Breaking News

Makin Cuan, Batu Bara Pepet USD400/ton

Ilustrasi. Foto : net

WELFARE.id-Ketika Rusia mengancam akan membatasi pasokan gasnya ke Eropa, sejumlah negara berusaha keras memastikan kebutuhan energi mereka terpenuhi pada musim dingin ini. 

Salah satu "tombol darurat" yang sedang dipertimbangan negara-negara Eropa adalah menghidupkan kembali pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara. 

Naiknya permintaan global, turut mengerek nilai kapitalisasi pasar emiten tambang batu bara nasional. Emiten emas hitam itu terkerek naik oleh harga si batu hitam yang semakin mendekati USD400/ton pada perdagangan akhir pekan lalu. 

Harga saham 4 produsen batu bara terbesar di Indonesia kompak bergerak di zona hijau pada perdagangan Jumat (24/6/2022). 

Hingga 09.55 WIB, harga saham PT Indika Energy Tbk (INDY) memimpin penguatan dengan apresiasi sebesar 1,97 persen ke Rp1.735/unit.  

Kemudian di posisi kedua ada saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) yang naik 1,36 persen ke Rp2.980/unit. 

Penguatan harga juga dialami oleh saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang naik 0,24 persen dan 0,23 persen. 

Katalis positif datang dari harga batu bara acuan global yang cenderung naik belakangan ini. Harga kontrak batu bara acuan ICE Newcastle ditutup terapresiasi 1,29 persen ke USD397,05/ton kemarin. 

Pemicu kenaikan harga batu bara adalah rencana Eropa untuk kembali beralih ke bahan bakar fosil tersebut. Rencana tersebut merespons krisis energi yang dialami oleh Benua Biru akibat perang Rusia dan Ukraina yang terus berlanjut dan membuat pasokan gas langka. 

Jerman, Italia, Austria dan Belanda kompak memandang penggunaan kembali pembangkit listrik tenaga batu bara sebagai solusi untuk keluar dari krisis energi yang saat ini melanda. 

Kondisi juga diperparah dengan Australia yang juga terancam mengalami krisis energi. Sampai saat ini memang Australia belum melakukan aksi pelarangan ekspor batu bara. 

Namun di tengah tren kebijakan proteksionisme yang dilakukan di banyak negara yang marak saat ini, maka ancaman krisis energi di Negeri Kangguru patut menjadi perhatian. Eropa yang selama ini mendapatkan pasokan energi dari Rusia pun kini harus putar otak untuk mencari suplai pengganti. 

Indonesia sebagai salah satu produsen terbesar dunia berpeluang mengambil pasar Eropa di tengah kondisi seperti sekarang ini. 

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan, terdapat permintaan batu bara Indonesia dari Jerman seiring dengan aksi boikot sejumlah negara di Eropa terkait kegiatan ekspor impor komoditas asal Rusia. (tim redaksi) 

#batubara
#permintaanbatubarameningkat
#saham
#sahambatubara
#sahamyangcuan

Tidak ada komentar