Breaking News

Aktivitas Penyuntikan Gas Bersubsidi ke Gas 12 Kg Dibongkar Polda Banten

Ilustrasi penyuntikan gas ukuran 3 kg ke gas ukuran 12 kg. Foto: net

WELFARE.id-Melonjaknya harga gas ukuran 12 kilogram (kg) dimanfaatkan para oknum untuk melakukan penyuntikan menggunakan gas berukuran 3 kg atau gas bersubsidi.  

Tapi praktek curang yang merugikan keuangan negara itu berhasil dibongkar jajaran Polda Banten. Polisi menangkap pelaku penyuntik gas bersubsidi 3 kg ke gas nonsubsidi 12 kg di Kampung Ragas Grenyang, Desa Argawanan, Kecamatan Pulo Ampel, Kabupaten Serang. 

Polisi dalam kasus itu menetapkan dua orang menjadi tersangka. ”Kami mengamankan seorang berinisial MU,  43, dan satu orang lainnya Sapardi TK, 40, masih dalam pencarian orang (DPO),” terang Kanit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Banten Kompol Trisno Tahanuji saat konferensi pers di Markas Polda Banten, Kota Serang, Provinsi Banten, Jumat (157/2022).

Trisno menjelaskan, MU berperan sebagai operator yang memindahkan gas elpiji tiga kg ke tabung gas 12 kg. Sedangkan TK sebagai pemodal membeli tabung gas tiga kg dari pangkalan atau warung dan memasarkan tabung gas 12 kg.

Modus operandi yang dilakukan oleh para tersangka adalah dengan cara membeli gas elpiji 3 kg bersubsidi, kemudian memindahkan gas tersebut menggunakan alat suntik gas ke tabung elpiji nonsubsidi 12 kg. 

Pelaku meletakkan gas tiga kg di atas gas 12 kg dan disambungkan dengan alat suntik gas. Agar tidak terjadi ledakan pada saat penyuntikan, kata Trisno, pelaku menggunakan es batu untuk menurunkan suhu serta mempercepat proses pemindahannya. 

Para tersangka itu membeli gas tiga kg dari warung atau pangkalan, kemudian mengisi tabung gas 12 kg dan mendapatkan keuntungan Rp1.241.000 per hari.

Tersangka TK melakukan pembelian gas tiga kg dari warung atau pangkalan seharga Rp18.000 per tabung. Untuk mengisi tabung gas LPG ukuran 12 kg, menurut Trisno, pelaku menggunakan empat tabung gas 3 kg yang disubsidi pemerintah, kemudian gas 12 kg dijual dengan harga sebesar Rp145.00 per tabung.

"Saya kira berdasarkan analisis penyidik, tersangka mendapat keuntungan Rp 1.241.000 per hari," kata Trisno. Dia menambahkan, saat penangkapan pada Senin (21/6/2022), penyidik Ditreskrimsus Polda Banten menyita sejumlah barang bukti.

Di antaranya, satu unit mobil pick up warna hitam merek Suzuki nopol A-8846-AJ berikut STNK dan kunci kontak, tabung gas LPG ukuran tiga kg sebanyak 62 tabung (enam tabung ada isinya dan 56 tabung kosong). 

Lalu, turut disita tabung gas LPG ukuran 12 kg sebanyak 28 tabung (10 tabung ada isinya, enam tabung baru terisi setengah, dan 12 tabung kosong), 10 buah alat suntikan gas, satu bundel surat jalan, dan dua bundel kuitansi pembelian gas.

Dari hasil pemeriksaan penyidik kepada tersangka, praktik penyuntikan gas subsidi ini sudah berjalan sekitar dua bulan. Gas elpiji 12 kg hasil penyuntikan tersebut dipasarkan oleh tersangka TK dengan menggunakan badan hukum PT Sofa Marwah Gasindo. 

Namun, perusahan tersebut tidak terdaftar di Dirjen Migas Kementerian ESDM sebagai perusahaan yang menyalurkan penjualan gas elpiji.

Atas perbuatan kedua tersangka, penyidik menjerat dengan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi sebagaimana telah diubah dengan Pasal 40 angka 9 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan Pasal 62 juncto Pasal 8 huruf b dan c Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1e KUHPdengan ancaman maksimal enam tahun penjara dan denda maksimal Rp 60 miliar. (tim redaksi)


#kriminalitas
#penyuntikangas
#gassubsidi
#gasukuran12kg
#poldabanten
#ditreskrimsus
#kanit4tipidter
#kompoltrisnotahanuji

Tidak ada komentar