Breaking News

Waspada! 47 Persen Kasus Phishing Incar Uang dan Rekening Anda

Ilustrasi. Foto : net

WELFARE.id-Beberapa waktu lalu viral pasangan suami istri di Parpupuk Tabing, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat kehilangan uang Rp1,1 miliar di rekening tabungannya di Bank Rakyat Indonesia (BRI). 

Mereka diduga menjadi korban penipuan phising yang dilakukan oknum tak dikenal. Video mereka menangis usai kehilangan uang tersebut viral di media sosial.  "Uang Rp1,114 lenyap setelah mendapat pesan berupa link dan mengikuti petunjuk dari link tersebut. Uang yang berhasil diselamatkan atau tersisa hanya 14 juta," tulis akun duniapunyacerita 

"Saya dapat WA, ada perubahan transaksi katanya. Saya ditanya lewat WA itu, apakah jarang transaksi. Karena kalau jarang transaksi akan dipotong Rp150 ribu per bulan. Saya jawab jangan dipotong karena saya sering transaksi," kata sang suami dalam video tersebut, tapi tak menyelesaikan perkataannya karena menangis. 

Di Indonesia, ancaman phishing masih menyasar sektor keuangan mulai dari perbankan, sistem pembayaran, dan toko online. Data terbaru Kaspersky untuk Indonesia pada periode Februari hingga April tahun 2022 menunjukkan hampir separuh (47,08 persen) upaya phishing terkait dengan keuangan. 

Phishing merupakan kejahatan dunia maya yang menargetkan informasi atau data sensitif korban melalui sambungan telepon, email, atau pesan teks. Biasanya, pelaku phishing menyamar sebagai lembaga yang sah untuk memikat individu agar semakin percaya. 

Informasi yang didapatkan dari korban kemudian akan digunakan untuk mengakses akun penting, sehingga mengakibatkan pencurian identitas dan kerugian finansial. 

General Manager untuk Asia Tenggara di Kaspersky Yeo Siang Tiong mengatakan, selain peningkatan adopsi dalam transaksi digital di Asia Tenggara, pihaknya juga melihat munculnya super apps di kawasan ini. 

Super apss adalah aplikasi seluler yang menggabungkan semua fungsi moneter populer termasuk e-banking, dompet seluler, belanja online, asuransi, pemesanan perjalanan, dan bahkan investasi. 

"Menempatkan data dan uang digital kita dalam satu tempat dapat memicu efek bola salju setelahnya, dengan dampak serangan phishing yang membengkak pada tingkat yang tidak terduga," ujarnya dalam keterangan resminya, Selasa (14/6/2022). 

Yeo menjelaskan, aplikasi super atau super apps adalah cara bank tradisional dan penyedia layanan untuk dapat menonjol di tengah industri yang ramai. "Saat mereka mencoba bekerja dengan pihak ketiga dan menggabungkan layanan mereka ke dalam satu aplikasi seluler, permukaan serangan phishing meluas, membuka lebih banyak pintu eksploitasi berbahaya," lanjutnya. 

"Sudah diketahui bahwa para penjahat dunia maya mengikuti setiap jejak uang, maka penting bagi bank, pengembang aplikasi, dan penyedia layanan untuk mengintegrasikan keamanan siber sejak awal pengembangan aplikasi. Kami melihat potensi peretas untuk menargetkan aplikasi super yang sedang naik daun, baik infrastrukturnya maupun penggunanya melalui serangan phishing atau rekayasa sosial,” tambahnya. 

Menurut Yeo, ada beberapa hal yang perlu diingat dan dapat membantu individu melindungi diri mereka sendiri dari serangan phishing. Pertama, jangan menanggapi permintaan bahkan untuk membalas seperti SMS unsubscribe atau stop yang bisa menjadi trik untuk mengidentifikasi nomor telepon yang aktif. 

Kedua, hindari menggunakan tautan atau informasi kontak apa pun dalam email atau pesan, lebih baik langsung mengakses ke saluran kontak jika memungkinkan. Selanjutnya, pemberitahuan mendesak dapat diverifikasi langsung di akun online atau melalui saluran bantuan telepon resmi. 

Ketiga, perhatikan berbagai bentuk kesalahan ketik dan karakter aneh dalam teks. Dan terakhir, berpikir pelan-pelan apabila ada pesan yang mendesak. (tim redaksi) 

#phising
#kejahatanduniamaya
#kebocorandatapribadi
#kaspersky
#kejahatanonline
#sektorkeuangan

Tidak ada komentar