubazir
#ahlidiet
#kirstinvollrath
#universityofhouston

Tidak ada komentar