Breaking News

Ramai-Ramai Naikkan Suku Bunga, Pertanda Resesi Global?

Ilustrasi. Foto : net

WELFARE.id-Baru mulai bisa bernafas setelah dua tahun dihantam COVID-19, kini persoalan baru muncul. Tak tanggung-tanggung, persoalan yang datang bak 'bom' yang mampu lumpuhkan ekonomi dunia. 

Pada laporan terbaru tentang Prospek Ekonomi Global yang dirilis oleh Bank Dunia, Ekonomi global diproyeksikan melambat menjadi 2,9 persen pada tahun 2022, lebih rendah dari proyeksi Januari sebesar 4,1 persen. Jika dibandingkan dengan tahun 2021 jauh melambat. Tahun lalu ekonomi global bertumbuh 5,7 persen. 

Inflasi yang tinggi jadi alasan dibalik terkikisnya pertumbuhan ekonomi global. Menurut Bank dunia, tingkat inflasi harga konsumen pada bulan April berada di 7,8 persen yoy, tertinggi sejak 2008. Rata-rata inflasi di negara berkembang mencapai 9,4 persen yoy, tertinggi sejak 2008 dan negara maju sebesar 6,9 persen yoy, tertinggi sejak 1982. 

Penyebab pertama dari tingginya inflasi adalah tingginya harga komoditas. Harga komoditas energi naik tinggi karana pasokan langka akibat pandemi, diperparah oleh konflik Rusia dan Ukraina. 

Begitu juga dengan komoditas bahan pangan yang saat ini harganya makin tidak terjangkau. Akibatnya aksi proteksionisme pangan bermunculan di berbagai negara. Sebenarnya malah membuat masalah rantai pasokan ini makin rumit. 

"Risiko dari stagflasi cukup besar dengan konsekuensi yang berpotensi mengganggu stabilitas bagi ekonomi berpenghasilan rendah dan menengah," ujar Presiden Bank Dunia David Malpass, dikutip Kamis (9/6/2022). 

"Bagi banyak negara, resesi akan sulit dihindari," lanjutnya. 

Dan, tambahnya, jika risiko terhadap prospek terwujud, pertumbuhan global dapat melambat bahkan lebih tajam. "Ini memicu resesi di seluruh dunia," imbuhnya. 

Krisis ini menjadi pemicu harga pengiriman kian mahal. Gangguan di pelabuhan utama Asia dan penguncian di kota-kota utama di China seperti Beijing dan Shanghai selama dua bulan membuat pengiriman barang macet. 

Selain itu, perseteruan Rusia Ukraina telah memperbesar kemacetan logistik yang sudah ada sebelumnya. Hal ini karena Rusia dan Ukraina adalah pemasok komoditas energi dan pangan utama dunia. Sehingga ketika pasokan dari kedua negara macet, dampaknya bisa dirasakan oleh berbagai negara. 

Krisis Keuangan 

Meningkatnya inflasi telah menyebabkan ekspektasi lebih cepat dalam pengetatan kebijakan moneter di seluruh dunia. Imbal hasil obligasi ekonomi telah meningkat secara nyata dan ukuran volatilitas ekuitas telah melihat meningkat, membebani laju aset berisiko. 

Bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserves/The Fed) secara agresif telah meninggalkan era suku bunga rendah. Bulan lalu, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 0,75 - 1 persen. Kemudian diperkirakan pada bulan ini kenaikan suku bunga akan konstan di 50 basis poin. 

Kenaikan suku bunga ini memicu apresiasi dolar AS terhadap mata uang negara berkembang yang lebih besar dari apresiasi terkait taper tantrum 2013. Hal ini membuat pembayaran utang dengan dolar jauh lebih besar nilainya. Secara keseluruhan, kondisi keuangan EMDE telah mencapai level paling ketat mereka sejak awal pandemi, karena selera risiko investor telah dilemahkan oleh konflik di Ukraina, lockdown di Cina, dan suku bunga yang lebih tinggi di negara ekonomi maju. 

