Breaking News

YLKI Sarankan COD Dihapus, Ini Tanggapan e-Commerce dan Masyarakat

Ilustrasi. Foto : net

WELFARE.id-Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menyarankan agar layanan cash on delivery (COD) dihapus. 

Hal ini dia katakan menyusul adanya kurir yang mendapat kekerasan oleh konsumen lantaran barang yang diterima tidak sesuai. 

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Konten dan Komunikasi Internal idEA Vriana Indriasari mengatakan, pihaknya sebagai asosiasi e-commerce tidak setuju jika COD dihapus. 

Ia mengungkapkan, layanan COD sangat membantu masyarakat ketika berbelanja online, khususnya masyarakat yang unbankable. "Perlu dipahami, saat ini COD bukan lagi model transaksi, tapi sudah jadi salah satu metode pembayaran. Sangat membantu bagi mereka para new online shopper, dan yang belum bankable. Jadi kita enggak setuju," ujarnya, dikutip Rabu (29/6/2022). 

Ia mengatakan, konsumen yang berbelanja online khususnya yang menggunakan metode COD sering sekali kurang teliti. Oleh sebab itu, dia menyarankan agar konsumen mengajukan komplain ke pihak platform jika menerima barang yang tidak sesuai dengan yang dibeli. "Ajukan komplain ke platform kalau ada merchant yang nggak respons ya kontak ke platform," kata dia. 

"Kalau main hapus gini aja bukan solusi. Istilahnya membasmi tikus dengan membakar lahan artinya bukan itu jalan keluarnya," tambahnta. 

Hal ini pun diamini oleh perusahaan e-commerce. Head of External Communications Tokopedia Ekhel Chandra Wijaya mengatakan, fitur COD yang diluncurkan sejak 2021 merupakan upaya mempermudah masyarakat untuk bertransaksi dengan pembayaran secara tunai, sekaligus menjaga kelangsungan bisnis para pegiat usaha terutama di tengah pandemi. 

Ia menjelaskan, pembeli yang menggunakan fitur bayar di tempat diharuskan untuk memberikan uangnya terlebih dahulu kepada mitra kurir pada saat pesanan tiba di tujuan sesuai dengan nominal yang ada pada faktur tagihan/invoice, sebelum membuka paket. 

"Namun, kalau setelah membuka paket, barang tidak sesuai dengan pesanan, maka pembeli tetap wajib membayar semua pesanan kepada Mitra Kurir. Kemudian bisa mengajukan komplain pengembalian barang atau retur kepada penjual melalui Pusat Resolusi Tokopedia yang tersedia 24/7," tukasnya. 

Ekhel juga mengimbau pengguna untuk mengikuti langkah-langkah dan prosedur yang berlaku untuk menjaga transaksi belanja yang aman dan nyaman bagi pengguna, penjual hingga kurir pengantar. 

Jika ada pihak yang terbukti melanggar, baik syarat dan ketentuan platform maupun hukum yang berlaku, Tokopedia akan menindak tegas dengan melakukan pemeriksaan, penundaan atau penurunan konten, banned toko atau akun, serta tindakan lain sesuai prosedur. "Kami mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan melalui Tokopedia Care yang tersedia 24/7," kata Ekhel. 

Sementara itu, Juru Bicara Lazada mengatakan, salah satu alasan perusahaanya mengeluarkan layanan COD ini adalah untuk memberikan kesempatan kepada para pelanggan Lazada yang belum memiliki akses perbankan, agar tetap bisa merasakan pengalaman berbelanja online. 

"Meski demikian, kami selalu mengimbau para pelanggan untuk memahami tata cara berbelanja dengan metode COD yang bisa dilihat di laman situs kami sebelum memilih metode ini untuk memastikan terjadinya transaksi yang sesuai peraturan di Lazada," kata dia. 

Lazada juga mengimbau kepada para pelanggannya yang menggunakan metode pembayaran COD untuk melakukan pembayaran sebelum membuka paket. 

Apabila setelah dibuka ternyata pelanggan menerima paket yang bukan pesanannya, pelanggan dapat segera melaporkan ke layanan Customer Care agar dapat ditelusuri dan dilakukan tindakan dengan segera. 

"Secara rutin, tim internal di Lazada juga terus melakukan pengawasan ketat atas aktivitas penjual dan pembeli di platform untuk memastikan semua pihak mematuhi peraturan serta kebijakan yang diberlakukan di Lazada demi kepuasan, keamanan serta kenyamanan berjualan dan berbelanja online di Lazada," katanya. 

Dalam hal penjual ataupun pelanggan terindikasi melakukan pelanggaran ketentuan bertransaksi di platform Lazada, kami akan memberikan sanksi sesuai dengan tingkat pelanggaran, mulai dari pemberian peringatan hingga penonaktifan toko atau akun yang bersangkutan," tukasnya. 

Pro kontra terkait COD pun ramai di dunia maya. "Kalo ada quisioner atau petisi atau apalah yg kaitanya ttng penghapusan sistem COD kayak gini tolong kasih tau dong. Aku mau ikutan," kata akun @jep*** 

"awalnya sy merasa setuju dng penghapusan COD. tetapi bgmn dng yg gakpunya akses ke bank/ewallet? klo misalnya di applikasinya dikasi semacam perjanjian, misal konsumen tdk akan menuntut kurir bila barang salah, apakah mmgkinkan? klo konsumen ga setuju pesanan otomatis batal," kata akun @gat**** 

"kenapa banyak yang setuju penghapusan system COD di ecommerce ya? maksudnya itu kan sebuah kemajuan dan trobosan baru disini walaupun memang banyak kekurangan yang harus dibenahi... harusnya dibuatkan system yang bagus sih biar pihak yang terkait tidak ada dirugikan," tulis akun @paro****. (tim redaksi) 

#ecommerce
#belanjadaring
#belanjaonline
#cod
#kasuscod
#kurircod

Tidak ada komentar