Breaking News

Nggak Main-Main, Nilai Impor Alkes dan Vaksin Januari-Juni 2022 Hampir Tembus Rp5 Triliun!

Vaksin. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Sejak pandemi COVID-19 merebak di Tanah Air, obat-obatan, vaksin, suplemen, dan alat kesehatan (alkes) impor membanjiri RI. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) mencatat, nilai impor alat kesehatan (alkes) dan vaksin di dalam negeri selama periode 1 Januari hingga 3 Juni 2022 mencapai Rp4,94 triliun.

Direktur Fasilitas Kepabeanan Bea Cukai Untung Basuki merinci, dari total nilai impor alat kesehatan dan vaksin sepanjang tahun ini yang sebesar Rp4,94 triliun, terdiri dari Rp928 miliar nilai impor alat kesehatan dan Rp4 triliun dari vaksin. "Total seluruhnya untuk alat kesehatan dan vaksin, nilai impornya Rp4,94 triliun," jelas Untung kepada wartawan, dikutip Sabtu (18/6/2022).

Adapun total fasilitas intensif kepabeanan, baik dari fasilitas untuk impor alat kesehatan dan vaksin yang sudah diberikan oleh Kementerian Keuangan, sepanjang 1 Januari - 3 Juni 2022 telah mencapai Rp1,04 triliun. 

Secara rinci, pemanfaatan fasilitas impor penanganan COVID-19 sebesar Rp1,03 triliun yang terdiri dari fasilitas impor vaksin sebesar Rp831 miliar dan fasilitas impor alkes sebesar Rp195 miliar.

Dari total nilai realisasi, impor masih didominasi komoditas vaksin (81,2%) diikuti alat kesehatan (18,8%) seperti obat-obatan, PCR dan oksigen, termasuk tabung oksigen serta alat terapi pernafasan (oxygen concentrator, generator, dan ventilator). "Total importasi vaksin sejak 1 Jan 2022 sampai 3 Juni 2022 sebanyak 53,48 juta dosis," rincinya lagi.

Di sisi lain, insentif impor alkes dan vaksin secara umum akan berlaku sampai 31 Desember 2022, namun masih dapat diakomodir dalam kasus tertentu. Kemudian, untuk pemasukan alkes ke kawasan berikat telah dimanfaatkan oleh 80 perusahaan, dengan nilai devisa insentif sebesar Rp41,25 miliar dan nilai insentif BM (Bea Masuk) dan pajak dalam rangka impor (PDRI) sebesar Rp9,31 miliar.

"Untuk fasilitas PPN impor, untuk alat kesehatan Rp94 miliar dan vaksin Rp405 miliar. PPh 22 impor untuk alat kesehatan Rp 43 miliar, sedangkan vaksin Rp 225 miliar," tambahnya.

"Kita berdoa tidak ada lonjakan kasus, maka kemungkinan besar sampai paling akhir tahun ini, fasilitas ini (insentif pajak) tentu akan dicabut,” tuturnya, terpisah di lain kesempatan.

Adapun, insentif pajak untuk impor alat kesehatan selama pandemi Covid-19 ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 92/PMK.02/2021 dan PMK Nomor 34/2020 tentang Pemberian Fasilitas Kepabeanan dan/ atau Cukai Serta Perpajakan atas Impor Barang untuk Keperluan Penanganan Pandemi Covid-19. Sementara itu, peraturan ini diperpanjang hingga 30 Juni 2022 yang tertuang dalam PMK Nomor 226 Tahun 2021.

Dirinya mengatakan, insentif ini masih berlaku hingga saat ini yang digunakan untuk memfasilitasi impor vaksin, oksigen, konsentrator, hingga masker N95. "Ini masih berlaku sampai sekarang karena PMK-nya tadi masih berlaku dan sekarang sudah taraf pengkajian atau evaluasi," jelasnya.

Jika dibandingkan impor alat kesehatan saat varian Omicron, ternyata tidak sebesar ketika varian Delta merebak. Oleh sebab itu, kebijakan tersebut memang diperlukan kehati-hatian agar tidak salah dalam mengambil keputusan.

Pihaknya juga akan terus memastikan dan mendukung supply ketersediaan alat kesehatan dengan berkolaborasi bersama dengan Kementerian Kesehatan dan BPOM. Sehingga ke depannya Indonesia tidak perlu lagi mengimpor alat kesehatan. (tim redaksi)

#imporalkes
#imporvaksin
#importasi
#covid19
#beadancukai
#insentifcukai

Tidak ada komentar