Breaking News

Tahan Banting, IHSG Juara 1 di Asia Pasifik

Ilustrasi. Foto : net

WELFARE.id-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mempertahankan posisinya sebagai pemberi imbal hasil paling tinggi di kawasan Asia Pasifik hingga hari ini, Jumat (24/6/2022). IHSG berada di zona hijau pada sesi terakhir perdagangan hari ini . IHSG ditutup naik 44,67 poin atau 0,64 persen ke 7.042,93. 

Pada penutupan perdagangan, terdapat 307 saham menguat, 198 saham melemah dan 182 saham stagnan. Transaksi perdagangan mencapai Rp17,8 triliun dari 24,9 miliar saham yang diperdagangkan. Indeks LQ45 naik 0,57 persen ke 1.018,985, indeks JII menguat 0,33 persen ke 591, indeks IDX30 naik 0,56 persen ke 544,026 dan indeks MNC36 menguat 0,05 persen ke 333,091. 

Sebagian besar indeks sektoral mengalami kenaikan antara lain infrastruktur 1,03 persen, energi 0,86 persen, properti 0,35 persen, transportasi 0,48 persen, non siklikal 0,94 persen, keuangan 0,51 persen, siklikal 1,28 persen, teknologi 1,88 persen, dan bahan baku 0,63 persen. Sedangkan yang melemah adalah industri 0,04 persen dan kesehatan 1,35 persen. 

Investor asing melakukan net sell sebanyak Rp997,67 juta di all-market. Pembelian asing di pasar reguler antara lain PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) Rp102,8 miliar, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) Rp80,9 miliar, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Rp30,3 miliar. 

Adapun penjualan asing di pasar reguler yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp57,9 miliar, PT Astra International Tbk (ASII) Rp42,4 miliar, dan PT ChROEN Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) Rp22,6 miliar. Sementara itu, saham-saham yang masuk top gainers yaitu PT Ricky Putra Globalindo Tbk (RICY) naik 35 persen ke Rp108, PT Harapan Duta Pertiwi Tbk (HOPE) naik 21,35 persen ke Rp216 dan saham PT Mahaka Media Tbk (ABBA) naik 10,59 persen ke Rp186. 

Adapun saham-saham yang masuk top losers antara lain, PT Primarindo Asia Infrastruktur Tbk (BIMA) melemah 6,76 persen di Rp276, PT Rig Tenders Tbk (RIGS) merosot 6,74 persen di Rp830, dan saham PT Wahana Inti Makmur Tbk (NASI) turun 6,72 persen ke Rp222. 

Melihat torehan ini, analis pun optimistis potensi kenaikan IHSG lebih lanjut masih terbuka lebar hingga akhir tahun. Sejak awal tahun IHSG naik 7,25 persen. Di sepanjang tahun berjalan, IHSG sempat menyentuh level tertingginya sebesar 7.276,19 pada 21 April 2022. Titik terendah IHSG sejauh ini berada di level 6.568,17 pada 25 Januari 2022. 

Kenaikan IHSG itu tidak lepas dari dorongan penguatan saham-saham berkapitalisasi pasar besar dari keluarga perbankan maupun teknologi di lantai bursa. Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) menjadi kontributor paling tinggi terhadap pergerakan indeks komposit. Sejak IPO pada 11 April 2022, GOTO menguat 16,57 persen menjadi Rp394. Dengan kapitalisasi pasar Rp469,01 triliun, penguatan GOTO berkontribusi sebesar 22,77 persen terhadap IHSG. 

Selanjutnya, saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) juga turun menambah daya IHSG dengan penguatannya 157,69 persen year-to-date (ytd) menjadi Rp64.000. BYAN berkontribusi terhadap IHSG sebesar 18,74 persen. Motor penggerak IHSG berikutnya berasal dari perbankan yaitu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang naik 23,04 persen, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang naik 9,53 persen, dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) naik 4,66 persen. 

Dilihat dari kenaikan harga saham paling tinggi, saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. yang paling tinggi melambung sebesar 1.675 persen menjadi Rp1.775. Agak jauh di bawahnya menempati peringkat kedua yaitu saham PT Bintang Samudera Mandiri Lines Tbk. (BSML) yang menanjak 415 persen dan saham PT Mega Perintis Tbk. (ZONE) yang naik 352,82 persen. 

Head of Equity Analyst Mandiri Sekuritas Adrian Joezer memperkirakan, IHSG akan mencapai level 7.800 pada akhir tahun ini. Bukan tanpa alasan, skenario untuk IHSG itu mempertimbangkan pertumbuhan Earning per Share (EPS) dari emiten yang berada di atas 20 persen. "Pemulihan pandemi Covid-19 yang semakin baik menuju endemi, serta commodity boom yang diharapkan dapat berujung pada peningkatan konsumsi,” ujarnya. 

Dengan ekonomi yang kembali bergeliat dan konsumsi meningkat, diharapkan bisa memicu kenaikan belanja modal atau capital expenditure dari para emiten. Belum lagi, prospek ekonomi yang menjanjikan di Indonesia juga akan terefleksi oleh penyerapan tenaga kerja yang lebih baik pada semester II/2022. 

Di sisi lain, Adrian menunjukkan bahwa posisi ekonomi Indonesia cukup baik di tengah-tengah gempuran sentimen eksternal saat ini. Beberapa perkembangan eksternal yang dapat memengaruhi pasar saham Indonesia a.l. pengetatan moneter di AS dan imbas Perang Rusia Ukraina. Adapun, dengan kondisi Indonesia yang memiliki neraca perdagangan kuat, external debt to GDP sehat, kondilis likuiditas domestik baik, hingga tingkat inflasi terjaga membuat Indonesia menjadi lebih "tahan" ketika sentimen global menekan. 

Belum lagi, dari dalam negeri tampil laba operasional emiten yang tumbuh sebesar 40 persen secara tahunan pada kuartal I/2022. “Kinerja yang sudah sangat baik ini mengidikasikan bahwa kinerja di Kuartal II 2022 akan lebih baik, terutama mempertimbangkan data selama Ramadan,” kata Adrian. 

Sementara itu, merespons kenaikan suku bunga yang cukup agresif dari Bank Sentral AS (Federal Reserve) atau The Fed, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan 3,50 persen pada Kamis (23/6/2022). Analis menyebut langkah itu sudah sesuai ekspektasi pasar dan ada beberapa saham yang bisa dicermati dengan keputusan tersebut. 

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menuturkan momentum dipertahankannya suku bunga acuan ini dapat dimanfaatkan investor untuk menyoroti sektor-sektor saham yang overweight. 

"Bicara suku bunga, memang kita mempersempit sektor yang bisa memberikan manfaat. Sektor yang melakukan ekspor seperti sektor batu bara, tambang logam, CPO, itu memang agak diuntungkan adanya faktor penguatan dolar AS dan harga komoditas," tukasnya. 

Mirae Asset Sekuritas pun memberikan rekomendasi netral ke sektor-sektor saham seperti unggas, jasa kesehatan, minyak dan gas, media, consumer goods, dan rokok. Menurutnya, investor masih bisa mencermati saham-saham tersebut selama masih ada faktor yang membuat sektor-sektor ini mendapatkan apresiasi. 

Ia juga menilai keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga ini telah sesuai seperti yang diharapkan pasar. Nafan mengapresiasi kebijakan BI yang cenderung mendukung pertumbuhan dan stabilitas. (tim redaksi) 

#ihsg
#ihsgperkasa
#pergerakansaham
#bursa
#perdagangansaham
#bei

Tidak ada komentar