Breaking News

WHO Mewanti-wanti RI dan Peserta G20 soal Gelombang Baru COVID-19

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. Foto : ist

WELFARE.id-Meski mulai melandai, ancaman COVID-19 belumlah berakhir. Apalagi adanya varian baru BA.4-BA.5 yang mulai merebak. Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus pun mewanti-wanti potensi kemunculan gelombang baru COVID-19. 

Tedros mengatakan, penanganan pandemi COVID-19 di dunia terus mengalami kemajuan. Namun, ia khawatir banyak orang menganggap pandemi virus corona sudah benar-benar mereda hingga melonggarkan protokol kesehatan. 

Tedros khawatir banyak orang memiliki persepsi "sesat" yang menganggap pandemi corona sudah reda saat ini lantaran jumlah kasus positif COVID-19 turun. Padahal, tren kasus virus corona yang turun itu tak terlepas dari fakta frekuensi pengujiaan dan pengurutan genome virus di beberapa negara yang ikut menurun drastis. 

"Penularan sedang meningkat di banyak negara, termasuk negara beberapa dari anda (delegasi peserta G20) ini tak terlepas dari kenyataan bahwa pengujian dan pengurutan (genome) telah menurun tajam," ujarnya dalam Pertemuan Pertama Menteri Kesehatan Negara G20 di Hotel Marriot, Sleman, Yogyakarta, dikutip Selasa (21/6/2022). 

Ia mengatakan, sekitar 40 persen populasi dunia belum mendapat vaksinasi COVID-19. Oleh karena itu, meskipun kondisi relatif membaik, anggapan bahwa pandemi COVID-19 telah selesai merupakan sesuatu yang salah arah. 

”Persepsi bahwa pandemi telah selesai dapat dimengerti, tetapi itu salah arah. WHO sangat khawatir bahwa kurangnya pengujian dan pengurutan ini membutakan kita terhadap evolusi virus," imbuhnya. 

Tedros mengaku ia merasa khawatir siklus kelalaian protokol kesehatan akan membuat kasus ini terulang kembali di saat banyak krisis lain di dunia tengah mendominasi perhatian pemerintah dan media banyak negara. 

WHO pada Forum Kesehatan Dunia bulan lalu telah mempresentasikan proposal terkait arsitektur kesehatan global yang baru.  "Dan WHO yang menjadi pusat arsitektur keamanan kesehatan global," katanya. 

Salah satu dari rekomendasi itu adalah pembentukan Lembaga Perantara Keuangan (FIF) di Bank Dunia.  WHO dan Bank Dunia memperkirakan dibutuhkan 31 miliar USD setiap tahunnya guna memperkuat keamanan kesehatan global. Dua pertiga dari itu bisa berasal dari sumber daya yang ada, tetapi itu menyisakan celah USD10 miliar per tahun. "Tetapi itu menyisakan celah USD10 miliar per tahun. FIF yang fleksibel dan gesit akan membantu menutup kesenjangan itu," imbuhnya. 

Pihaknya, lanjutnya, telah mendengarkan dengan cermat negara-negara G20 dalam proses ini. "Usulan kami adalah bahwa FIF akan diawasi oleh dewan yang membuat keputusan tentang alokasi dana yang didukung oleh panel penasihat teknis. Dewan dan panel penasihat teknis didukung Bank Dunia," pungkasnya. (tim redaksi) 

#who
#covid19
#menkes
#g20
#jogjakarta

Tidak ada komentar