Selain AS dan Australia, Bank sentral India menaikkan suku untuk kedua kalinya dalam beberapa bulan terakhir. Ekonomi terbesar ketiga di Asia itu terhuyung-huyung dari inflasi yang melonjak setelah perang di Ukraina. 

Bank sentral India (RBI) menaikkan suku bunga repo utamanya sebesar 50 basis poin (bps) atau setengah poin persentase menjadi 4,90 persen. Kenaikan ini hanya sebulan setelah memulai siklus pengetatan moneter yang agresif dengan kejutan kenaikan 0,4 poin persentase pada Mei 2022. 

"Perang di Eropa masih berlangsung dan kami menghadapi tantangan baru setiap hari," kata Gubernur Bank Shaktikanta Das dalam pidato yang disiarkan televisi pada Rabu (8/6/2022), menunjuk pada harga pangan dan bahan bakar yang lebih tinggi. 

Dia menambahkan, inflasi adalah masalah global. Tetapi negara berkembang menghadapi tantangan yang lebih besar, dengan turbulensi pasar menyusul perubahan kebijakan moneter di negara maju. 

India bangkit kembali dengan kuat dari pandemi virus corona dengan salah satu tingkat pertumbuhan tercepat di dunia. Namun sekarang negara tersebut bergulat dengan kenaikan biaya karena harga komoditas meroket di seluruh dunia. 

Inflasi konsumen secara konsisten melampaui kisaran target 2-6 persen bank sentral dalam empat bulan pertama tahun ini, mencapai level tertinggi delapan tahun di 7,79 persen pada April 2022. 

Perekonomian India telah mengalami kenaikan harga yang tajam secara menyeluruh, termasuk harga makanan dan bahan bakar. Bulan lalu pemerintah melarang ekspor gandum untuk mengendalikan harga setelah gelombang panas menghantam hasil panen lokal. Pejabat juga membatasi ekspor gula untuk melindungi pasokan serta memangkas bea masuk bahan bakar dan minyak nabati untuk menahan pengeluaran konsumen. 

India mengimpor lebih dari 80 persen kebutuhan minyak mentahnya, sementara ketergantungannya meningkat seiring turunnya produksi dalam negeri. Sekitar 1,4 miliar penduduk negara itu terkena dampak kenaikan biaya bahan bakar. 

Harga telah meningkat tajam sejak serangan Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022. Ekonom memperkirakan bahwa kenaikan US$ 10 per barel pada minyak mentah Brent meningkatkan inflasi konsumen di India sekitar 25 bps. 

Kenaikan suku bunga India sebesar 0,4 persen pada Mei 2022 telah mengejutkan pasar, meskipun para ekonom mendukung langkah tersebut sebagai penyeimbang yang diperlukan untuk tekanan inflasi. 

Ekonom Kotak Institutional Equities Suvodeep Rakshit mengatakan bahwa kenaikan Rabu dan perkiraan inflasi sesuai dengan ekspektasi pasar. Saham India berubah bergejolak setelah pengumuman tersebut. Indeks acuan Sensex turun 1 persen sebelum pulih untuk diperdagangkan 0,32 persen lebih tinggi pada tengah hari. 

Bank sentral Chili juga menaikkan suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin menjadi 9,0 persen. Bahkan, bank sentral tidak menutup kemungkinan suku bunga dapat kembali naik guna mengendalikan inflasi. 

Mengutip Reuters , Dewan Moneter Bank Sentral Chili memberikan suara bulat untuk kenaikan suku bunga setelah inflasi tahunan di negara produsen tembaga nomer 1 dunia itu mencapai 10,5 persen pada bulan April. Inflasi tersebut jauh di atas target bank sentral yang hanya 3 persen. 

Bank sentral Chili mengatakan dalam pernyataannya bahwa kebijakan moneter tersebut diambil untuk membawa inflasi ke target karena penyesuaian tambahan dengan besaran yang lebih kecil terhadap tingkat kebijakan moneter akan diperlukan. "Dewan akan tetap memperhatikan evolusi inflasi dan faktor-faktor penentunya karena risiko tetap tinggi, terutama mengingat tingkat inflasi yang tinggi dan peningkatan persistensi," tambahnya. 

