Breaking News

Tiket Pesawat Melambung Tinggi, Pemerintah Diminta Intervensi

Tiket pesawat. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Melonjaknya harga tiket pesawat dalam dan luar negeri membebani masyarakat. Kenaikan harga tiket pesawat yang melambung tinggi, menuai sorotan dari anggota fraksi Partai Demokrat.

Anggota Komisi V DPR dari Fraksi Partai Demokrat Irwan menilai, seharusnya pemerintah sebagai regulator dapat melakukan intervensi terkait kenaikan harga tiket pesawat tersebut. Ia mengaku telah mengingatkan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengenai itu.

"Sejak sebelum mudik sudah saya ingatkan Kemenhub soal kenaikan tiket pesawat yang terjadi di dalam negeri, seperti di Aceh, Papua, Kalimantan, Sulawesi dan Jawa, serta berbagai daerah. Hingga sekarang saya rasa belum ada langkah konkret mengatasi persoalan tersebut,” ujar Irwan kepada wartawan, dikutip Senin (6/6/2022).

Ketua DPD Partai Demokrat Kalimantan Timur itu menyarankan kepada regulator, khususnya Kemenhub, agar melakukan kebijakan tuslah tiket pesawat berupa fuel surcharge. "Saya harap ada kebijakan tuslah kembali diberikan mengantisipasi harga avtur yang melonjak naik. Jangan hanya bisa menyalahkan harga avtur naik. Lakukan segera intervensi,” tegasnya.

Ia juga akan menanyakan persoalan harga tiket pesawat ini ini kepada Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi dalam kesempatan rapat dengar pendapat di Komisi V. 

Sebab, sebelumnya Menhub telah mengeluarkan Keputusan Menhub Nomor 68 Tahun 2022 tentang Biaya Tambahan (fuel surcharge) Tarif Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri. Keputusan itu mulai berlaku sejak ditetapkan pada 18 April 2022.

“Saya akan pertanyakan ke pak Menteri Perhubungan ihwal ini, harga tiket pesawat. Sebaiknya dievaluasi saat ada kenaikan. Jangan cuma bisa salahkan harga avtur yang naik. Kenaikan ini justru makin memberatkan masyarakat,” bebernya.

Pengamat Penerbangan AIAC Aviation Arista Atmadjati mengatakan, kenaikan harga tiket saat ini memang sangat signifikan. "Biasanya nggak segitu. Baru seumur-umur naik harga tiket pesawat ke rute itu naik segitu. Mungkin hukum pasar juga. Permintaan naik namun jumlah pesawat malah drop," kata Arista kepada cnbcindonesia, dikutip Senin (6/6/2022).

Ia menambahkan, beberapa faktor tidak hanya karena harga avtur. Biaya avtur berkontribusi pada 40% komponen harga tiket, namun ada pula biaya ground handling, navigasi, dan lalu lintas udara juga naik.

"Namun memang kenaikannya terlalu signifikan (harga tiket), ini belum pernah terjadi, anomali juga ini," ulasnya. Selain itu menurut Arista, supply tempat duduk pesawat secara global juga tengah menurun. 

Dari informasi yang didapatkan ada maskapai yang biasa terbang selama 8 kali ke Singapura kini tinggal 2 kali imbas jumlah pesawat yang menurun. "Lain dari itu ya ada hukum pasar juga, kalau harga itu bertahan artinya sampai saat ini tiket-tiket ke Singapura dan Malaysia yang mahal itu masih ada juga yang beli," imbuhnya.

Ketua Umum DPP Astindo Pauline Suharno menambahkan, kini biaya tiket ke Singapura misalnya, one way dengan pesawat low cost bisa Rp3-5 juta sehingga pulang pergi mencapai Rp6-10 juta. "Padahal dulu tiket pulang-pergi (PP) dengan full service carrier hanya Rp2 jutaan," ulasnya. (tim redaksi)

#tiketpesawatmahal
#tiketpesawatnaik
#kenaikanhargaavtur
#anomaliharga
#komisi5dprri
#tuslahtiketpesawat

Tidak ada komentar