Breaking News

Pentingnya ANC Bagi Ibu Hamil, Deteksi Gangguan Kehamilan Sedini Mungkin

Ibu hamil. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Bagi pasangan suami istri, kehamilan merupakan hal yang membahagiakan. Kondisi kehamilan yang baik, diukur dari keadaan sang ibu maupun janin dalam kondisi sehat.

Itu sebabnya, penting untuk rutin memeriksakan diri ante natal care (ANC) bagi ibu hamil. Saat pemeriksaan ante natal, ibu bisa mengetahui lebih dini terhadap gangguan medis pada kehamilan.

Adapun risiko tinggi yang dapat terjadi pada kehamilan antara lain keguguran, partus macet, perdarahan antepartum, kematian janin dalam kandungan (Intra Uterine Fetal Death), keracunan dalam kehamilan (preeklamsia), eklampsia, bayi lahir belum cukup bulan (premature), dan bayi berat lahir rendah. 

Untuk mencegah kemungkinan terburuk di atas, pada saat kehamilan, para calon ibu sedini mungkin wajib untuk melakukan perawatan ibu dan janin selama masa kehamilan, mencari dan mempelajari berbagi informasi serta edukasi terkait kehamilan dan persiapan persalinan.

Kunjungan ANC pun menjadi kunci. Sebab seringkali para ibu kurang paham mengenai tanda bahaya kehamilan akibat kurangnya kunjungan ANC. 

Kurangnya kunjungan ANC ini dapat menyebabkan bahaya bagi ibu maupun janin, seperti terjadinya perdarahan pada masa kehamilan karena tidak terdeteksinya tanda bahaya. "Berbagai penelitian terkait ANC menyatakan bahwa keberhasilan ANC lebih berarti dapat menyelamatkan nyawa atau menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI). 

Melalui ANC, kesempatan untuk menyampaikan edukasi dan promosi kesehatan pada ibu hamil khususnya bisa dilakukan lebih baik,” ujar Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan Konsultan Fetomaternal Mayapada Hospital Surabaya dr Maurin Susanna, Sp.OG – KFM.

Dia menambahkan, fungsi suportif dan komunikatif dari ANC tidak hanya mampu menurunkan AKI, tapi juga dapat meningkatkan kualitas hidup bagi ibu dan bayi yang akan dilahirkan. "Selain itu, secara tidak langsung kualitas dari pelayanan kesehatan juga ikut meningkat,” imbuhnya.

Salah satu komplikasi dalam kehamilan yang sering timbul adalah preeklamsia, yakni keadaan di mana adanya peningkatan tekanan darah yang hanya terjadi pada saat kehamilan dan dapat menyebabkan komplikasi, termasuk kerusakan pada organ vital, khususnya ginjal dan hati. Preeklamsia sendiri biasanya dimulai setelah minggu ke-20, dan seringkali menimpa ibu hamil yang bahkan sebelumnya tidak memiliki riwayat hipertensi.

"Preeklamsia dapat muncul tiba-tiba. Biasanya ibu hamil tidak menyadari saat tensinya tinggi karena sebelum kehamilan riwayat tensi baik. Maka dari itu, penting untuk dilakukan ANC dan skrining apalagi ibu hamil memiliki faktor risiko atau riwayat kehamilan sebelumnya bermasalah,” imbuh Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan, Konsultan Fetomaternal Mayapada Hospital Jakarta Selatan dr Agustinus Giri Respati, Sp.OG-KFM.

Pemeriksaan USG pada ibu dan bayi sangat penting dilakukan secara berkala selama masa kehamilan. Pada masa awal kehamilan, pemeriksaan USG penting dilakukan karena pemeriksaan dapat menentukan usia kehamilan dan mengetahui kondisi awal janin.

Pada trimester kedua pun, pemeriksaan USG penting juga dilakukan untuk mengevaluasi kemungkinan kelainan anatomi pada janin. Sedangkan pada pemeriksaan di trimester ketiga dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan janin dan posisi janin beserta plasenta atau ari-ari di dalam rahim untuk merencanakan persiapan persalinan.

"Pemeriksaan USG skrining anatomi janin lengkap paling optimal dilakukan pada usia kehamilan 26-28 minggu. Beberapa negara juga menambahkan pemeriksaan kelainan anatomi rutin pada usia hamil 11-14 minggu untuk mengevaluasi kemungkinan kelainan kromosom, contohnya sindroma down atau trisomi 21,” ujar dr Sandhy Prayudhana, Sp.OG-KFM, selaku Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan Konsultan Fetomaternal, Mayapada Hospital Tangerang.

Jika terdeteksi adanya kehamilan dengan risiko tinggi seperti down syndrome atau kelainan kromosom lainnya, maka dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan Konsultan Fetomaternal, Mayapada Hospital Surabaya dr Manggala Pasca Wardhana, Sp.OG – KFM.

Ia mengungkapkan, bahwa pemeriksaan Chorionic Villous Sampling (CVS) di trimester pertama dapat dilakukan saat minggu ke-10 dan ke-12, atau saat pemeriksaan amniosentesis dengan mengambil sampel cairan ketuban pada trimester kedua dengan tujuan untuk menemukan kelainan genetik kromosomal yang terjadi pada janin. 

Ia pun menambahkan bahwa untuk melihat kemungkinan janin memiliki kelainan kromosom juga dapat dilakukan secara invasive melalui pemeriksaan Non Invasive Prenatal Testing/Diagnostic (NIPT/NIPD) yang mengevaluasi DNA janin menggunakan sampel darah ibu.

"Pemeriksaan ini penting dilakukan jika didapatkan kecurigaan kelainan pada janin untuk memperkirakan prognosis luaran janin serta menentukan rencana penatalaksaan yang tepat bagi janin yang akan dilahirkan,” paparnya. (tim redaksi)

#antenatalcare
#anc
#ibuhamil
#pemeriksaanjanin
#kelainanpadajanin
#preeklemsia
#pendarahandimasakehamilan
#kesehatanibuhamil

Tidak ada komentar