Breaking News

Bank Indonesia Siap Terbitkan Rupiah Digital

Ilustrasi (net) 

WELFARE.id-Bank Indonesia (BI) mengungkapkan akan segera menerbitkan panduan atau white paper mengenai peta jalan penerbitan Central Bank Digital Currency (CBDC) alias Rupiah Digital. Salah satu yang akan dipertimbangkan adalah bisa digunakan untuk transfer tunai dan dipakai dalam transaksi surat berharga negara (SBN). 

Deputi Gubernur BI Juda Agung menjelaskan, ada tiga rumusan masalah yang perlu diperhatikan dengan baik dalam merancang CBDC. "Kami perlu mengeksplorasi bagaimana kami dapat memanfaatkan fitur program CBDC untuk memfasilitasi transfer tunai dan surat berharga yang efisien, serta untuk memberikan layanan inovatif baru kepada pelanggan," ujarnya, dikutip Jumat (15/7/2022). 

Adapun rumusan masalah kedua yang dijadikan pedoman oleh BI yakni rupiah digital akan dirancang untuk dapat menyasar seluruh masyarakat di Indonesia, khususnya untuk daerah terpencil dan tertinggal, sehingga CBDC dapat diimplementasikan dengan baik. 

"Bagaimana kita dapat memungkinkan CBDC (Rupiah digital) untuk menyediakan jalur alternatif bagi orang-orang yang tidak memiliki rekening bank untuk membuka rekening transaksional dan berpartisipasi dalam ekonomi digital," tukasnya. 

Selanjutnya, BI juga ingin agar rupiah digital saling terhubung atau interoperabilitas, interkonektivitas, dan integrasi (3I) untuk mengintegrasikannya di dalam sistem pembayaran. 

Sehingga, nantinya rupiah digital dapat diterapkan dengan baik, tidak hanya di perkotaan, tapi juga di pedesaan dengan konektivitas internet yang terputus-putus. 

"Kita perlu menggali lebih dalam tentang bagaimana kita dapat mengaktifkan konektivitas dan interoperabilitas dengan CBDC lain, dan dengan pembayaran domestik yang ada seperti RTGS, sistem kliring, ATM dan kartu debit," jelasnya. 

"Sehingga cara terbaik bagi bank sentral untuk mengatasi ketiga permasalahan tersebut dan mempersiapkan CBDC adalah dengan menjajaki, bereksperimen, serta melakukan pilot project CBDC," tambahnya. 

Kendati demikian, BI tak merinci lebih detail kapan pilot eksperimen dan pilot project CBDC itu akan dilakukan. 

Menanggapi hal tersebut, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, langkah yang diambil BI dalam mengkaji konsep mata uang digital tersebut sudah tepat. 

Namun, Josua menyebut, penerapan rupiah digital ini masih akan membutuhkan waktu sangat panjang. Pasalnya, terdapat tantangan yang perlu dimitigasi sebelum implementasi mata uang digital di Indonesia. 

"Selain kesiapan infrastruktur, literasi terhadap keuangan digital secara umum dan uang digital ini masih belum merata. Maka, prosesnya kita lihat masih akan sangat panjang," imbuhnya. 

Konsep penerbitan mata uang digital dinilai cukup kompleks karena saat ini pinjaman online atau pinjol ilegal di Indonesia masih marak dan juga penerapan bank digital yang belum maksimal. 

Meskipun penggunaan uang elektronik oleh masyarakat mengalami peningkatan, persiapan penerbitan rupiah digital harus dimatangkan terlebih dahulu agar bebas risiko atau risk free. Selain itu, lanjutnya, sistem IT tiap bank sentral perlu diperkuat agar proses pemantauan peredaran uang di masyarakat menjadi lebih mudah. 

Dengan persiapan yang matang dari segala aspek, mata uang digital disebut dapat memperluas efisiensi dan ketahanan sistem pembayaran. "Ke depan, ini juga bisa menjadi salah satu integrasi transaksi antar negara yang sampai saat ini belum ada interkonektivitasnya," pungkasnya. (tim redaksi) 

#bankindonesia
#uangdigital
#rupiah
#rupiahdigital
#ekonomi
#alatpembayaran

Tidak ada komentar