Hal yang sama juga dilakukan Bank sentral Ukraina. Negara yang sedang berperang itu telah menaikkan lebih dari dua kali lipat suku bunga menjadi 25 persen ke tingkat tertinggi di negara Eropa. Adapun langkah ini dimaksudkan untuk memperlambat inflasi yang melonjak dan mencegah jatuhnya mata uangnya lebih lanjut setelah invasi Rusia pada Februari. 

Tingkat inflasi telah meningkat menjadi 17 persen di Ukraina dan berada di jalur yang tepat untuk mencapai 20 persen tahun ini. Bank Nasional Ukraina mengatakan kenaikan suku bunga acuan dari 10 persen menjadi 25 persen akan membantu melindungi tabungan warga dari dimakan oleh melonjaknya inflasi. 

Mata uang Ukraina, hryvnia, juga mendapat tekanan berat sejak invasi Rusia, turun tajam nilainya. Bank sentral mengatakan pihaknya berharap kenaikan suku bunga akan meredakan ketegangan itu dan menstabilkan mata uang. 

Ini merupakan kenaikan suku bunga pertama Ukraina sejak perang pecah, dengan bank mengisyaratkan akan bergerak untuk menurunkan suku bunga lagi setelah inflasi kembali terkendali. Lebih dari USD100 miliar kerusakan infrastruktur di kota-kota Ukraina disebabkan oleh tembakan artileri dan serangan udara, menurut Sekolah Ekonomi KIEv, sementara 14 juta warga terpaksa meninggalkan rumah mereka. 

Untuk meningkatkan pertahanan militernya, dan mendukung warga yang kehilangan mata pencaharian, pemerintah dengan cepat meningkatkan pengeluarannya, mendorong defisit anggaran naik 27 persen bulan ke bulan menjadi USS7,7 miliar pada Mei, menurut bank investasi Dragon Capital yang berbasis di Kiev. 

Sekitar 50 persen dari pasokan gas neon dunia, yang penting untuk membuat microchip yang menggerakkan smartphone dan mobil, hanya berasal dari dua perusahaan Ukraina. Selain itu, lebih dari 18 persen ekspor jelai global, 16 persen jagung, dan 12 persen gandum, berasal dari ladang Ukraina. 

"Krisis pangan benar-benar mengancam hingga 1,4 miliar orang yang akan mengalami kekurangan pangan dan bahkan kelaparan di beberapa tempat. Makanan terdampar di Ukraina. Ini menghasilkan 85 juta ton biji-bijian setiap tahun," ujar Koordinator Krisis PBB untuk Ukraina Amin Awad. 

Dengan panen besar lainnya yang akan datang pada Juli dan Agustus tahun ini, Awad memperingatkan bahwa jika gudang biji-bijian yang saat ini penuh dengan makanan tidak dapat dibersihkan, tanaman akan membusuk di ladang karena tidak akan ada tempat untuk menyimpannya. 

Mesir, yang sebelum perang menerima sekitar 80 persen gandumnya dari Rusia dan Ukraina, saat ini mengalami kekurangan, dan memperingatkan bisa mati secara global. 

Sementara itu, di Turki inflasi melonjak ke level tertinggi dalam 24 tahun terakhir yakni sebesar 73,5 persen pada tahun ini hingga Mei. Melonjaknya inflasi ini didorong oleh perang di Ukraina, mata uang yang lemah dan harga energi yang tinggi. Biaya makanan telah meroket sebesar 92 persen selama setahun terakhir di Turki. Yang membuat barang-barang kebutuhan pokok tidak terjangkau bagi banyak orang meskipun ada intervensi pemerintah. (tim redaksi) 

#sukubunga
#kenaikansukubunga
#resesiglobal
#ekonomidunia
#inflasi

Tidak ada komentar